Media Internasional tak "Fair" Beritakan Indonesia
Denpasar (Bali Post) -
Kepariwisataan Indonesia banyak dirugikan oleh
pemberitaan media internasional yang cenderung hanya
menyajikan sisi gelap negeri ini, tanpa diimbangi
publikasi hal-hal positifnya. Karena itu,
masyarakat Indonesia berharap media-media berpengaruh
dunia agar lebih fair memberitakan tentang Indonesia.
Harapan ini dilontarkan Meneg Budpar Jero
Wacik di depan wartawan internasional World
Tourism Organization di Hotel Discovery Kartika Plaza
Bali, Sabtu (26/2). Grup wartawan internasional WTO yang
berkunjung ke Bali dan Yogyakarta itu berjumlah sembilan
orang. Saat ini mereka tercatat berasal dari media
pariwisata terkemuka dunia dengan reputasi
internasional.
Pernyataan Jero Wacik ini menanggapi
salah seorang dari peserta Joint Press Trip yang
menanyakan bagaimana pemerintah Indonesia meng-counter
berbagai pemberitaan yang mencitrakan negeri ini buruk
di mata dunia. Antara lain sebagai sarang teroris,
negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia serta
kurang concern terhadap lingkungan yang ditandai dengan
pencurian kayu (ilegal loging).
Tanpa menepis berbagai realitas yang
diberitakan itu, Meneg Budpar menjelaskan, masih banyak
hal baik di Indonesia yang mengharumkan. Di sini banyak
sekali event-event kebudayaan dan kesenian yang
menggambarkan tingginya peradaban bangsa. Di Tanah Air
yang dikenal multi etnik ini juga bisa disaksikan
kekayaan flora dan faunanya serta keindahan alam
tropisnya yang luar biasa. "Namun yang diberitakan ke
luar hanya yang jelek-jelek saja," gugat Jero Wacik
sembari menuding sebuah jaringan TV internasional.
Ia menilai, media internasional tidak
fair memberitakan Indonesia. Secara terus-terang, dalam
suatu wawancara dengan suatu stasiun TV internasional
yang dikenal banyak ditonton manusia, Jero Wacik
mengajukan protes. Kebetulan stasiun TV tersebut juga
menayangkan iklan promosi pariwisata Indonesia. Namun,
ketika stasiun tersebut banyak yang memberitakan hal-hal
minus di Indonesia, promosi menjadi kontraproduktif.
Oleh karena itu, Menneg Budpar menegaskan agak meninjau
kembali kontrak penayangan iklan dimaksud.
Para jurnalis yang berjumlah 9 orang itu
masing-masing 5 orang dari Madrid, 2 orang dari London,
sementara dari Moscow dan Milan (Italia) masing-masing
satu orang. Kepada pemerintah Indonesia melalui Jero
Wacik mereka menyampaikan sejumlah masukan. Antara lain
kurangnya representatif kepariwisataan Indonesia di luar
negeri. Tugas-tugas kepariwisataan tak bisa diserahkan
kepada para diplomat kita di luar negeri, karena mereka
umumnya tidak cukup memiliki pengetahuan tentang
tourism.
Progran Joint Press Trip ini merupakan
salah satu implementasi dari hasil kesepakatan WTO
Emergensy Task Force Meeting yang digelar 31 Januari
lalu. Program ini juga merupakan rekomendasi Emergency
Session of the WTO Executive Council pada 1 Pebruari
2005. Acara yang digelar di Pukhet, Thailand ini
dihadiri negara-negara yang terkena bencana tsunami
termasuk Indonesia serta Dewan Eskekutif Council yang
berjumlah 29 negara. Kehadiran para wartawan WTO di
Indonesia sebagai bagian dari kampanye memulihan
pariwisata pasca-tsunami di Aceh.
(056)