Sudah
Saatnya
Pertimbangkan Kerugian
Sosial
BALI
berpacu
mengejar kemegahan
untuk
membuatnya tampak
luar
biasa pesat
dengan
pembangunan yang mengarah
ke metropolitan.
Namun,
pada saat yang
sama,
masyarakat
miskin
terus bertambah.
Kondisi
ini, tak
pelak,
membuat gemas
oleh
kekhawatiran
akan
kehancuran
Bali.
Kegemasan
itu pula
dirasakan
Ketua
Parasparos Made Suryawan.
Dia
pun bertanya,
adakah
para pemimpin
Bali
masih
memikirkan biaya
sosial
budaya yang terus-menerus
dikeluarkan
dan
membuat Bali dan
masyarakatnya
kian ''tenggelam''
dalam
berbagai kekurangan?
Apakah
mereka
hanya berpikir
ekonomis
semata?
Kegemasan
ini
dilontarkan Ketua
Parasparos Made
Suryawan.
Sebagaimana
diberitakan Bali Post,
Senin (21/3)
lalu,
Suryawan menuding
ingar-bingarnya
pembangunan
fisik yang
semata-mata
berorientasi
ekonomis
telah
memicu menurunnya
kualitas
hidup
masyarakat
Bali
dari
waktu ke
waktu.
Menjamurnya
ruko,
minimarket, supermarket dan
hypermarket yang kini
sudah
berdiri di
setiap
sudut Denpasar
dan
Badung, menimbulkan
tanda
tanya,
apakah
piranti kapitalis
itu
memang dibiarkan
untuk
memenuhi
kota
dulu
baru dihentikan
kemudian?
Kecurigaan
pun muncul,
jangan-jangan
transaksi-transaksi
semacam
ini untuk
mengongkosi
berbagai
aktivitas
politik.
Ongkos
sosial dari
pembangunan yang
hanya
mementingkan aspek
ekonomi,
tanpa
dibarengi moralitas,
apalagi
spiritualitas seperti
ini
hanya
akan kian
memiskinkan
masyarakat.
Karena
kenyataannya
pelaku
usahanya umumnya yang
dari
luar dan
kurang
perhatian terhadap
pemberdayaan
ekonomi
masyarakat
Bali.
Bali
harus
memiliki blue print
investasi yang jelas,
dibarengi
dengan
ketegasan pengawasan.
Sebab,
tanpa
arah dan
pengawasan
bisa
saja konsep
berbeda
dengan realisasinya,
di
samping rawan
penyimpangan-penyimpangan
yang pada
gilirannya
menghancurkan
Bali
itu
sendiri.
Pemerintah
daerah
perlu menghentikan
investasi
pada
daerah yang sudah
terlalu
padat investasi,
semisal
Denpasar dan
Badung yang
dikepung
berbagai
pusat
perbelanjaan.
Sedangkan
di
kabupaten lain
masih
lowong.
Oleh
karena
itu, pemerintah
harus
mengarahkan investasi
ke
daerah-daerah yang belum
menikmati
perkembangan,
demi
pemerataan pembangunan.
Sehingga
ke
depan, beberapa
permasalahan yang
saat
ini dihadapi,
seperti
urbanisasi tak
terkendali
dapat
diatasi.
Di
sisi
lain, sudah
saatnya
penguasaan aset-aset
Bali yang dikuasai investor
luar
dihentikan.
Pasalnya,
saat
ini sekitar 85%
dari Rp
150 trilyun total
aset
Bali
dimiliki investor
dari
luar.
Hanya
15% dikuasai
warga
lokal.
Aset-aset
berharga
berupa
tanah
Bali
makin
banyak berpindah
tangan
dan beralih
fungsi,
dari lahan
pertanian
produktif
menjadi
sarana industri
dan
ekonomi yang dimiliki
pihak
luar.
Kekhawatiran
tetap
sebagai kekhawatiran.
Karena
kenyataan yang
ada,
Bali tetap
saja ''terjual''
untuk
dijadikan lahan
bisnis
pihak luar.
Mereka
yang berbisnis
di Bali
hanya berpikir
bahwa
dengan memenuhi
kewajiban
normatifnya
seperti
membayar PHR atau
merekrut
karyawan
lokal,
pengusaha merasa
sudah
cukup.
Padahal,
sepak
terjang bisnisnya
telah
membawa dampak
pada
tata ruang,
lingkungan
hidup
dan lingkungan
sosial
di sekitarnya.
Semua
itu
jelas telah
merongrong
harmoni
dan keutuhan
Bali.
Melihat
kerugian-kerugian
sosial
tersebut sudah
seharusnya
pemerintah
mulai
berpikir ke
depan
untuk menjaga
masyarakat Bali agar
tidak
makin terjerumus
ke
dalam penurunan
kualitas
hidup.
Masyarakat
adat yang
secara
langsung terkena
dampak
dari penurunan
kualitas
hidup
ini harus
diberikan
berperan
dalam
menjaga keutuhan
Bali.
Misalnya,
dalam
pengawasan tata
ruang
di lingkungan
desa
adatnya, pengawasan
pembangunan
sarana
industri dan
perekonomian,
pemberdayaan
ekonomi
kerakyatan setempat
dan lain-lain.
Kita tentu
tidak
ingin keberadaan
Bali
yang telah
terbukti
memberi
keuntungan pihak-pihak
yang berinvestasi
di Bali,
namun
di sisi lain
secara
perlahan tetapi
pasti
menciptakan lubang
besar yang
akan
membuat
masyarakatnya sendiri
terjerembab.
Adakalanya
prioritas
terhadap
pembangunan
fisik
dicurahkan sebesar-besarnya
untuk
mengejar berbagai
ketertinggalan.
Namun,
kini
sudah saatnya
pemerintah
daerah
berpikir lebih
mengarah
pada
pertimbangan yang menekan
hingga
sekecil mungkin
ongkos
sosial dari
pembangunan.
Orientasi
pembangunan yang
hanya
mementingkan aspek
ekonomi,
tanpa
dibarengi moralitas
dan
spiritualitas nampaknya
kini
menjadi keniscayaan
bagi
Bali.
Untuk
itu,
pemerintah bersama
semua
komponen masyarakat,
khususnya
pemegang
kebijakan
politis
dan strategis,
harus
memiliki satu
persepsi
ke arah
menjaga
Bali dan
masyarakat
pendukung
kelangsungan
adat-budaya
dan agama Hindu.