Privatisasi
BUMN perlu
Keputusan
Politik
Surabaya (Bali Post) -
Menteri
Negara (Meneg)
Badan
Usaha Milik Negara (BUMN)
Sugiarto
tidak
mau gegabah.
Sebab,
diera pemerintahan
Presiden
Susilo
Bambang Yudoyono,
kementerian BUMN
tidak
ingin jor-joran
untuk
melakukan privatisasi
sebelum
ada kejelasan
tentang
mana BUMN yang boleh
dan
tidak boleh
diprivatisasi.
''Saya
akan merinci
dan
mengelompokkan industri
strategis.
Setelah
ada pengelompokan,
perlu
keputusan politik
atau
persetujuan DPR-RI terlebih
dahulu.
Kalau tidak
ada
payung politik,
saya
tidak akan
melakukan
privatisasi,''
kata
Meneg BUMN Sugiarto,
ketika
berbicara dalam
diskusi ''Tranformasi
Kinerja BUMN'' yang
digelar
di Fakultas
Ekonomi
Universitas Airlangga
(Unair)
Surabaya,
Rabu (30/3)
kemarin.
Sebelum
menjadi
pembicara di
Unair,
Meneg BUMN Sugiarto,
melakukan
sejumlah
kegiatan
di
antaranya di PT PAL
dan
membuka pertemuan
seluruh BUMN yang
ada di
Jatim.
Alasannya, kementerian
BUMN yang membawahi 616
perusahaan
termasuk 158 BUMN
dengan total
aset Rp
1200 trilyun
tidak
mau gegabah
lagi
dalam soal
privatisasi.
Menurut
dia,
langkah mengelompokkan
industri
strategis
dan
perusahaan milik BUMN
ini
dimaksudkan untuk
mencari
kejelasan mana BUMN
yang boleh
dan
tidak boleh
diprivatisasi. ''Mana
industri yang
strategis
dan
tidak bertentangan
dengan
pasal 33 UUD '45 sebelum
melakukan
privatisasi,''
ujarnya.
Untuk
itu,
kata dia,
diperlukan
keputusan
politik
melalui persetujuan
anggota DPR-RI. ''Tanpa
adanya
keputusan politik,
sekali
lagi saya
tidak
berani,'' kilahnya.
Meneg BUMN,
Sugiarto,
kemudian
bercerita
tentang
industri strategis
seperti PT PAL.
Menurut
dia,
produksi kapal yang
dibuat
oleh PT PAL yang notabene
seluruh
karyawannya adalah
tenaga Indonesia.
Karena
itu, kementerian BUMN
memesan 10
kapal
ikan ke PT PAL
untuk
disumbangkan di
Aceh
dan Nias.
Mengapa
kementerian BUMN memesan
kapal
ke PT PAL?.
Ia
menyatakan,
hal itu
disebabkan
atas
dasar hubungan be to
be yang menghasilkan
sinergi
positif. Sebab, PT
PAL selalu
meningkatkan
efisiensi
dan
sinergi positif.
Disamping
itu,
Meneg BUMN juga
berkeinginan
menghapus
persepsi
dimasyarakat
terhadap
ekspansi BUMN yang
tinggi
sekali.
Sambil
menunggu
keputusan
politik,
pihaknya
melakukan
inventarisasi
terhadap
industri
strategis
dan
perusahaan BUMN mana
yang boleh
dan
tidak boleh
diprivatisasi.
Tanpa
adanya keputusan
politik,
kementerian BUMN
tidak
akan melakukan
privatisasi.
(059)
Tingkat
Hunian 60
Persen,
Investor Bangun Lima Hotel
Surabaya (Bali Post) -
Tingkat
hunian hotel
saat
ini diatas 60
persen
membuat daya
tarik
sendiri bagi investor
untuk
berinvestasi. Karena
itu,
pengelola hotel yang
tergabung dalam
Persatuan Hotel
dan
Restoran Indonesia (PHRI)
Jawa Timur (Jatim)
mempersilakan
pemain
baru dibidang
perhotelan
untuk
masuk di
Jatim
khususnya Surabaya.
Penegasan
itu
dikemukakan Ketua
PHRI Jatim, Drs.
Yulianto, MM.,
di Surabaya
Rabu (30/3)
kemarin.
Yulianto, yang
juga
Koordinator kelompok
Inna Simpang Hotel group
di
Jatim ini
menyebut,
sedikitnya
ada lima investor yang
ingin
membangun hotel berbintang
di Surabaya.
Hanya
saja,
Yulianto, belum
bersedia
mengungkapkan
siapa
saja kelima investor
yang akan
membangun hotel
itu. ''Yang
jelas,
kelima investor sudah
mengantongi
izin
dan menyediakan
tanah.
Mereka tinggal
membangun hotel
saja,''
katanya.
Menurut
dia,
belum dibangunnya
hotel itu
karena investor
masih
menunggu kondisi
tingkat
hunian yang bagus.
Karena
itu, saat
ramai
pada Juni
hingga September
diharapkan
para
pemain baru
dibidang
perhotelan
telah
siap.
Disamping
itu,
Yulianto, minta
kepada
managemen Accor
Pasifik Hotel, yang
mengambil
alih Hotel
Mirama
di Jalan
Raya
Darmo untuk
segera
merenovasi. Hotel Mirama
yang berbintang
tiga
dan memiliki 110
kamar
dipastikan berubah
menjadi hotel
bintang
empat dengan
nama Mercury Hotel.
Ia
menyatakan, hotel
dibawah
managemen Accor yang
bintang
tiga bernama Ibis
Hotel, bintang
empat Mercury Hotel
atau
Novotel sedangkan
yang berbintang lima
Sofitel Hotel. ''Saya
dengar,
kelompok Accor
akan
merenovasi hotel Mirama
dengan
cepat,'' ujarnya.
Direnovasinya
Hotel Mirama,
kata
dia, terkait
dengan
tingkat hunian hotel
saat
ini diatas 60
persen.
Terkait dengan
semakin
maraknya persaingan
hotel, Ketua PHRI
Jatim,
Yulianto, menghimbau
agar anggotanya
harus
bersaing untuk
meningkatkan
pelayanan.
''Pemain
baru
silakan masuk
membangun hotel
di
Jatim. Tetapi,
jangan
membanting harga.
Bersainglah
dengan
menawarkan pelayanan,''
kilahnya.
Alasannya,
dengan
harga yang dibanting
akan
merusak tarif
kamar yang
sudah
dibangun lama.
PHRI Jatim yang
memiliki 523
anggota,
kata
dia, sekali
lagi
menghimbau kepada
pemain
baru agar tidak
membanting
tarif
kamar hotel. Tetapi
harus
bersaing pada
tingkat
pelayanan. (059)