kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 31 Maret 2005

 Ekonomi


Gagal Terbitkan Obligasi-----

Bukti Pemerintah Kurang Miliki Kredibilitas
 

Jakarta (Bali Post) -
Gagalnya pemerintah menerbitkan Surat Utang (obligasi) Negara (SUN) FR0028, Selasa (28/3) lalu memberi bukti bahwa pemerintah kurang miliki kredibilitas yang digambarkan dari tingginya permintaan yield (bunga). Penilaian tersebut dikatakan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat di Jakarta, Rabu (30/3) kemarin.

Untuk itu, ia mengingatakan pemerintah agar lebih berhati-hati sebelum meluncurkan rencana penerbitan SUN. Meski dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) memuat hal-hal yang baik, tetapi implementasi di lapangan justru datang dari pemerintah sendiri. Akibatnya, antara pelaku usaha dan pemerintah tidak seiya-sekata. "Ini sulit untuk menghadapi persaingan global," tandas Hidayat.

Tidak hanya soal kredibilitas, lanjut dia, saat ini pengusaha masih dihadapi berbagai kendala. Di antaranya, masih banyak terdapat komponen biaya tinggi yang sulit ditekan, termasuk tingkat bunga kredit serta birokrasi yang berbelit. Hal ini masih ditambah lagi dengan perkembangan country risk Indonesia yang tidak menggembirakan.

Selain itu, faktor penghambat bergeraknya dunia usaha adalah soal regulasi dan berbagai peraturan. Dicontohkan Hidayat, program infrastruktur besar-besaran yang sedianya dilaksanakan Maret ini belum sepenuhnya dapat dilaksanakan karena belum adanya perubahan regulasi yang mendukung.

Dari 14 regulasi yang dijanjikan akan diubah, menurut Hidayat baru empat yang selesai karena terkendala prosedur teknis. Jika hal ini dibiarkan dia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang direncanakan 5,5 persen akan sulit tercapai. "Kami kalangan pengusaha sungguh kecewa atas lambatnya deregulasi yang dijanjikan itu," jelas dia.

 

Ekspor Melambat

Sementara itu, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah memprediksikan kegiatan ekspor Indonesia selama 2005 akan tumbuh lebih lambat di kisaran 7-9 persen. Hal ini diakibatkan dari melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan volume perdagangan dunia. "Tetapi angka itu masih relatif tinggi," tegas Gubernur BI Burhanuddin Abdullah saat memaparkan laporan perekonomian Indonesia tahun 2004 di Jakarta, Rabu kemarin.

Ditambahkan Burhanuddin, meski kondisi perekonomian dunia tidak secarah tahun 2004, tetapi dinilai masih kondusif bagi eksportir Indonesia. Baik BI dan pemerintah sendiri telah berkomitmen untuk terus meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global. Upaya yang dilakukan pemerintah antara lain adalah mengurangi ekonomi biaya tinggi dan mendorong investasi di sektor produksi yang berorientasi ekspor. Bersamaan dengan itu, BI tetap menjaga nilai tukar yang kompetitif.

"Kebijakan yang sinkron ini diharapkan mampu meningkatan daya saing eksportir Indonesia," katanya. Peningkatan ekspor juga didorong oleh kepercayaan internasional yang makin meningkat terhadap prospek perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Sementara itu, sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi, kegiatan impor diperkirakan akan tumbuh tinggi di kisaran 22-24 persen. Meski BI sangat berkeyakinan daya saing Indonesia bakal meningkat, tetapi tidak demikian bagi kalangan pengusaha.

(kmb2)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)