kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Paing, 1 Maret 2005

 Giliran Anda

 

Libatkan Sulinggih sebagai Penyejuk  

WACANA pilkada yang akan berlangsung pertengahan tahun 2005 ini seakan ditanggapi dingin oleh masyarakat Bali . Kalaupun ada yang sedikit repot dan over acting, itu adalah sebagian tim sukses yang kini sibuk ke-sana kemari ''menjajakan'' jagoannya. Selain itu, isu adanya pengerahan massa yang diembuskan oleh beberapa pihak harus dipertanyakan kebenarannya.

Keamanan dan stabilitas Bali adalah segala-galanya dan tentu harus diutamakan oleh semua pihak, serta menjadi tanggung jawab dari semua masyarakat Bali , terutama warga yang akan menyalurkan hak pilihnya pada pilkada langsung ini.

Bali pernah mempunyai pengalaman buruk mengenai suksesi pemimpin, yakni pada saat kekalahan tokoh idola orang Bali pada pemilihan presiden tahun 1999. Selain itu, juga kerusakan Bali yang hancur ujung-ujungnya akan merugikan masyarakat Bali sendiri. Masyarakat Bali harus merenung dan berkomitmen terhadap keamanan.

Kepolisian adalah yang paling berhak mengatur masalah keamanan dan tentunya jika keadaan krusial dapat meminta bantuan TNI. Tetapi, para calon pemimpin yang akan berlaga, juga KPUD dan pemerintah agar tetap memanfaatkan agama dan adat sebagai tameng dalam keamanan di Bali .

Pembentukan pam swakarsa atau istilah Balinya pecalang untuk mengamankan pilkada akan cenderung tidak netral, terlebih jika si politisi lihai memainkan kartu-kartu politiknya hingga ke tingkat desa adat. Belum lagi puri-puri di Bali yang kini terpecah belah akibat kepentingan politik praktis, belum lagi ada saling klaim di masyarakat bahwa sang calon pemimpin didukung oleh ribuan bahkan puluhan ribu massa . Hal-hal inilah yang harus disadari oleh tim sukses.

Kini, lebih baik kita sebagai masyarakat untuk tetap netral dan baru akan menentukan pilihan di bilik pencoblosan pilkada. Sehingga situasi kondusif dapat dijaga dengan baik dan juga meminimalkan konflik yang ada.

Selain itu penyelenggara pemilihan juga harus eling dan merangkul semua warga dan harus netral, sehingga kinerjanya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Yang juga penting adalah, diharapkan melibatkan sulinggih dalam setiap kesempatan (bukan pada saat kampanye), baik di media maupun di masyarakat untuk memberikan keteduhan dan kesejukan bagi semua masyarakat. Harus diakui bahwa masyarakat Hindu Bali masih sangat hormat terhadap sulinggih, sehingga imbauan moral akan sangat berarti bagi masyarakat.

Teringat pada zaman Mahabharata, pada saat suksesi kepemimpinan di Hastinapura yakni perebutan mahkota raja antara kubu Pandawa dan Korawa, peran para brahmana (sulinggih) sangatlah menenangkan hati rakayt Hastinapura walau jalannya suksesi dihiasi oleh tipu muslihat Korawa. Rakyat Hastinapura yang sedari awal memang mendukung Pandawa akhirnya tetap legowo dan sabar walau raja mereka dibuang ke hutan setelah kalah dalam perebutan tahta secara curang. Hal ini contoh baik yang diberikan pendiri Hindu untuk kita, anak-anak zaman Kaliyuga dalam menjalankan prinsip demokrasi. Sikap sebagai seorang kesatria akan membawa keadaan Bali menjadi lebih baik.

 

The Hindu Center mahendradatta

Direktur,
AA Ngrh Arya Wedakarna MWS, S.E. (MTRU) M.Si.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)