kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Wage, 23 Maret 2005

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Konsekuensi Keputusan DPR Soal BBM--

Carikan Solusi Terbaik bagi Rakyat
 

Setelah sempat tertunda beberapa kali dan diwarnai keributan, rapat paripurna DPR yang digelar Senin (21/3) lalu akhirnya berhasil mengambil keputusan menanggapi kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Mayoritas anngota Dewan memilih opsi, pemerintah perlu meninjau Peraturan Presiden No.22 tahun 2005 tentang kenaikan harga BBM melalui pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2005 bersama DPR. Hasil sidang paripurna DPR ini dipandang hanya menyenangkan hati pemerintah. Selain itu banyak pertanyaan yang muncul, misalnya, kenapa sidang ini baru dilakukan? Sikap sejumlah anggota DPR yang meninggalkan sidang, merupakan sikap yang tidak gentle. Mestinya mereka mengutamakan dulu kepentingan rakyat dan mencarikan solusinya. Harga BBM ini tak mungkin lagi bisa diturunkan, apalagi harga barang-barang yang lainnya ikut-ikutan naik. Oleh karena itu, diharapkan kepada pemerintah untuk mencarikan solusi yang terbaik dan kalau memang ada kompensasi BBM harus benar-benar tepat sasaran. Demikian antara lain opini pengunjung Warung Global, Selasa (22/3) kemarin yang disiarkan langsung Radio Global 96,5 FM Kinijani. Acara ini juga dipancarluaskan Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkumannya.

 

 

Nang Tualen di Tegallinggah menyatakan senang juga kalau harga BBM naik. Ia juga mempertanyakan kenapa pemerintah kalah cepat dengan rakyat, harga BBM naik per 1 Maret 2005 sidang baru dihasilkan Senin (21/3) lalu, apalagi diwarnai  keributan di dalam sidang. Dia lebih cenderung setuju dengan opsi yang kelima bahwa pemerintah perlu meninjau kembali Peraturan Presiden No.22 tahun 2005 melalui pembahasan APBN Perubahan tahun 2005 bersama DPR. Sebab, menurutnya, setiap kali ada pergantian presiden pasti selalu ada saja kenaikan harga BBM dan rakyat harus bisa menerima hal ini.

Angga di Denpasar menyatakan bahwa kalau dulu rakyat berharap di negara ini akan terjadi check and balance antara pemerintah dan DPR, namun saat ini kenyataannya sangat menyimpang. Sehingga, ia merasakan zaman sekarang kembali ke yang dulu lagi. Dia pun berharap semoga anggota Dewan yang selalu memperjuangkan nasib rakyat kecil. Angga juga menyatakan sangat kecewa terhadap sikap Dewan yang demikian, setelah harga BBM dan barang naik, anggota Dewan baru melaksanakan sidang. Kemudian terjadi tawar-menawar, seolah-olah keputusan yang diambil oleh DPR ini sudah diperhitungkan. Menurutnya, ada rencana-rencana untuk menggolkan itu semua, dan sepertinya mereka dibayar. Ia juga mengatakan bahwa saat ini kita kembali lagi ke zaman orde baru, seperti sangat susah jika harga BBM diturunkan lagi. Dia juga menyatakan susah sekali menacarikan jalan keluar jika harga BBM diturunkan, karena ia pandang untuk mencari jalan keluarnya sudah terlambat, kenapa tak dari dulu saja?

Made Setiawan di Tabanan menyatakan setuju saja jika harga BBM naik, namun jangan lupakan dana kompensasi BBM yang telah dijanjikan oleh SBY, agar benar-benar tersalurkan. Rakyat kecil masih mengingat janji itu. Namun, ia juga mengkhawatirkan kalau-kalau dana kompensasi BBM itu hanya bisa dinikmati oleh orang-orang mampu saja.

Jero Wijaya di Kintamani menyatakan kesetujuannya dengan pendapat teman-temannya yang lain. Katanya, kalau memang kenaikan harga BBM itu sudah pasti, pemberian dana kompensasi BBM juga harus sampai ke tangan rakyat kecil.

Menurut Ceking di Mengwi, keputusan DPR yang hanya menyenangkan hati pemerintah itu memang benar adanya. Menurut dia, itu hanya lips service, kalau memang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat dan peka mestinya sudah jauh-jauh hari membicarakan hal ini karena isu-isu kenaikan harga BBM sudah ada sebelumnya. Jangan setelah naik baru diadakan pertemuan, sepertinya DPR hanya mencari muka saja. Dia juga berharap pemerintahan yang sekarang jangan cuma melemparkan tanggung jawab kepada pemerintahan yang terdahulu. Dia juga berharap agar rakyat yang mendapat tunjangan raskin per bulannya lebih diitingkatkan. Untuk ke depan, tugas pemerintah adalah membuat anggaran pendapatan dan belanja negara 2005 yang harus sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pande di Pandak Gede memandang bahwa saat ini di tubuh DPR sendiri telah terbelah menjadi dua, yakni PDI-P dan kelompoknya, dan Golkar dan kelompoknya. Hal ini membawa nuansa politis yang sangat kental, tak ada objektivitas mementingkan bangsa dan negara. Masih ada sikap hitam putih dalam menolak kenaikan harga BBM ini. PDI-P menolak kenaikan harga BBM itu dengan beberapa alasan, sedangkan pemerintah mestinya berpikir dua kali apa dampak yang ditimbulkan dengan adanya kenaikan harga BBM ini. Namun, dia melihat ini melulu untuk kepentingan pribadi dan kelompok saja. Sementara Fraksi Partai Golkar dan kelompoknya memilih opsi yang kelima, di mana substansinya itu meninjau kembali peraturan presiden dalam APBNP 2005 bersama DPR, terkesan masih kelabu. Sehingga tidak tegas, dan memang terkesan menyenangkan pemerintah saja.

Goatama di Tampaksiring menambahkan, opsi mana pun yang dipilh tetap saja akan memberatkan rakyat kecil. Rakyat tetap dicekik, sehingga terkesan rakyat diperas dulu baru diberikan kompensasi. Yang paling baik dilakukan pemerintah adalah dimulai dari pengembangan kecamatan dulu baru ke pedesaan, namun masih belum dirasakan maksimal hasilnya oleh masyarakat. Ia juga menanggapi beberapa fraksi yang meninggalkan sidang bahwa itu merupakan suatu kewajaran karena dari beberapa hari mereka telah berjuang sampai gontok-gontokan dan hasilnya tidak diterima.

Menurut Sinda di Siulan, yang diperlukan sekarang ini hanyalah sebuah ketegasan, sedangkan anggota Dewan yang memilih opsi serta yang meninggalkan sidang itu hanya  mencari selamat. Kalau memang punya nyali harus berpegangan pada keinginan rakyat agar harga BBM segera diturnkan. Yang diperlukan sekarang, katanya, adalah wakil-wakil rakyat yang punya nyali dan mau memperjuangkan rakyat.

De Mut di Bangli menyatakan bahwa sangat sulit jika harga BBM turun lagi karena harga barang lainnya juga harus turut turun harganya. Sehingga kalau bisa UMR bagi karyawan dan pegawai saja yang ditinjau, bila perlu ditingkatkan. Ia juga mengharapkan agar pemerintah mengambil langkah itu agar rakyat tak tercekik.

Rai di Tabanan menambahkan, ini merupakan dilema yang sangat sulit untuk dicarikan solusinya. Apalagi ditambah dengan kondisi negara yang seperti saat ini. Ia mengharapkan agar pemerintah, baik dari legislatif maupun eksekutif, tetap berdiskusi, tak usah harus keluar atau walk out.

Wirawan di Denpasar memberikan solusi yang gamblang bahwa yang menjadi intinya adalah masyarakat dari atas sampai bawah diharapkan bisa bersatu untuk mengatasi kasus korupsi. Menurutnya, yang nomor satu harus diperhatikan dulu adalah kepentingan rakyat.

Nang Kantun di Bajera mempertanyakan, kenapa tidak dilakukan langkah yang tegas? Kompensasi BBM ini hanya dirasakan oleh orang yang berduit saja, padahal mereka belum pernah merasakan bagaimana pahitnya menjadi orang miskin. Jadi ia mengharapkan agar para wakil rakyat yang duduk di DPR mengutamakan dulu kepentingan rakyat banyak.

Kadek Kariana di Singaraja menyatakan bahwa inilah kelemahan pemilihan presiden langsung, yang tak mungkin diturunkan karena sudah dipercaya rakyat. Paling tidak rakyat sudah memberikan rekomendasi untuk memilihnya.

Sementara menurut Maria di Sidakarya bahwa apa yang terjadi tak bisa terelakkan lagi karena nasi sudah menjadi bubur, harga BBM tak bisa turun lagi. Maka dari itu jangan mencari kambing hitam dalam hal ini. Banyaknya mahasiswa yang demo pun untuk kepentingan semua rakyat. Yang perlu dipikirkan, menurut dia, adalah bagaimana solusinya, setelah itu bergandengan tangan dan selanjutnya gol atau target bisa dicapai. Kalau ada yang berbeda arah tentu rakyat akan terbengong-bengong. Menurut dia, sebetulnya solusi yang tepat yaitu dari, oleh dan untuk rakyat. Ia juga mengharapkan rakyat jangan putus asa.

Sementara itu, Jujur di Sanglah menyatakan anggota Dewan hanya ribut terus, namun yang ada hanya pergulatan dan omong kosong. Menurutnya, pemimpin tanpa ada uang atau fasilitas pendukung lainnya, roda pemerintahan akan menjadi bengong dan loyo. Dia pun menilai sidang ini lambat dilakukan, kenapa tak dari dulu saja langsung dibicarakan sebelum terjadi kenaikan? Namun sekarang ia harapkan masyarakat tak terkontaminasi oleh politik. Menurutnya, anggota Dewan yang meninggalkan sidang disarankan agar langsung saja keluar dari keanggotaan DPR, recall anggota baru lagi, masih banyak yang mau menjadi anggota Dewan. Presiden pun tak bisa diturunkan oleh DPR karena ia dipilih oleh rakyat secara langsung. Tak ada kewenangan untuk menurunkan. Harapannya ke depan, DPR  tak perlu banyak bicara, kalau cuma koar-koar akan menambah keruh suasana, mestinya lebih pintar menyiasati hal ini karena posisi mereka adalah sebagai badan pengawas. Lebih baik keluar saja dan digantikan oleh generasi yang baru.

Natri Udiyani di Denpasar menyatakan, presiden dan wakil presiden merupakan pilihan rakyat, dan sekarang harga BBM dinaikkan. Ia menyatakan kesetujuannya akan hal itu. Ia malah berkata, naikkan saja harga BBM sampai 100 persen.

* sikha

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)