kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 23 Maret 2005

 Bali


Menepis Kesan Negatif Waria   ---

Gelar Potong Rambut Gratis untuk Napi
 

Suasana aula Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Denpasar di Kerobokan, Selasa (22/3) kemarin berubah total. Ratusan penghuni LP terbesar di Bali itu tumpah ruah memenuhi aula setempat. Suasana tersebut sangat berbeda dengan dua hari sebelumnya, saat bentrokan antarnapi terjadi. Kemarin, suasana penuh tawa dan canda mewarnai aula di sana. Ada kegiatan apa?

 

SEJAK pukul 09.30 wita Selasa kemarin, suasana berbeda sudah nampak di sudut-sudut ruang aula LP setempat. Satu per satu narapidana (napi) dan tahanan yang kini menghuni hotel prodeo tersebut menuju aula. Suasana lebih semarak ketika memasuki aula yang cukup luas tersebut. Ratusan kursi telah disediakan oleh petugas setempat. Bahkan, di bagian depan terdapat satu set peralatan sound system yang sudah siap pakai.

Tepat pukul 10.00 wita, giliran sejumlah tamu memasuki LP. Setelah ditelusuri, ternyata para tamu tersebut adalah para waria yang tergabung dalam Yayasan Gaya Dewata. Puluhan waria tersebut langsung menuju aula yang di sana sudah menunggu ratusan napi dan tahanan. Sesampai di sana, para waria ini ternyata menggelar kegiatan yang diperuntukkan bagi para napi dan tahanan.

Kegiatan yang diselenggarakan para lelaki berwajah ayu ini cukup unik, yakni potong rambut massal secara gratis. Tidak kurang dari lima belas orang waria yang memiliki keahlian potong rambut dikerahkan untuk memberikan pelayanan kepada para napi wanita dan laki-laki. Acara ini pun mendapat sambutan yang hangat dari para napi. Hal ini terlihat dari membludaknya para napi yang mendaftar agar bisa potong rambut gratis.

Para waria yang datang ke LP ini ternyata tidak hanya memberikan pelayanan gratis dalam potong rambut. Bagi yang mempunyai keahlian menghibur, diberikan kesempatan menyanyi. "Selain dapat potong rambut, kami juga mendapat hiburan yang lumayan bagus," ujar salah seorang penghuni LP kemarin.

Bukan itu saja kegiatannya. Selain menggelar hiburan, para waria ini juga sempat menggelar kuis yang diselipkan di tengah-tengah acara hiburan. Kuis yang diselenggarakan tersebut lebih banyak terkait dengan HIV/AIDS. Mengingat melalui kuis tersebut, sekaligus bisa digunakan sebagai ajang untuk sosialisasi bahaya HIV/AIDS. "Kalau dengan cara ceramah, kebanyakan orang cepat bosan. Karena itu, kami memilih dengan cara ini," ujar Ketua Program Yayasan Gaya Dewata, I Ketut Yasa Jaya.

Yasa Jaya yang ditemui di sela-sela kegiatan mengakui ada beberapa alasan mengapa pihaknya memilih tempat bakti sosial di LP Kerobokan. Salah satu pertimbangannya, yakni sampai saat ini waria masih dikucilkan oleh sebagian masyarakat. Karena itu, dengan kegiatan yang dilakukan ini, masyarakat dapat mengubah penilaiannya terhadap para waria ini. Sebab, beberapa waria yang kini telah tergabung dalam Yayasan Gaya Dewata telah memiliki keterampilan khusus. Salah satunya, yakni potong rambut dan menghias. "Yang berprestasi untuk bidang olah raga juga ada," jelasnya.

Dalam kegiatan yang dilangsungkan kemarin, ia juga melihat potensi yang dimiliki anggota Gaya Dewata. Potong rambut ini dilakukan tidak lain karena sejumlah waria yang dipimpinnya ini telah memiliki keahlian potong rambut. Keahlian itu diperolehnya setelah yang bersangkutan sempat diberikan pelatihan oleh Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Bali. "Pada intinya, apa yang kami lakukan ini adalah untuk mengurangi kesan negatif terhadap waria. Sebab, sampai saat ini waria masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti ini, kesan negatif waria bisa diminimalkan," harap Yasa kemarin. (ara)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)