Balai
Desa
Pakraman
untuk
Lestarikan
Budaya Hindu
Singaraja
(Bali Post) -
Pembangunan
balai
desa pakraman
diharapkan
digunakan
sebaik-baiknya
untuk
melestarikan seni,
budaya,
adat, dan agama Hindu
di Bali.
Apalagi
seni
budaya
Bali
merupakan
sumber
dari penghidupan
masyarakat Bali
itu
sendiri.
Hal itu
disampaikan Ida Pedanda
Made Gunung
dalam dharma
wacana
berkaitan dengan
acara
peresmian Balai
Desa
Pakraman Desa
Adat
Pengastulan, Seririt,
Minggu (27/2)
siang
kemarin.
Dalam
dharma wacananya
di
hadapan Bupati
Putu
Bagiada dan
unsur
pejabat Muspida
Buleleng
serta
warga adat
Pengastulan
itu
Pedanda Gunung
mengatakan
pembangunan
balai
desa pakraman
jangan
hanya bertujuan
untuk
kelihatan megah,
namun
lebih daripada
itu
untuk dijadikan
tempat
menjaga dan
melestarikan
nilai-nilai
budaya yang
telah
diturunkan oleh
Danghyang
Dwijendra,
Danghyang
Nirarta
dan Empu
Kuturan,
sehingga
membuat Bali
ini
tetap termasyur
di
seluruh dunia.
"Bali ini
hanya
kaya budaya,
tidak
memiliki kekayaan
yang lain.
Sehingga
etika
dan budaya
itu
harus dipertahankan,
dijaga
dan dilestarikan
orang
Bali," katanya.
Klian
Desa
Pakraman Pengastulan,
Jero
Nyoman Dana, dalam
laporannya
menyebutkan
pembangunan
Balai
Adat Desa
Pakraman
Pengastulan
dibiayai
oleh
swadaya desa
pakraman
dan
sumbangan dari
Gubernur
dan
Bupati Buleleng.
Disebutkan,
sumbangan
dari
warga desa
adat
Pengastulan yang terdiri
dari
empat banjar
adalah
Rp 275 juta,
kemudian
sumbangan
Gubernur Bali
Rp 20
juta dan
Bupati
Buleleng Rp 25
juta.
(kmb15)