kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Senin Umanis, 28 Pebruari 2005

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Tugas Pemerintah Sediakan Rumah Layak Huni untuk Rakyat
 

Satu berita yang dilansir Bali Post, Sabtu (26/2) lalu bahwa sebanyak 14,5 juta rumah di Indonesia tidak layak huni, menjadi topik bahasan Warung Global. Disebutkan oleh Menteri Perumahan Rakyat Muhammad Yusuf Asy'ari, tantangan pengembangan perumahan di Indonesia saat ini makin berat. Selain terus meningkatnya jumlah kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, juga terdapat 14,5 juta rumah saat ini tergolong tidak layak huni. Menanggapi hal itu, masyarakat yang menyampaikan opininya melalui acara interaktif ini antara lain mengatakan, menjadi tanggung jawab pemerintahlah menyediakan rumah layak huni, khususnya bagi masyarakat kelas bawah yang sulit membeli rumah. Sedangkan pengembang atau developer berkewajiban juga menjual rumah untuk rakyat, tetapi rumah untuk rakyat tersebut harus memenuhi kelayakan hunian, jangan asal-asalan. Acara Warung Global Sabtu (26/2) lalu ini disiarkan Radio Global 96,5 FM Kinijani. Acara ini juga dipancarluaskan Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya. 

-------------------------- 

Natri Udiyani di Denpasar mengatakan, di Jakarta, seperti di Cilincing banyak sekali rumah yang tidak layak huni, seperti halaman yang terbuat dari tanah dan becek, dindingnya dari gedek. Semoga saja rumah seperti itu mendapat perhatian dari pemerintah. Katanya SBY akan membangun satu juta rumah di seluruh Indonesia, jadi rumah-rumah seperti itulah yang semestinya mendapat prioritas untuk diberi bantuan. Bali Timur juga termasuk terbelakang, jadi perlu diperhatikan perumahannya.

Agus di Tabanan mempertanyakan, selama ini yang dikatakan tidak layak itu apakah sengaja dibikin tidak layak? Apakah yang dimaksud tidak layak itu sudah lama tidak dihuni dan tidak dipelihara? Kalau kita membangun rumah begitu banyak apakah sebenarnya rumah itu diperlukan sekali oleh masyarakat atau hanya untuk membesarkan developer? Kalau memang dibutuhkan masyarakat tentu harus dibangun dengan harga yang murah tetapi bagus. Sebagai rakyat, Agus mengaku  kurang puas dengan apa yang digembar-gemborkan pemerintah untuk mengadakan perubahan karena belum dirasakan.

Gus Delut di Denpasar mengatakan, kewajiban pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya agar rakyat mampu membeli rumah. Gusdelut masih bingung tentang kriteria rumah tidak layak huni. Di sisi lain harga bahan-bahan untuk bikin rumah sekarang ini sudah mahal. Gus Delut juga menambahkan, untuk mencari kayu sekarang sudah sulit. Developer, ketika membuat rumah harus siap menjual untuk rakyat dan jangan asal-asalan. Sekarang ini terlalu banyak orang membeli tanah hanya untuk investasi, sehingga yang benar-benar membutuhkan tidak bisa memiliki. Masyarakat tentu tidak asal membeli rumah. Di desa di Bali mungkin saja banyak rumah yang tidak layak huni.

Gusti di Renon menjelaskan, rumah yang tidak layak huni adalah rumah yang tidak membuat lapisan ozon menipis. Rumah mewah yang memakai AC freon punya andil sangat besar dalam nerusak lingkungan. Namun, dia mengatakan, kriteria rumah tidak layak huni harus jelas seperti apa. Walaupun rumah berlantai dari tanah tetapi mempunyai daya serap yang cukup tinggi. Ketika zaman dulu, sewaktu belum ada keramik tidak ada yang namanya banjir. Sekarang seharusnya bentuk rumah  kembali ke alam dengan pagar misalnya dari tanaman yang hidup. Ini adalah tanggung jawab pemerintah dan menawarkan kredit ringan pada yang tidak mampu. Ongkos tukang untuk membuat rumah pun mahal sekali. harga rumah tipe 21 sekarang sangat mahal dan akhirnya rumah selalu dibeli oleh orang-orang kaya atau menengah ke atas. Bank-bank sekarang juga harus mulai membantu rakyat, sekali-sekali berbuat amal untuk mewujudkan rumah bagi penduduk kurang mampu.

Sastera di Denpasar menambahkan, kalau pembangunan itu merupakan real estate di Bali tidak cocok. Kalau itu dibangun akan menghabiskan lahan-lahan dari desa adat. Sastera melihat bukti penghuni-penghuni perumahan justru sedikit yang orang Bali asli karena yang membeli kebanyakan orang luar. Yang cocok, menurut dia, adalah membangun rumah-rumah masyarakat yang ada di desa-desa yang dianggap tidak layak huni. Solusinya, buat data di desa-desa di mana pun dan rumah yang ada di desa itu diperbaiki dengan bentuk yang sehat dan harga murah. Di Bali harus memperhatikan ulu-teben jadi tidak sembarangan.

Nang Tualen di Denpasar mengatakan, sekarang ini untuk mencari rumah BTN susahnya luar biasa, tidak semudah seperti apa yang dibicarakan. Yang paling penting RSS harus betul-betul rumah dengan proses mudah dan benar-benar murah. Pemerintah agar memperhatikan masyarakt yang benar-benar tidak mampu.

Menurut Jero Gede Sanggulan, layak dan tidak layaknya rumah itu tergantung pemiliknya yang memakai. Angka 14,5 juta rumah di Indonesia yang dikatakan tidak layak huni itu mungkin data yang benar, tetapi untuk di perkotaan perumahan itu sangat dibutuhkan oleh pegawai-pegawai seperti PNS dan pegawai swasta golongan menengah ke bawah. Namun, kenyataan di lapangan RSS justru dimiliki oleh orang-orang menengah ke atas karena tanah di Bali ini disadari akan berkembang harganya. Pencanangan program satu juta rumah, seandainya Bali kecipratan, maka ini akan berakibat Bali ini menjadi sumpek karena akan mempermudah orang luar untuk menghuni rumah-rumah tersebut. Orang-orang asli Bali akan tedesak. Orang Bali itu jarang yang mau membeli BTN kecuali yang merantau. Kalau mereka yang sedikit punya duit agak sulit menerima atau gengsi.

Selodono di Gianyar mengatakan, standar rumah yang baik tentu berhubungan dengan penghasilan dari orang bersangkutan. Sebenarnya pembangunan yang berkelanjutan itu tidak mengacu pada produksi, tetapi mengacu pada growth atau pertumbuhan. Dia menambahkan, rumah itu harus memenuhi kebutuhan manusia. Ketika ada rumah bagus kemudian ternyata MCK tidak ada dan harus ke sungai buang air, itu termasuk rumah tidak layak. Di sisi lain ada rumah yang dianggap jelek dan kuno, tetapi rumah seperti itu memang kelayakannya sudah terlihat dari lingkungan yang cocok. Kalau kita bertanggung jawab dari aspek arsitektur semestinya ada semacam sistem bahwa rumah itu bukan sekadar dilihat orang lain nyaman, tetapi juga harus bertanggung jawab pada lingkungan atau alam. Kalau kita lihat di Barat rumah besar tetapi hanya berpenghuni dua orang, itu tidak nikmat.

Mangde Arnaya di Denpasar menambahkan, layak dan tidak layak dilihat dari ukuran seperti apa? Akhirnya semua itu tergantung dari yang memiliki rumah itu. Kalau pemerintah mengatakan 14,5 juta rumah rakyat tidak layak huni karena penduduknya miskin maka mau tidak mau tetap saja rumah itu dikatakan layak huni karena yang punya merasa biasa saja.

Maria di Sidakarya menegaskan, pemerintah harus bertanggung jawab untuk menyediakan perumahan yang layak huni bagi masyarakat tidak mampu. Siapa pun yang membuat statistik itu  maka harus dikembalikan pada pemerintah untuk memperjuangkannya. Langkah kongkret apa yang diambil pemerintah terhadap permasalahn ini? Orang terlalu banyak membeli rumah ramai-ramai, tetapi akhirnya dikontrakkan, sehingga ironis sekali. Menurut dia, sistemnya harus dikembalikan pada otonomi daerah, melibatkan camat setempat untuk menghitung kebutuhan yang real di masyarakat. Developer selalu menjual pada orang yang mampu, kapan masyarakat miskin akan terangkat kehidupannya kalau seperti itu?

Sementara itu, Kompyang Lombok di Bangli mengatakan, di Bali banyak sekali rumah yang tidak layak huni, dan di Bali juga rumah harus lengkap; ada bale daja, bale dangin, bale delod dan bale dauh. Makanya kalau mau layak pakai di Bali harus ada hal-hal seperti itu.

(bram)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)