Mencabut
Subsidi BBM
Istilah
yang paling dimengerti
rakyat jelata
ialah menggunakan
istilah ''bensin''
ketimbang bahan
bakar minyak
atau BBM.
Menaikkan harga
bensin premium telah
membuat rakyat
ketakutan kenaikan
itu akan
berimbas seperti
efek domino, pasti
diikuti oleh
semua kenaikan
harga-harga bahan
pokok, bahan
bangunan, pakaian,
transportasi, perumahan
dan lain-lain.
Sebagian
rakyat jelata
menginginkan pemerintah
lebih jelas
memberikan argumentasi
secara transparan
berapa sebenarnya
ongkos yang ditimbulkan
untuk mendapatkan
minyak mentah
yang ada di
bawah, disedot
sampai ke
atas permukaan
bumi.
Mulai dari
biaya penyedotan,
proses pengilangan
minyak mentah
sampai menjadi
bensin dan
biaya pengangkutan
sampai ke
pompa-pompa bensin.
Komponen-komponen biaya
tersebut dijumlah
lalu akan
menghasilkan beban
biaya yang muncul
per barelnya (1 barrel
= 159 liter).
Sekitar
92% dari minyak
mentah kita
disedot oleh
kontraktor asing
dengan perjanjian
bagi hasil
di mana
pemerintah diwakili
oleh pihak
Pertamina dengan
perbandingan 85% untuk
bangsa Indonesia dan
15% untuk kontraktor
asing. Yang
menjadi keinginan
rakyat jelata
adalah, hendaknya
pemerintah melakukan
audit terlebih dulu
terhadap Pertamina
sebelum menaikkan
harga bensin.
Hal ini
mengingat selama
ini kinerja
Pertamina kurang
memuaskan masyarakat.
Kurang
bijak rasanya
jika kenaikan
harga bensin
awal Maret
ini dipicu
oleh pemikiran
bahwa bensin
premium berharga Rp
1.810 per liter terlampau
murah jika
dibandingkan dengan
harga satu
botol Coca-Cola di
restoran Rp
10.000, bukan berarti
ini bisa
dinaikkan semuanya
walaupun pantas.
Yang menjadi
persoalan adalah,
apakah seluruh
rakyat
Indonesia
memang membutuhkan
Coca-Cola?
Apakah karena
Coca-Cola lebih mahal,
maka bensin
premium begitu saja
dinaikkan padahal
seluruh rakyat
membutuhkan bensin
premium ini ketimbang
Coca-Cola. Apakah kenaikan
harga Coca-Cola menyebabkan
efek domino diikuti
oleh kenaikan
harga-harga sembako?
Ini
adalah sebuah
contoh.
Masyarakat ingin
tahu alasan
jujur pemerintah
menaikkan harga
BBM, sebab era ini
adalah era pemerintahan
rakyat, dari
rakyat, oleh
rakyat dan
untuk rakyat
dan mereka
berhak menanyakan
minyak mentah
di Bumi
Pertiwi tercinta.
Drs.
Nyoman Kandia
Br. Batanancak,
Desa Mas,
Ubud, Gianyar