kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Paing, 1 Maret 2005

 Ekonomi


Masyarakat Antre Minyak Tanah
 

Denpasar (Bali Post) -
Belum juga harga BBM dinaikkan, kekosongan stok minyak tanah sudah terjadi. Bahkan, praktik menaikkan harga di atas harga eceran tertinggi (HET) kembali dilakukan sejalan dengan sulitnya masyarakat memperoleh bahan bakar bersubsidi ini.  Berdasarkan pantauan Bali Post, di beberapa pangkalan dan pengecer, Senin (28/2) kemarin, tampak antrean panjang masyarakat yang ingin membeli minyak tanah.

Menurut Merta, salah seorang pembeli minyak tanah di sebuah pangkalan minyak tanah yang terletak di Jl. Kebo Iwa, sulitnya memperoleh minyak tanah ini sudah terjadi sejak dua minggu yang lalu. Kondisi ini diperparah dengan harga jual yang melampaui HET. Sebagai masyarakat yang sangat membutuhkan minyak tanah, Merta mengaku mau tidak mau mesti membayar harga yang dipatok tersebut, meskipun dia tahu harga tersebut melebihi HET. ''Saya membeli dengan harga Rp 1.000/ltr padahal di papan sudah tercantum bahwa harga untuk 1 liter minyak tanah Rp 900,'' katanya.

Keluhan yang sama juga dilontarkan beberapa konsumen yang tampak antre di pangkalan-pangkalan minyak tanah. Rata-rata mereka mengaku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap tingginya harga bahan bakar yang sudah disubsidi pemerintah ini. Bahkan, dari para konsumen ini diketahui bahwa jatah yang tadinya 10 liter/orang kini dikurangi menjadi 5 liter. Alasan terhadap pengurangan jatah pembelian minyak tanah ini tidak lain disebabkan sering kosongnya stok minyak tanah di beberapa pangkalan maupun pengecer.

Wayan Budi, seorang penjual yang bertugas di pangkalan minyak tanah rayon I Soegiarti, mengatakan pihaknya memang menjual minyak seharga Rp 1.000/liter. Dia beralasan kenaikan sebesar Rp 100 dari harga yang semestinya dijual oleh pangkalan disebabkan alat penakar yang digunakan untuk mengambil minyak tanah ini volumenya 5,5 liter. Sehingga untuk memudahkannya setiap kali pembelian, konsumen membayar Rp 5.000 untuk 5,5 liter. Setiap harinya Budi mengatakan memperoleh 10 drum minyak tanah dari Pertamina dan dalam waktu 2 jam sudah habis terjual.

 

Mobil Tangki Terlambat

 

Sementara itu di tempat terpisah, ketika dimintai konfirmasinya, Humas Pertamina Unit Pemasaran V Denpasar Nyoman Sumarjaya menolak sulitnya memperoleh minyak tanah tersebut dianggap kelangkaan. Dia beralasan kesulitan yang saat ini dialami masyarakat tidak lebih dari adanya keterlambatan mobil tangki. ''Masak sampai ada antrean? Pasti itu karena keterlambatan mobil tangki saja,'' katanya. Dia berharap kelangkaan minyak tanah yang sempat terjadi berkali-kali di Bali tidak lagi terulang.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengemukakan bahwa sampai saat ini kuota minyak tanah untuk tahun 2005 belum juga keluar. Sementara kuota belum dikeluarkan pusat, pihaknya masih menggunakan kuota untuk tahun 2004 hingga akhir Maret. Terkait sudah keluarnya kuota di Jawa Timur yang juga termasuk dalam wilayah UPms V, dia mengaku sudah mengetahuinya. Dia berharap berkurangnya kuota di Jawa Timur tidak terjadi di Bali karena kebutuhan minyak tanah Bali selama ini cukup besar. (kmb18)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)