Rakor Tampaksiring
Lahirkan Tujuh
Rekomendasi
Denpasar
(
Bali
Post) -
Rapat Koordinasi kebudayaan
dan pariwisata
yang dipimpin Presiden
Susilo Bambang
Yudhoyono di
Tampaksiring melahirkan
tujuh rekomendasi.
Rekomendasi dimaksud
nantinya akan
dijabarkan untuk
selanjutnya dilaksanakan
oleh berbagai
instansi pemerintah,
swasta dan
pihak terkait
dalam upaya
memajukan pariwisata
nasional serta
memperteguh karekter
bangsa melalui
kebudayaan.
Demikian
diungkapkan Meneg
Budpar Jero
Wacik dalam
jumpa pers
di ruang
VIP II Bandara Ngurah
Rai Denpasar,
Senin (28/2) kemarin. Saat memberikan
keterangan kepada
para wartawan
Jero Wacik
didampingi Kadiparda
Bali Gede Nurjaya.
Menurut Wacik,
hal ini
merupakan penjelasan
tambahan yang tercecer
dalam penjelasan
sebelumnya kepada
wartawan di
Tampaksiring.
Ketujuh
rekomendasi dimaksud,
pertama, kampanye
budaya positif
akan dilakukan
semua jajaran
pemerintahan khususnya
Kementerian Budpar.
Setiap tahun
akan dilakukan
survai, seberapa
besar masyarakat
Indonesia
yang
berpikiran positif.
Kedua, mengangkat
harkat bangsa
melalui pembuatan
film kolosal. Misalnya
tentang
Borobudur
yang didirikan pada
abad ke-8.
Bagaimana sampai
karya monumental itu
bisa dikaryakan
nenek moyang
kita.
Ketiga,
menawarkan kepada
industri film dunia
agar
Indonesia
dijadikan lokasi
shooting film yang beredar secara
internasional.
Wacik menunjuk
Sumba
dan Sumbaya
dengan sabana
dan kudanya
bisa dijadikan
lokasi film bertema
coboy.
Keempat, merealisasikan
pusat kebudayaan
nasional yang saat
ini belum
ada yang representatif.
Untuk bisa
mewujudkan ini,
tentunya ekonomi
masyarakat
Indonesia
juga perlu
dikembangkan.
Kelima,
mengejar target kunjungan
wisman 6 juta
orang dengan
proyeksi perolehan
devisa 6 milyar
dolar AS. Secara
bertahap juga
diupayakan agar pada
2009 nanti dicapai
target 10 juta wisman.
Untuk menyokong
pencapaian target, secara
bertahap biaya
promosi juga
ditingkatkan. Untuk
tahun ini
pihaknya mengusulkan
18 juta dolar
AS. Kemungkinan besar
DPR-RI akan menyetujui
separuh dari
jumlah itu.
Kendati masih
terbilang kecil,
dana promosi
ini akan
dimanfaatkan seefisien
mungkin.
Keenam,
meningkatkan perjalanan
wisatawan nusantara
(wisnus) dari
204 juta tahun
2004 menjadi 212 juta
tahun 2005, dengan
diproyeksi belanja
Rp 106 trilyun.
Berkaitan dengan
target ini, pemerintah
tidak begitu
saja membebaskan
fiskal ke
luar negeri.
Dalam konsep
Menneg Budpar,
warga
Indonesia
yang
bermaksud berwisata
ke luar
negeri tetap
akan dikenakan
fiskal kendati
nanti misalnya
fiskal pebergian
ke luar
negeri benar-benar
dihapus.
Ketujuh,
revitalisasi pengembangan
pariwisata di
luar
Bali
dan Jawa.
Selama ini
pengembangan pariwisata
banyak terpusat
di Jawa
dan lebih
khusus lagi
di
Bali
sebagai ikon
pariwisata nasional.
Pengembangan pariwisata
di luar
Bali
ini akan
diikuti dengan
pembangunan infrastruktur
serta meningkatkan
aksesibilitas ke
destinasi-destinasi di
luar Jawa.
"Perlu
dicatat bahwa
rapat di
Tampaksiring dengan
ketujuh rekondasi
tadi baru
merupakan awal.
Semua ini
akan segera
dilakukan dengan
tindakan-tindakan. Namun,
pemerintah tak
bisa berjalan
sendiri. Perlu
ada dukungan
dan sokongan
dari masyarakat,"
papar Jero
Wacik. (056)