kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 28 Pebruari 2005

 Pariwisata


Media Internasional tak "Fair" Beritakan Indonesia
 

Denpasar (Bali Post) -
Kepariwisataan Indonesia banyak dirugikan oleh pemberitaan media internasional yang cenderung hanya menyajikan sisi gelap negeri ini, tanpa diimbangi publikasi hal-hal positifnya. Karena itu,  masyarakat Indonesia berharap media-media berpengaruh dunia agar lebih fair memberitakan tentang Indonesia.

Harapan ini dilontarkan Meneg Budpar Jero Wacik di depan  wartawan internasional World Tourism Organization di Hotel Discovery Kartika Plaza Bali, Sabtu (26/2). Grup wartawan internasional WTO yang berkunjung ke Bali dan Yogyakarta itu berjumlah sembilan orang. Saat ini mereka tercatat berasal dari media pariwisata terkemuka dunia dengan reputasi internasional.

Pernyataan Jero Wacik ini menanggapi salah seorang dari peserta Joint Press Trip yang menanyakan bagaimana pemerintah Indonesia meng-counter berbagai pemberitaan yang mencitrakan negeri ini buruk di mata dunia. Antara lain sebagai sarang teroris, negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia serta kurang concern terhadap lingkungan yang ditandai dengan pencurian kayu (ilegal loging).

Tanpa menepis berbagai realitas yang diberitakan itu, Meneg Budpar menjelaskan, masih banyak hal baik di Indonesia yang mengharumkan. Di sini banyak sekali event-event kebudayaan dan kesenian yang menggambarkan tingginya peradaban bangsa. Di Tanah Air yang dikenal multi etnik ini juga bisa disaksikan kekayaan flora dan faunanya serta keindahan alam tropisnya yang luar biasa. "Namun yang diberitakan ke luar hanya yang jelek-jelek saja," gugat Jero Wacik sembari menuding sebuah jaringan TV internasional.

Ia menilai, media internasional tidak fair memberitakan Indonesia. Secara terus-terang, dalam suatu wawancara dengan suatu stasiun TV internasional yang dikenal banyak ditonton manusia, Jero Wacik mengajukan protes. Kebetulan stasiun TV tersebut juga menayangkan iklan promosi pariwisata Indonesia. Namun, ketika stasiun tersebut banyak yang memberitakan hal-hal minus di Indonesia, promosi menjadi kontraproduktif. Oleh karena itu, Menneg Budpar menegaskan agak meninjau kembali kontrak penayangan iklan dimaksud.

Para jurnalis yang berjumlah 9 orang itu masing-masing 5 orang dari Madrid, 2 orang dari London, sementara dari Moscow dan Milan (Italia) masing-masing satu orang. Kepada pemerintah Indonesia melalui Jero Wacik mereka menyampaikan sejumlah masukan. Antara lain kurangnya representatif kepariwisataan Indonesia di luar negeri. Tugas-tugas kepariwisataan tak bisa diserahkan kepada para diplomat kita di luar negeri, karena mereka umumnya tidak cukup memiliki pengetahuan tentang tourism.

Progran Joint Press Trip ini merupakan salah satu implementasi dari hasil kesepakatan WTO Emergensy Task Force Meeting yang digelar 31 Januari lalu. Program ini juga merupakan rekomendasi Emergency Session of the WTO Executive Council pada 1 Pebruari 2005. Acara yang digelar di Pukhet, Thailand ini dihadiri negara-negara yang terkena bencana tsunami termasuk Indonesia serta Dewan Eskekutif Council yang berjumlah 29 negara. Kehadiran para wartawan WTO di Indonesia sebagai bagian dari kampanye memulihan pariwisata pasca-tsunami di Aceh. (056)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)