kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 28 Pebruari 2005

 Nusantara


Tarik Ulur Kenaikan Harga BBM---
Jaminan Pemerintah masih Ditunggu-tunggu
 

Sejak awal, Susilo Bambang Yudhoyono dikenal sebagai orang dengan tipikal safety player. Dan, kini terbukti dengan tarik ulur kenaikan harga BBM. Justru kenaikan harga tersebut dijadikan isu publik oleh pemerintah. Akibatnya, harga BBM tidak juga dinaikkan, tetapi dampaknya sudah dirasakan rakyat, yakni seluruh bahan kebutuhan hidup lebih dulu naik beberapa kali.
 

PUBLIK tidak akan lupa isu kenaikan harga BBM awalnya diumumkan oleh Wapres Jusuf Kalla. Kalla menyebut angka 40% sebagai angka maksimal bila pemerintah jadi menaikkan harga BBM. Kalla sudah memegang konsep kenaikannya, berapa persentase wajar yang harus dinaikkan dan persentase yang tak mungkin diambil pemerintah. Termasuk, apa langkah pemerintah bila kenaikan itu dilakukan, yaitu dengan memberikan kompensasi subsidi BBM ke sejumlah sektor.
Cuma, pemerintah belum transparan dan terang benderang bagaimana distribusi itu disalurkan. Pemerintah juga belum menjamin, apakah distribusi itu tidak bocor di tengah jalan dan apakah kompensasi itu benar-benar tepat sasaran. Jaminan itulah yang diminta oleh Dewan di Gedung Senayan. Dan, sekali lagi, pemerintah belum juga memberi jaminan tersebut.
Anehnya, pemerintah tetap saja membuat isu kenaikan BBM menjadi momok bagi kalangan pengusaha besar dan kecil. Menteri Kooridnator Perekonomian Aburizal Bakrie, misalnya, beberapa kali bicara di depan publik bahwa kenaikan harga BBM akan dilakukan sebelum 15 April 2005. Pengumuman ini memicu kalangan pengusaha perumahan menaikkan harga rumahnya. Termasuk bahan material, misalnya besi cor berbagai ukuran naik sekitar Rp 5 ribu hingga 10 ribuan, berbeda di berbagai daerah. Begitu juga harga kayu.
Esoknya, Ical -- demikian panggilan bos Bakrie Group ini --  menyatakan kenaikan harga BBM 1 April 2005. Kini giliran pengusaha makanan menyikapinya dengan merencanakan kenaikan harga makanan kemasan, misalnya mi instan. Di masyarakat, kenaikan gula, beras, minyak goreng curah, dan susu bayi sudah mulai merangkak.

Pantauan Bali Post Minggu (27/2) kemarin, di supermarket besar, rata-rata kebutuhan pokok naik mulai Rp 1.000 hingga Rp 5.000. Demikian juga harga sayur-mayur di pasar tradisional, seperti di Pasar Palmerah. Harga satu ikat bayam naik menjadi Rp 1.000. Padahal, sebelum ini, uang Rp 1.000 dapat tiga ikat bayam.
Kenaikan harga-harga itu belum seberapa jika dilihat kenaikan harga kebutuhan hidup lainnya, misalnya harga popok bayi, harga spare parts kendaraan bermotor, furniture, hingga harga pakaian jadi. Bahkan, harga makanan di warung tegal, penjual makanan keliling dan PKL sudah ancang-ancang menaikkan harganya lebih dahulu.
Kenaikan harga makanan sehari-hari itu kelihatannya remeh temeh. Tetapi, Gubernur Bank Indonesia sudah memastikan kenaikan inflasi bulan Januari sebesar 1,43%. Makanya, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah menyarankan pemerintah segera menaikkan harga BBM. Presiden Yudhoyono kembali mengeluarkan pernyataan tetap akan menaikkan harga BBM, bahkan tidak ambil peduli dengan popularitas dirinya. Sayangnya, hingga hari ini, BBM tidak juga dinaikkan. Popularitas sudah dipertaruhkan, harga kebutuhan pokok sudah naik bahkan dua tiga kali, tetapi harga BBM, bensin, solar belum juga naik. Entahlah, hantu apa yang sedang berada di kepala elite pemerintah.
Di tengah penantian tersebut, ekspektasi terus berjalan. Pemeritah sekali lagi melalui Menko Perekonomian dan Menteri ESDM menyatakan 1 Maret 2005, BBM akan dinaikkan. Tetapi, setelah rapat dengan anggota DPR hingga pagi pukul 05.00 WIB pada Rabu, Kamis, Jumat (23, 24, 25 Februari 2005), Menteri Purnomo Yusgiantoro mengatakan kenaikan harga BBM antara awal atau pertengahan Maret 2005.
Rakyat kecil jengah dengan komunikasi pemerintah ini. Kenaikan harga BBM bukan sekadar menaikkan harga celana kolor. Sebab, dampak ikutannya sangat besar. Tidak cuma harga BBM yang naik, tetapi harga cabai, sayur hingga harga rumah dan kebutuhan hidup lainnya turut naik. Andai kata kenaikan harga BBM tidak memiliki dampak seluas itu, pemerintah boleh saja berwacana, bahkan berpolemik dengan DPR. Bila perlu buatlah isu kenaikan harga BBM ini seperti isu pencopotan Kapolri, pergantian Panglima TNI dan sebagainya. Terserah saja, toh isu itu cuma urusan elite, bukan urusan rakyat kecil.
Tetapi, kalau kenaikan harga BBM dibuat isu, dibuat wacana, dan dibuat polemik, bukan cuma elite yang gontok-gontokan, tetapi penjual sayur, penjual bakso hingga kelontong hingga jutaan orang miskin dengan pendapatan di bawah Rp 500 ribu sebulan ikut waswas.
Sidang kabinet terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan kompensasi BBM dinaikkan dari Rp 10,6 trilyun menjadi Rp 17,9 trilyun. Pendidikan mendapat Rp 5,6 trilyun. Jumlah tersebut untuk 9,6 juta siswa mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA dan setingkatnya). Pemberian beras diperuntukkan bagi 8,6 juta kepala keluarga miskin dengan dana kompensasi Rp 5,4 trilyun. Kesehatan Rp 2,1 trilyun untuk 36,1 juta penduduk. Untuk pembangunan infrastruktur pedesaan seperti irigasi dan jembatan bagi 26.737 desa miskin senilai Rp 3,3 trilyun. Bagi pembangunan perumahan rakyat sebanyak 225.000 unit rumah sebesar Rp 600 milyar.
Untuk pelayanan sosial seperti peningkatan perumahan panti sosial, usaha ekonomi produktif untuk 2.638 panti sosial senilai Rp 69,95 milyar, bantuan rehabilitasi fisik organisasi sosial dan yayasan Rp 12,1 milyar, bantuan pemakaman untuk luar panti melalui organisasi sosial dan yayasan sebesar Rp 26 milyar, serta pemberdayaan komunitas adat terpencil di 10 propinsi. Setiap propinsi mendapat Rp 15 milyar.
Kompensasi juga diberikan untuk perbaikan rumah perintis dan janda perintis kemerdekaan sebanyak 380 orang senilai Rp 10 milyar. Bantuan peningkatan kesejahteraan 10.000 orang miskin senilai Rp 10 milyar. Terhadap peningkatan hidup fakir miskin sebanyak 9.000 orang di sembilan propinsi senilai Rp 90 milyar dan Rp 7 milyar untuk bantuan mesin jahit. Dana kompensasi juga diperuntukkan pada subsidi bunga kredit mikro senilai Rp 200 milyar untuk kredit di bawah Rp 50 juta, dan pelayanan kontrasepsi bagi keluarga berencana sebesar Rp 100 milyar.
Pemerintah tetap saja optimis, angka kemiskinan yang kini 16,25 persen bakal turun sekitar 13 persen. ''Kalau saja jumlah kompensasi yang kita berikan sebesar Rp 10,6 trilyun untuk 36 juta sasaran orang miskin, maka per orang akan mendapatkan Rp 250.000. Sedangkan per kepala keluarga menerima Rp 750.000,'' begitulah janji Aburizal Bakrie.

* heru b. arifin

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)