kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 31 Maret 2005

 Ekonomi


BI Intervensi, Rupiah Menguat ke Level 9.493
 

Jakarta (Bali Post) -
Intervensi
yang dilakukan Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Rabu (30/3) kembali menguat ke 9.493/9.503 dari sebelumnya berada di kisaran 9.510/9.530 per dolar AS. Sejak pembukaan hingga penutupan sore, rupiah bergerak menguat di kisaran 9.490/9.540 per dolar AS diduga akibat intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI).

Pelemahan rupiah yang sempat menembus di atas level 9.500 diduga akibat kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) oleh Federal Reverse (Fed) sebesar 25 basis point ke 2,75 persen pada Selasa (22/3) pekan lalu. Pelaku pasar terus memburu dolar merespon kenaikan suku bunga AS dan rencana kenaikan suku bunga SBI.

Tetapi, berkat intervensi dari BI membuat rupiah tidak melemah lebih lanjut.Mengenai intervensi ini diakui sendiri oleh Gubernur BI Burhanuddin Abdullah. Katanya, BI selalu berada di pasar kapapun untuk menjaga agar rupiah tidak terlalu bervolatilitas.

"Kita akan selalu memenuhi dolar. Kalau tidak, pelemahan rupiah akan semakin menurun," katanya. Meski begitu, Burhanuddin menegaskan, karena sistem yang dianut Indonesia adalah floating rate maka yang dijaga adalah fluktuasinya dan bukan pada level tertentu. Stabilitas ini penting untuk mempermudah pemerintah dan dunia usaha merancang segala aktivitas bisnis dan ekonominya.

Pelemahan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini, menurutnya diakibatkan karena banyak perusahaan Jepang di Indonesia yang melakukan repatriasi (pengiriman) keuntungan ke negara asal. Sedangkan faktor kedua adalah adanya kepemilihan asing di dalam rupiah dimana kepemilikan itu, misalnya dalam bentuk saham dijual kemudian kembali dalam bentuk dolar AS.Burhanuddin mengingatkan pasar di Indonesia masih sangat terbatas  yakni antara 300-400 juta dolar AS per hari. Padahal, sebelum krisis bisa mencapai 12 milyar dolar AS.

Keadaan pasar yang sangat tipis ini mengakibatkan rentahnya kalau ada permintaan yang sedikit saja bisa menggerakkan pasar yang cukup besar. Mengenai perkembangan suku bunga SBI, ia mengingatkan adanya peningkatan yang cukup besar dibandingkan lelang terkahir 7,44 persen. Kenaikan ini untuk mengatisipasi ekspektasi inflasi yang berlebih akibat kenaikan BBM awal bulan ini.

Selain itu, pembatalan lelang SUN oleh pemerintah dikhawatirkan dapat meningkatakan likuditas. Jika tidak diserap, Burhanuddin mengkhawatirkan dana itu bisa masuk kemana-mana termasuk pasar uang sehingga melemahkan rupiah. "Karena itu harus ada penyerapan lebih, dengan menaikkan bunga SBI yang cukup besar," kata Burhanuddin.

Dari lantai bursa, indeks komposit BEJ pada perdagangan sesi kedua ditutup melemah tipis 5,173 poin (0,483 persen) ke level 1.065,127 akibat aksi jual lanjutan terhadap beberapa saham. Sedangkan saham ASII, GGRM dan BDMN ditutup menguat. Penurunan indeks ini juga menekan indeks LQ45 ke level 229,942 atau terkikis 1,257 poin (0,544 persen), demikian juga Jakarta Islamic Index turun 1,905 poin (1,130 persen) ke level 166,704.

Kemerosotan harga saham  ini tampak berkurang menyusul publikasi laporan keuangan tahun buku 2004 sejumlah emiten yang relatif bagus dibandingkan tahun 2003. Bahkan beberapa emiten berhasil ditutup menguat menjelang berakhirnya kuartal pertama 2005).

(kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)