Libatkan
Sulinggih sebagai
Penyejuk
WACANA pilkada yang akan
berlangsung pertengahan
tahun 2005 ini
seakan ditanggapi
dingin oleh
masyarakat
Bali
.
Kalaupun ada
yang sedikit repot dan
over acting, itu adalah
sebagian tim
sukses yang kini
sibuk ke-sana
kemari ''menjajakan''
jagoannya. Selain
itu, isu
adanya pengerahan
massa
yang diembuskan oleh
beberapa pihak
harus dipertanyakan
kebenarannya.
Keamanan
dan stabilitas
Bali
adalah
segala-galanya dan
tentu harus
diutamakan oleh
semua pihak,
serta menjadi
tanggung jawab
dari semua
masyarakat
Bali
,
terutama warga
yang akan menyalurkan
hak pilihnya
pada pilkada
langsung ini.
Bali
pernah mempunyai
pengalaman buruk
mengenai suksesi
pemimpin, yakni
pada saat
kekalahan tokoh
idola orang
Bali
pada pemilihan
presiden tahun
1999.
Selain itu,
juga kerusakan
Bali
yang hancur ujung-ujungnya
akan merugikan
masyarakat
Bali
sendiri.
Masyarakat Bali harus
merenung dan
berkomitmen terhadap
keamanan.
Kepolisian
adalah yang paling berhak
mengatur masalah
keamanan dan
tentunya jika
keadaan krusial
dapat meminta
bantuan TNI.
Tetapi, para
calon pemimpin
yang akan berlaga,
juga KPUD dan
pemerintah agar tetap
memanfaatkan agama dan
adat sebagai
tameng dalam
keamanan di
Bali
.
Pembentukan
pam swakarsa
atau istilah
Balinya pecalang
untuk mengamankan
pilkada akan
cenderung tidak
netral, terlebih
jika si
politisi lihai
memainkan kartu-kartu
politiknya hingga
ke tingkat
desa adat.
Belum lagi
puri-puri di
Bali yang kini terpecah
belah akibat
kepentingan politik
praktis, belum
lagi ada
saling klaim
di masyarakat
bahwa sang calon
pemimpin didukung
oleh ribuan
bahkan puluhan
ribu
massa
.
Hal-hal inilah
yang harus disadari
oleh tim
sukses.
Kini,
lebih baik
kita sebagai
masyarakat untuk
tetap netral
dan baru
akan menentukan
pilihan di
bilik pencoblosan
pilkada. Sehingga
situasi kondusif
dapat dijaga
dengan baik
dan juga
meminimalkan konflik
yang ada.
Selain
itu penyelenggara
pemilihan juga
harus eling
dan merangkul
semua warga
dan harus
netral, sehingga
kinerjanya dapat
dipertanggungjawabkan kepada
publik.
Yang
juga penting
adalah, diharapkan
melibatkan sulinggih
dalam setiap
kesempatan (bukan
pada saat
kampanye), baik
di media maupun
di masyarakat
untuk memberikan
keteduhan dan
kesejukan bagi
semua masyarakat.
Harus diakui
bahwa masyarakat
Hindu Bali masih sangat
hormat terhadap
sulinggih, sehingga
imbauan moral akan
sangat berarti
bagi masyarakat.
Teringat
pada zaman
Mahabharata, pada saat
suksesi kepemimpinan
di Hastinapura
yakni perebutan
mahkota raja antara
kubu Pandawa
dan Korawa,
peran para
brahmana (sulinggih)
sangatlah menenangkan
hati rakayt
Hastinapura walau
jalannya suksesi
dihiasi oleh
tipu muslihat
Korawa.
Rakyat Hastinapura
yang sedari awal
memang mendukung
Pandawa akhirnya
tetap legowo
dan sabar
walau raja mereka
dibuang ke
hutan setelah
kalah dalam
perebutan tahta
secara curang.
Hal ini
contoh baik
yang diberikan pendiri
Hindu untuk kita,
anak-anak zaman
Kaliyuga dalam
menjalankan prinsip
demokrasi. Sikap
sebagai seorang
kesatria akan
membawa keadaan
Bali
menjadi
lebih baik.
The
Hindu
Center
mahendradatta
Direktur,
AA Ngrh Arya
Wedakarna MWS, S.E. (MTRU)
M.Si.