Catatan
Pariwisata
Sepekan-------------
Apa
Urgensi
Pertemuan Tampaksiring?
Selama
dua
hari mulai
Sabtu (26/2)
ini
digelar rapat
koordinasi
kabinet Indonesia
Bersatu
di Istana
Tampaksiring,
Gianyar.
Rapat yang
dijadwalkan
dipimpin
langsung
Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono
ini
akan diikuti 14
menteri
dan tujuh
gubernur.
Sebagaimana
isyarat
Meneg Budpar
Jero
Wacik sebelumnya,
rapat
koordinasi ini
merupakan forum
untuk
menyatukan langkah
di
kalangan pemerintah
khususnya
kementerian
terkait
untuk memajukan
pariwisata
nasional.
=====================
KALAU dilihat
secara formal,
rapat
di Tampaksiring
ini
sangat istimewa
karena
untuk pertama
kalinya
pemerintah memberi
perhatian "lebih"
pada
sektor pariwisata.
Kalangan
pariwisata
nasional
sesungguhnya
sudah lama
merindukan
hal ini.
Secara
politis, dengan
perhatian
langsung
dari
presiden, otomatis
para
menteri memperhatikannya
lebih
serius. Tidak
ada
lagi kebijakan yang
saling
tak menunjang
antar
Kementerian Budpar
dan
depertemen lain sebagai
mana
terlihat dalam
sejumlah
kasus
terdahulu.
Namun,
tidak
cukup rasanya
kalau
kita hanya
melihat
dalam tataran formal.
Bagaimanapun
juga, yang
terpenting
adalah output
dari
rapat koordinasi
tersebut
dan
lebih dari
itu
bagaimana implementasinya
nanti
di lapangan.
Pengimplementasian
itu
sangat ditentukan
bagaimana
mengawalinya. Kita
melihat
ada sesuatu yang
salah
sejak awal --
mudah-mudahan
amatan
ini keliru.
Apa itu?
Keterlibatan
unsur
industri pariwisata
di
tingkat lokal
dan
nasional juga
tak
kita dengar.
Padahal,
sejatinya,
karena
rapat ini
membicarakan
masalah
pariwisata mestinya
unsur
industri juga
dilibatkan
dalam
proses ini.
Kalau
dalam rapat
koordinasi
secara
protokoler mungkin
tidak
bisa, mestinya
bisa
dilakukan sebelumnya.
Katakanlah
semacam
pertemuan awal
dengan
melibatkan unsur-unsur
industri
baik
tingkat pusat
maupun
lokal serta
para
tokoh masyarakat
Bali.
Mengapa Bali,
ya
kerena Bali merupakan
ikon
pariwisata nasional.
Harus
didengar apa yang
sesungguhnya
menjadi
kegelisahan masyarakat
saat
ini dalam
konteks
pengembangan pariwisata.
Dalam
perbincangan Bali Post
dengan
sejumlah tokoh
pariwisata Bali
Jumat (25/2)
kemarin,
secara
terus terang
mereka
mengaku kecewa.
Dalam
membicarakan pariwisata
nasional, Bali
selalu
didorong-dorong agar
berperan maksimal.
Lantas
dibuai dengan
sebutan "pintu
gerbang" Indonesia,
atau "ikon"
pariwisata
nasional. "Beban
Bali sangat
berat.
Selain menjadi
andalan
pariwisata nasional,
di sini
Bali sendiri
menghadapi
persoalan
internalnya yang
kian
pelik. Mana dong
solidaritas
dari
daerah lain," begitu
kira-kira
gugatan
para tokoh
itu.
Mungkin karena
mereka
tahu ada
enam
gubernur lain yang ikut
dalam
rapat di
Tampaksiring.
Sekadar
mengingatkan,
seminggu
setelah
peledakan bom
di Kuta,
pemerintah
menggelar
suatu
rapat koordinasi
di Hotel
Putri Bali.
Tak
tanggung-tanggung, rapat
itu
dipimpin Menko
Perekonomian
saat
itu dijabat
Dorodjatun
Kuntjoro
Jakti.
Berbagai hal
diagendakan
dengan
fokus recovery Bali. Namun
sampai
pimpinan nasional
berganti
semua
tak jelas
juntrungannya. Bali yang
saat
itu tengah
diliputi
kecemasan.
Para
keluarga
korban yang
ditinggal
mati,
karyawan yang dihantui
PHK dan
pariwisata dan
ekonomi Bali
umumnya
sempat mati
suri.
Lalu, siapa yang
peduli?
Ingatan
inilah yang
dimunculkan
kembali
oleh para
tokoh
pariwisata
Bali
tadi.
Bahwa, pusat (baca
: Jakarta) sering
berjalan
sendiri,
dengan agenda yang
diyakini
kebenarannya.
Pusat
selalu merasa paling
tahu
apa yang diperlukan
daerah (baca
: Bali), tanpa
pernah
berpikir, daerahlah
yang menyokong
pusat.
Termasuk dalam
merealisasikan target
mendatangkan
sekian
juta wisman
dan
sekain milyar
dolar
devisa per tahun.
Otonomi
daerah seyogyanya
jangan
dijadikan alasan,
ketika
daerah ingin
meminta
penyelesaian kasus-kasus
di
daerah.
Kekecewaan
yang ditumpahkan
ini
tidaklah dimaksudkan
untuk
mengecilkan arti
rapat
koordinasi di
Tampaksiring.
Bagaimanapun
juga
masyarakat tetap
mengapresiasi
perhatian
pemerintahan SBY
terhadap
pariwisata yang
diharapkan
membawa multiplier effect
bagi
ekonomi nasional.
Berkaca
pada realitas
empiris
dalam proses recovery
Bali,
seyoganya
pertemuan
Tampaksiring
tak
berhenti pada
aksi formal
rutin
semata. Masyarakat
sangat
menunggu implementasinya
dengan
penuh kesungguhan
menteri
dan jajarannya
serta
pihak terkait.
Pertemuan
ini
harus diberi
makna.
Kalau sekadar
rapat
rutin semata,
mengapa
mesti jauh-jauh
datang
ke Bali?
*
Gregorius