Menepis Kesan Negatif Waria ---
Gelar Potong Rambut Gratis untuk Napi
Suasana aula Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA
Denpasar di Kerobokan, Selasa (22/3) kemarin berubah
total. Ratusan penghuni LP terbesar di Bali itu tumpah
ruah memenuhi aula setempat. Suasana tersebut sangat
berbeda dengan dua hari sebelumnya, saat bentrokan
antarnapi terjadi. Kemarin, suasana penuh tawa dan canda
mewarnai aula di sana. Ada kegiatan apa?
SEJAK
pukul 09.30 wita Selasa kemarin, suasana berbeda sudah
nampak di sudut-sudut ruang aula LP setempat. Satu per
satu narapidana (napi) dan tahanan yang kini menghuni
hotel prodeo tersebut menuju aula. Suasana lebih semarak
ketika memasuki aula yang cukup luas tersebut. Ratusan
kursi telah disediakan oleh petugas setempat. Bahkan, di
bagian depan terdapat satu set peralatan sound system
yang sudah siap pakai.
Tepat pukul 10.00 wita, giliran sejumlah tamu memasuki
LP. Setelah ditelusuri, ternyata para tamu tersebut
adalah para waria yang tergabung dalam Yayasan Gaya
Dewata. Puluhan waria tersebut langsung menuju aula yang
di sana sudah menunggu ratusan napi dan tahanan.
Sesampai di sana, para waria ini ternyata menggelar
kegiatan yang diperuntukkan bagi para napi dan tahanan.
Kegiatan yang diselenggarakan para lelaki berwajah ayu
ini cukup unik, yakni potong rambut massal secara
gratis. Tidak kurang dari lima belas orang waria yang
memiliki keahlian potong rambut dikerahkan untuk
memberikan pelayanan kepada para napi wanita dan
laki-laki. Acara ini pun mendapat sambutan yang hangat
dari para napi. Hal ini terlihat dari membludaknya para
napi yang mendaftar agar bisa potong rambut gratis.
Para waria yang datang ke LP ini ternyata tidak hanya
memberikan pelayanan gratis dalam potong rambut. Bagi
yang mempunyai keahlian menghibur, diberikan kesempatan
menyanyi. "Selain dapat potong rambut, kami juga
mendapat hiburan yang lumayan bagus," ujar salah seorang
penghuni LP kemarin.
Bukan itu saja kegiatannya. Selain menggelar hiburan,
para waria ini juga sempat menggelar kuis yang
diselipkan di tengah-tengah acara hiburan. Kuis yang
diselenggarakan tersebut lebih banyak terkait dengan
HIV/AIDS. Mengingat melalui kuis tersebut, sekaligus
bisa digunakan sebagai ajang untuk sosialisasi bahaya
HIV/AIDS. "Kalau dengan cara ceramah, kebanyakan orang
cepat bosan. Karena itu, kami memilih dengan cara ini,"
ujar Ketua Program Yayasan Gaya Dewata, I Ketut Yasa
Jaya.
Yasa Jaya yang ditemui di sela-sela kegiatan mengakui
ada beberapa alasan mengapa pihaknya memilih tempat
bakti sosial di LP Kerobokan. Salah satu pertimbangannya,
yakni sampai saat ini waria masih dikucilkan oleh
sebagian masyarakat. Karena itu, dengan kegiatan yang
dilakukan ini, masyarakat dapat mengubah penilaiannya
terhadap para waria ini. Sebab, beberapa waria yang kini
telah tergabung dalam Yayasan Gaya Dewata telah memiliki
keterampilan khusus. Salah satunya, yakni potong rambut
dan menghias. "Yang berprestasi untuk bidang olah raga
juga ada," jelasnya.
Dalam kegiatan yang dilangsungkan kemarin, ia juga
melihat potensi yang dimiliki anggota Gaya Dewata.
Potong rambut ini dilakukan tidak lain karena sejumlah
waria yang dipimpinnya ini telah memiliki keahlian
potong rambut. Keahlian itu diperolehnya setelah yang
bersangkutan sempat diberikan pelatihan oleh Dinas
Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Bali. "Pada intinya, apa
yang kami lakukan ini adalah untuk mengurangi kesan
negatif terhadap waria. Sebab, sampai saat ini waria
masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat.
Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti ini, kesan negatif
waria bisa diminimalkan," harap Yasa kemarin.
(ara)