Terkait
Insiden Surabaya, DPP PDIP
Rapat
Khusus
Jakarta (Bali Post)-
Dewan
Pimpinan
Pusat PDI
Perjuangan
segera
menggelar rapat
khusus
terkait insiden
kericuhan
di Surabaya.
Rapat
ini
digelar guna
menarik
akar masalah
dan
sekaligus menyelesaikan
persoalan
dari
sisi organisasi.
Demikian
penjelasan
Wasekjen PDIP
Jacobus
Mayong Padang
di Jakarta,
Minggu (27/2)
kemarin.
''Kami
sangat prihatin
melihat
insiden di Surabaya
itu.
Peristiwa
yang terjadi
karena
komunikasi yang terputus
sehingga
terjadi
kesalahpahaman," tegas
Jacob mengurai
terjadinya
insiden
tersebut.
Di
Surabaya, akhir
pekan
lalu, Sukowaluyo
Mintorahardjo
bersama
Postdam Hutasoit
dengan
menggandeng kader
PDIP di Surabaya
menggelar
Gerakan
Pembaruan PDIP.
Direncanakan
acara
tersebut dihadiri
Guruh
Soekarnoputra. Guruh
akan
dikukuhkan
sebagai
salah satu
calon
alternatif ketua
umum PDIP,
selain Mega.
Namun,
saat
acara berlangsung,
sejumlah
kader
pendukung Mega meminta
acara
dibubarkan.
Bahkan,
Sukowaluyo
sempat
diludahi. Akibat
kasus
ini,
Guruh
batal tampil.
Sukowaluyo
sendiri
mengancam
akan
melaporkan
kasus
tersebut ke
polisi.
Jacobus
menilai, kasus
tersebut
lebih
bermuara pada
kasus
perebutan
kekuasaan,
kedudukan.
Ia
mengatakan,
elemen-elemen
partai
lebih mempertahankan
kedudukan
bukan
esensi perjuangan
partai.
Dia melihat,
sebaiknya
kasus
itu diselesaikan
secara
baik-baik.
Kedua
pihak
diminta duduk
kembali
dan membicarakan
akar
persoalannya.
Bahwa
gerakan
itu hadir
bukan
semata-mata untuk
mendongkel Megawati.
''Sementara
orang yang
mengaku
mencintai Mega memahami
gerakan
itu sebagai
usaha
mendongkel Mega," katanya.
Perbedaan
pendapat
itu
sesuatu yang wajar
dalam
demokrasi.
Jacob melihat,
kesalahpahaman
itu
akibat partai
tidak
mengelola
organisasi
ini
dengan baik. PDIP
lebih
memanjakan kultur
kader
sehingga menyebabkan
terjadinya
kultus
terhadap
individu.
Padahal,
ke
depan, seharusnya,
kader
itu harus
bisa
menyeimbangkan antara
mencintai personal
dengan
partainya. Dengan
begitu,
partai
akan tetap
berdiri
tegak meski
personalnya
sudah
tidak ada.
''PDIP memang
tidak
efeksi melakukan
pembinaan
kaderisasi,''
terangnya.
Selain
hal-hal
tersebut, Jacobus
berpandangan,
insiden
di Surabaya itu
terjadi
karena banyaknya
kelompok
Nasiomanis (Nasionalis,
pragmatis,
dan
oportunis).
Kelompok
ini
hampir menguasai PDIP
sekarang
ini.
Akibatnya,
perjuangan
partai
menjadi terdistorsi.
Kelompok
lainnya,
yaitu
Nasinalis (nasionalis,
ideologis)
terpinggirkan.
''Makanya,
saya
melihat, kongres PDIP
di Bali
nanti harus
bisa
mengembalikan ruh
dan
karakter PDIP," tuturnya.
Sementara
itu,
orang dekat Megawati,
Pramono
Anung enggan
memberikan
komentar
atas
peristiwa ini.
Katanya,
sudah
banyak penolakan
atas
gerakan pembaruan
tersebut
di
sejumlah daerah,
seperti
Bandung
dan
Jatim.
Tetapi,
''Mereka
masih
tetap berani,''
katanya.
Sukowaluyo
Mintorahardjo
mematikan
teleponnya
ketika
dimintai rencana
memidanakan
sejumlah
kader PDIP Surabaya yang
mengacaukan
acara
tersebut.
(kmb7)