Dari
Warung
Global Interaktif
Bali Post
Cegah
Konflik Pilkada,
Kurangi Fanatisme
Berlebihan
Setelah
sukses melewati
pemilu yang lalu,
kini kita
melangkah untuk
pemilihan kepala
daerah (pilkada)
secara langsung
untuk pertama
kalinya.
Direncanakan
pada 16 Juni
2005 pilkada
langsung serentak
dilaksanakan
di Bali yakni
Tabanan, Denpasar,
Badung, Karangasem,
dan Bangli.
Melihat terbatasnya
waktu, apalagi
baru turunnya
PP No. 6 tahun
2005 tentu menimbulkan
keraguan, apakah
pilkada dapat
berjalan lancar
dan terhindar
dari konflik.
Sehingga ada
kekhawatiran
pelaksanaan pilkada
akan diiringi
pula oleh konflik.
Kekhawatiran boleh-boleh
saja, tetapi
belum tentu
juga hal
itu terjadi.
Sekalipun terjadi,
mungkin akibat
kesalahpahaman,
atau karena
ulah para
elite politik
sendiri.
Untuk mencegah
terjadinya konflik
dalam pelaksanaan
pilkada nanti,
masyarakat hendaknya
bisa menahan
diri dan
mengurangi fanatisme
berlebihan.
Demikian antara
lain pendapat
yang disampaikan
dalam acara
Warung
Global, Senin
(28/2) kemarin.
Acara ini
disiarkan
Radio Global 96,5
FM Kinijani.
Acara ini
juga dipancarluaskan
Radio Genta Swara
Sakti Bali dan
Radio Singaraja
FM. Berikut rangkuman
selengkapnya.
Nang
Tualen di
Tanah
Lot
mengatakan tidak
setuju apabila
dikatakan pada
pilkada ada
konflik, kalaupun
terjadi itu
hanya kesalahpahaman,
jadi jangan
dipanas-panasi.
Sementara
Mako di
Denpasar menyatakan
bahwa sah-sah
saja, karena
banyak pihak
yang memprediksikan
demikian.
Namun, dia
berdoa semoga
pilkada berjalan
aman, sehingga
memperoleh pemimpin
yang mampu memimpin,
bukan bermimpi.
KPUD dengan perangkatnya
agar melangkah
sesuai fungsinya
karena dengan
demikian maka
kepercayaan masyarakat
akan muncul.
Wayan
Sudira di
Gianyar menyatakan
tidak benar
terjadi konflik.
Kalaupun terjadi
ini hanya
karera ulah
elite politik
sendiri.
Dia mengharapkan
kepada masyarakat
agar mengurangi
fanatisme
yang berlebihan.
Made
Karya mengharapkan
agar disikapi
dengan bijak
dan kritis.
Diharapkan tidak
ada yang salah.
Dia juga
mempertanyakan,
apakah manajemen
dan sistemnya
sudah transparan,
luber, jurdil
dan merakyat?
Sehingga diharapkan
agar dibuatkan
tim yang independen.
Gung
Derah di
Denpasar mengajak
melihat apa
penyebab konflik.
Karena konflik
bisa muncul
akibat tidak
adanya koordinasi,
komunikasi, konsolidasi,
impolarisasi.
Sehingga diharapkan
yang mengatur
pelaksanaan pilkada
memasang aturan
main yang benar.
Dia menambahkan,
konflik sebenarnya
perlu karena
merupakan dinamika.
Namun, diharapkan
jangan sampai
konflik terjadi
karena pihak
ketiga, misalnya
keterlibatan
oknum-oknum
TNI dan kepolisian.
Gusar
di Denpasar
yakin konflik
bisa terjadi
jika elite politik
bermain turun
ke masyarakat
seperti adu
ayam.
Jadi masyarakat
diminta untuk
belajar dari
pengalaman
yang lalu.
Sementara
Mudi di
Buleleng meyakini
tidak akan
ada konflik
karena rakyat,
biasanya konflik
terjadi karena
ulah preman
pendukung calon
kepala daerah
tersebut.
Bonet
di Tabanan
menyatakan, konflik
tidak akan
terjadi, tergantung
juri yakni
KPUD apakah mau
bekerja dengan
hati nurani.
Jika tidak,
apalagi berpihak
kepada satu
kontestan, maka
kemungkinan konflik
akan terjadi.
Nuarta
di Denpasar
memperkirakan
akan terjadi
konflik-konflik
kecil karena
tatanan aturan
yang dikeluarkan
pusat (Mendagri)
sangat lambat.
Demikian juga
aturan pilkada
sesuai UU
No. 32 tahun
2004, KPUD harus
bertanggung jawab
kepada DPR.
Tentu hal
ini juga
dapat menimbulkan
konflik serta
aturan sanksi
yang tidak jelas
bagi birokrat
yang turut serta
dalam pilkada.
Prianus
di Denpasar
menyatakan, karena
yang dipilih
hanya satu,
diharapkan setiap
orang agar menyadari
bahwa pilihan
seseorang harus
dihargai karena
itu adalah
wujud implikasi
kebebasan memilih.
*
panca