BI Intervensi,
Rupiah
Menguat ke Level
9.493
Jakarta (Bali Post) -
Intervensi
yang dilakukan Bank
Indonesia (BI), nilai
tukar
rupiah terhadap
dolar AS,
Rabu (30/3)
kembali
menguat ke
9.493/9.503 dari
sebelumnya
berada
di kisaran
9.510/9.530 per dolar AS.
Sejak
pembukaan hingga
penutupan sore,
rupiah
bergerak menguat
di
kisaran 9.490/9.540 per
dolar AS diduga
akibat
intervensi yang dilakukan
oleh Bank Indonesia (BI).
Pelemahan
rupiah yang
sempat
menembus di
atas level 9.500
diduga
akibat kenaikan
suku
bunga Amerika
Serikat (AS)
oleh Federal Reverse (Fed)
sebesar 25 basis point
ke 2,75
persen pada
Selasa (22/3)
pekan
lalu. Pelaku
pasar
terus memburu
dolar
merespon kenaikan
suku
bunga AS dan
rencana
kenaikan suku
bunga SBI.
Tetapi,
berkat
intervensi dari BI
membuat
rupiah tidak
melemah
lebih lanjut.Mengenai
intervensi
ini
diakui sendiri
oleh
Gubernur BI Burhanuddin
Abdullah. Katanya, BI
selalu
berada di
pasar
kapapun untuk
menjaga agar
rupiah
tidak terlalu
bervolatilitas.
"Kita akan
selalu
memenuhi dolar.
Kalau
tidak, pelemahan
rupiah
akan semakin
menurun,"
katanya.
Meski
begitu, Burhanuddin
menegaskan,
karena
sistem yang dianut
Indonesia adalah floating
rate maka yang
dijaga
adalah fluktuasinya
dan
bukan pada level
tertentu.
Stabilitas
ini
penting untuk
mempermudah
pemerintah
dan
dunia usaha
merancang
segala
aktivitas bisnis
dan
ekonominya.
Pelemahan
rupiah yang
terjadi
akhir-akhir ini,
menurutnya
diakibatkan
karena
banyak perusahaan
Jepang
di Indonesia yang melakukan
repatriasi (pengiriman)
keuntungan
ke
negara asal.
Sedangkan
faktor
kedua adalah
adanya
kepemilihan asing
di
dalam rupiah
dimana
kepemilikan itu,
misalnya
dalam
bentuk saham
dijual
kemudian kembali
dalam
bentuk dolar
AS.Burhanuddin
mengingatkan
pasar
di Indonesia masih
sangat
terbatas yakni
antara 300-400
juta
dolar AS per hari.
Padahal,
sebelum
krisis bisa
mencapai 12
milyar
dolar AS.
Keadaan
pasar yang
sangat
tipis ini
mengakibatkan
rentahnya
kalau
ada permintaan yang
sedikit
saja bisa
menggerakkan
pasar yang
cukup
besar. Mengenai
perkembangan
suku
bunga SBI, ia
mengingatkan
adanya
peningkatan yang cukup
besar
dibandingkan lelang
terkahir 7,44
persen.
Kenaikan ini
untuk
mengatisipasi ekspektasi
inflasi yang
berlebih
akibat
kenaikan BBM awal
bulan
ini.
Selain
itu,
pembatalan lelang SUN
oleh
pemerintah dikhawatirkan
dapat
meningkatakan likuditas.
Jika
tidak diserap,
Burhanuddin
mengkhawatirkan
dana
itu bisa
masuk
kemana-mana termasuk
pasar
uang sehingga
melemahkan
rupiah. "Karena
itu
harus ada
penyerapan
lebih,
dengan menaikkan
bunga SBI yang
cukup
besar," kata
Burhanuddin.
Dari lantai bursa,
indeks
komposit BEJ pada
perdagangan
sesi
kedua ditutup
melemah
tipis 5,173 poin
(0,483 persen)
ke level 1.065,127
akibat
aksi jual
lanjutan
terhadap
beberapa
saham.
Sedangkan saham ASII,
GGRM dan BDMN
ditutup
menguat. Penurunan
indeks
ini juga
menekan
indeks LQ45 ke level
229,942 atau
terkikis 1,257
poin (0,544
persen),
demikian
juga Jakarta Islamic Index
turun 1,905
poin (1,130
persen)
ke level 166,704.
Kemerosotan
harga
saham ini
tampak
berkurang menyusul
publikasi
laporan
keuangan tahun
buku 2004
sejumlah
emiten yang
relatif
bagus dibandingkan
tahun 2003.
Bahkan
beberapa emiten
berhasil
ditutup
menguat menjelang
berakhirnya
kuartal
pertama 2005).
(kmb2)