Masyarakat Antre Minyak Tanah
Denpasar
(Bali Post) -
Belum juga harga BBM dinaikkan, kekosongan stok minyak
tanah sudah terjadi. Bahkan, praktik menaikkan harga di
atas harga eceran tertinggi (HET) kembali dilakukan
sejalan dengan sulitnya masyarakat memperoleh bahan
bakar bersubsidi ini.
Berdasarkan pantauan Bali Post, di beberapa
pangkalan dan pengecer, Senin (28/2) kemarin, tampak
antrean panjang masyarakat yang ingin membeli minyak
tanah.
Menurut
Merta, salah seorang pembeli minyak tanah di sebuah
pangkalan minyak tanah yang terletak di Jl. Kebo Iwa,
sulitnya memperoleh minyak tanah ini sudah terjadi sejak
dua minggu yang lalu. Kondisi ini diperparah dengan
harga jual yang melampaui HET. Sebagai masyarakat yang
sangat membutuhkan minyak tanah, Merta mengaku mau tidak
mau mesti membayar harga yang dipatok tersebut, meskipun
dia tahu harga tersebut melebihi HET. ''Saya membeli
dengan harga Rp 1.000/ltr padahal di papan sudah
tercantum bahwa harga untuk 1 liter minyak tanah Rp
900,'' katanya.
Keluhan
yang sama juga dilontarkan beberapa konsumen yang tampak
antre di pangkalan-pangkalan minyak tanah. Rata-rata
mereka mengaku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap
tingginya harga bahan bakar yang sudah disubsidi
pemerintah ini. Bahkan, dari para konsumen ini diketahui
bahwa jatah yang tadinya 10 liter/orang kini dikurangi
menjadi 5 liter. Alasan terhadap pengurangan jatah
pembelian minyak tanah ini tidak lain disebabkan sering
kosongnya stok minyak tanah di beberapa pangkalan maupun
pengecer.
Wayan
Budi, seorang penjual yang bertugas di pangkalan minyak
tanah rayon I Soegiarti, mengatakan pihaknya memang
menjual minyak seharga Rp 1.000/liter. Dia beralasan
kenaikan sebesar Rp 100 dari harga yang semestinya
dijual oleh pangkalan disebabkan alat penakar yang
digunakan untuk mengambil minyak tanah ini volumenya 5,5
liter. Sehingga untuk memudahkannya setiap kali
pembelian, konsumen membayar Rp 5.000 untuk 5,5 liter.
Setiap harinya Budi mengatakan memperoleh 10 drum minyak
tanah dari Pertamina dan dalam waktu 2 jam sudah habis
terjual.
Mobil
Tangki Terlambat
Sementara
itu di tempat terpisah, ketika dimintai konfirmasinya,
Humas Pertamina Unit Pemasaran V Denpasar Nyoman
Sumarjaya menolak sulitnya memperoleh minyak tanah
tersebut dianggap kelangkaan. Dia beralasan kesulitan
yang saat ini dialami masyarakat tidak lebih dari adanya
keterlambatan mobil tangki. ''Masak sampai ada antrean?
Pasti itu karena keterlambatan mobil tangki saja,''
katanya. Dia berharap kelangkaan minyak tanah yang
sempat terjadi berkali-kali di Bali tidak lagi terulang.
Dalam
kesempatan tersebut, dia juga mengemukakan bahwa sampai
saat ini kuota minyak tanah untuk tahun 2005 belum juga
keluar. Sementara kuota belum dikeluarkan pusat,
pihaknya masih menggunakan kuota untuk tahun 2004 hingga
akhir Maret. Terkait sudah keluarnya kuota di Jawa Timur
yang juga termasuk dalam wilayah UPms V, dia mengaku
sudah mengetahuinya. Dia berharap berkurangnya kuota di
Jawa Timur tidak terjadi di Bali karena kebutuhan minyak
tanah Bali selama ini cukup besar. (kmb18)