kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 23 Maret 2005

 Bali


Istri Kapolsek Jadi Tersangka 

Singaraja (Bali Post) -
Setelah memeriksa saksi-saksi dalam kasus penembakan Kapolsek Sawan AKP Gede Sukarda, S.H., pihak Polres Buleleng akhirnya menetapkan istri korban, Ni Made Sunu (45), sebagai tersangka tunggal dalam kasus tersebut. Kapolres Buleleng AKBP Andi Loedianto didampingi Kasatreskrim AKP Moghoni di kantornya Selasa (22/3) kemarin menyebutkan, ditetapkannya Sunu sebagai tersangka berdasarkan keterangan tiga saksi yakni anak korban, Komang Novi Satriandini (14), yang saat peristiwa berlangsung sedang bersiap-siap untuk ke sekolah. Saksi lain adalah tetangga korban, Nyoman Surabdi (48), yang saat itu mendengar suara letusan dan Briptu Uecu Setyawan, anggota Polsek Kubutambahan, yang mengambil pistol dari tangan tersangka. Selain itu, tersangka Sunu di hadapan penyidik juga mengakui bahwa dirinya yang menembak suaminya. ''Korban ditembak dengan pistol milik korban saat berganti pakaian di kamarnya,'' kata Kapolres.

Dari keterangan tersangka, bahwa suaminya pada Senin pagi itu datang ke rumahnya untuk mandi. Kedatangan suaminya itu disambut dengan baik, bahkan suaminya itu dibikinkan kopi, lalu dibiarkan mandi. Dan, peristiwa penembakan itu terjadi ketika korban usai mandi. Tersangka mengaku tak ingat beberapa kali dia menembakan pistol. Namun yang jelas, ia terus menembakkan pistol itu ke arah korban hingga pelurunya habis.

Namun, dari olah TKP terungkap kalau penembakan itu terjadi empat kali. Terbukti ditemukannya empat proyektil, masing-masing dua buah di tempat kejadian perkara (TKP) dan dua buah lagi di tubuh korban. Selain itu, dari keterangan saksi Surabdi juga disebutkan bahwa ia saat itu mendengar empat kali letusan.

Bagaimana dengan motif peristiwa pembunuhan itu? Kapolres Loedianto mengatakan, pihaknya belum mengetahui motifnya secara pasti. Yang jelas, dari hasil pemeriksaan tersangka dipastikan bahwa peristiwa itu dipicu masalah rumah tangga. ''Katanya tersangka saat itu membicarakan masalah pembayaran listrik, air dan lain-lain, namun dijawab dengan tidak memuaskan oleh suaminya,'' kata Kapolres.

Tentang adanya infomasi bahwa korban punya wanita idaman lain (WIL) yang membuat tersangka marah, Kapolres belum berani meyakini informasi itu. Menurut Kapolres, memang tersangka Sunu menyebutkan suaminya punya WIL, tetapi ia mengaku tidak yakin bahwa masalah WIL itu dijadikan motif penembakan. ''Mereka sudah pisah ranjang sejak dua tahun lalu, tetapi kenapa baru sekarang masalah itu meledak sampai terjadi penembakan. Mungkin tersangka mengatakan ada WIL agar masalahnya cepat selesai,'' katanya sembari menyebutkan bahwa pihaknya akan terus menyelidiki motif lain dalam kasus tersebut.

Dalam kasus ini, tersangka dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider pasal 338 KUHP  tentang pembunuhan. Ancaman hukuman tersangka adalah maskimal hukuman mati atau seumur hidup. Tersangka kini ditahan di Mapolres Buleleng dengan pengawalan ekstraketat, sementara jenazah korban telah diserahkan kepada pihak keluarga.

 

Ikut Sibuk

 

Ketua Bhayangkari Polres Buleleng Nyonya Andi Loedianto tampaknya ikut sibuk ketika kasus penembakan terhadap Kapolsek Sawan AKP Gede Sukarda ditangani penyidik. Selasa (22/3) kemarin, perempuan cantik ini tampak mendampingi tersangka Made Sunu memasuki ruang suaminya, Kapolres Loedianto.

Apakah sang nyonya melakukan intervensi? "Ah, saya tidak bisa mengintervensi proses hukum terhadap tersangka," katanya setelah keluar dari ruang Kapolres Loedianto.

Menurutnya, bagaimana pun tersangka adalah anggota Bhayangkari. Sebagai pembina Bhayangkari di lingkungan Polres Buleleng pihaknya hanya memberikan motivasi agar tersangka tabah dan tegar menghadapi cobaan dan musibah yang menimpanya. ''Karena siapa pun tak ingin peristiwa seperti ini menimpanya,'' kata Nyonya Andi. (kmb15)

 

 

WIL Itu Perawat

di Renon Denpasar

 

 

NI Made Sunu diduga tak punya niat untuk membunuh suaminya, Sukarda, yang sudah diajak berumah tangga sejak puluhan tahun lalu. Namun, karena kesal dengan kelakuan suaminya yang diketahui punya wanita idaman lain (WIL), maka penembakan itu pun dilakukan secara spontan.

Dugaan itu disampaikan Made Muliadi, S.H. yang ditunjuk oleh penyidik untuk menjadi penasihat hukum tersangka. Dalam keterangannya di Mapolres Buleleng, Selasa (22/3) kemarin, Muliadi mengatakan pembunuhan itu tidak dilakukan tersangka secara berencana. ''Itu perbuatan spontan, setelah korban mengakui dirinya punya WIL,'' katanya. 

Sesuai keterangan yang diperoleh dari tersangka yang anak seorang marinir itu, Muliadi mendapat keterangan bahwa korban memang mengakui dirinya punya WIL seorang perawat yang tinggal di Renon, Denpasar. Namanya Cening Sulastri. Bahkan, disebutkan bahwa WIL itu telah hamil dua bulan. ''Setelah mengakui korban punya WIL, tersangka kesal dan mengambil pistol di lemari ketika korban sedang mandi. Setelah korban mandi itulah terjadi penembakan,'' katanya.

Untuk itu, Muliadi melihat kasus ini adalah pembunuhan biasa, bukan pembunuhan berencana, sehingga pasal yang digunakan seharusnya pasal 338 KUHP, bukan 340 KUHP. Bahkan, jika dari hasil pemeriksaan nanti korban dipastikan meninggal di rumah sakit, maka pasalnya bisa berubah menjadi 351 KUHP, yakni menimbulkan luka yang menyebabkan meninggal. "Untuk itu, saya masih menunggu hasil pemeriksaan aparat yang membawa korban ke rumah sakit," katanya. (kmb15)

 

 

Suka ''Ngayah''

 

BAIK dan buruk memang tak bisa dipisahkan dari diri seseorang, siapa pun dia dan apa pun jabatannya. Meski meninggalnya Kapolsek Sawan AKP Gede Sukarda, S.H. disertai isu yang tak sedap, namun lelaki yang dikenal akrab dengan wartawan ini punya catatan kebaikan yang bisa disebut melimpah. Hampir semua orang menyatakan merasa kehilangan dengan meninggalnya Kapolsek Sawan AKP Gede Sukarda, S.H. yang ditembak oleh istrinya.

Betapa tidak, Sukarda memang dikenal sebagai sosok polisi yang sangat akrab dengan masyarakat dari berbagai kalangan. Di desanya sendiri di Kubutambahan, selain dikenal sering berbaur dengan warga dalam acara ngayah di pura, kerja bakti atau sekadar ngobrol di warung kopi, Sukarda juga dikenal ikut menjadi pengurus adat dan anggota Badan Perwakilan Desa (BPD). ''Saudara saya itu memang pembawaannya santai, sering jalan-jalan sore bercelana pendek bersama warga di sini,'' kata Gede Arcana, salah seorang saudara sepupu Sukarda, yang ditemui di rumah duka di Dusun Kaja Kangin, Kubutambahan, Selasa (22/3) kemarin.

Camat Sawan Gede Witama, S.H. juga tak bisa menyembunyikan rasa kehilangan ditinggal Sukarda. Menurut Witama, selama bertugas di Sawan, ia baru sekali ini menemukan Kapolsek yang pas untuk diajak ngayah di masyarakat. Selain aktif di desa kelahirannya, Sukarda juga sering ikut turun ngayah di desa-desa di Kecamatan Sawan, tempatnya bertugas. Terakhir Witama mengaku bertemu almarhum pada saat hari Nyepi. Saat itu Sukarda menyampaikan kalimat yang diakui sangat menyejukkan hati Pak Camat. Katanya, saat itu Sukarda meminta agar sebagai pejabat kita memang harus aktif ngayah. ''Siapa lagi yang bisa diajak ngayah, kalau bukan kita-kita. Karena teman itu tak bisa dibeli di toko,'' kata Witama menirukan kata-kata almarhum Sukarda.

Bukan hanya itu, hampir seluruh anggota di Polsek Sawan mengaku merasa kehilangan dengan kepergian Sukarda. Apalagi Sukarda dikenal sangat ramah dan akrab dengan anggota. ''Tak ada lagi Kapolsek seakrab itu dengan anggotanya,'' kata seorang anggota Polsek Sawan memuji Sukarda.

Diceritakan, Senin (21/3) pagi sebelum peristiwa mengenaskan itu terjadi, Kapolsek Sukarda sempat ke kantor namun pergi lagi. Kepergiannya Sukarda ternyata ke tempat tinggal istrinya, Made Sunu, di Dunun Kubuanyar, Kubutambahan. Saat itu, Kanitreskrim Iptu Nyoman Supardi sempat meneleponnya untuk membicarakan upacara pemakaman seorang mantan anggota Polsek Sawan (kini bertugas di Polres Badung) yang meninggal di Desa Galungan, Sawan. Upacara pemakaman itu dilaksanakan Selasa (22/3) kemarin. Ketika ditelepon saat itu Sukarda malah memerintahkan agar upacara pemakaman itu ditangani semuanya karena ia menyatakan tak bisa hadir. ''Tekel semuanya, besok saya sudah tak bisa hadir,'' demikian kata Sukarda sebagaimana dikutip salah seorang anggota di Polsek Sawan.

Tanda-tanda aneh sebelum Sukarda pergi untuk selama-lamanya juga tersirat ketika perwira itu menelepon seluruh anaknya agar pulang kampung dan berkumpul di rumah untuk membicarakan masalah rumah tangga. Seperti dituturkan Gede Arcana, saudara sepupu Sukarda. Arcana mengatakan sebelum peristiwa naas itu terjadi, Sukarda sempat menelepon anak-anaknya agar pulang pada hari Senin. Katanya Sukarda ingin membicarakan masalah rumah tangga. ''Sehingga pada Senin itu anak-anak almarhum sudah pada pulang,'' kata Arcana.

Bahkan, Agus Hardika, anak laki-laki almarhum yang bertugas di Gilimanuk sebagai anggota Brimob Polda Bali, sudah dalam perjalanan pulang ketika mengetahui bapaknya mengalami peristiwa mengenaskan tersebut. ''Agus sudah sampai di Seririt ketika menerima telepon tentang peristiwa yang menimpa bapaknya,'' kata Arcana.

Suasana di rumah duka Selasa kemarin tampak masih sepi. Hanya terdapat beberapa keluarga dekat dan warga di sekitarnya yang sedang majejahitan dan memasang tetaring. Menurut Arcana, jadwal upacara pemakaman belum pasti karena harus menunggu koordinasi dengan aparat adat setempat. Apalagi, pada minggu ini sedang digelar upacara di Pura Desa, sehingga jadwal upacara pemakaman harus menunggu setelah upacara ngelebar di Pura Desa. ''Kalau jadwal ngelebar-nya bisa dimajukan, mungkin jadwal pemakaman juga bisa dipercepat,'' katanya. (kmb15)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)