Catatan dari
Kaltim ----
Antara PON XVII dan Industri Olah Raga
SELAMA
tiga hari tepatnya 20-23 Februari lalu, wartawan olah
raga Koordinatoriat KONI Pusat melakukan kunjungan
jurnalistik ke Samarinda, Kaltim. Tujuannya melihat dari
dekat persiapan Kaltim menjadi tuan rumah PON XVII/2008.
Secara kebetulan dalam waktu bersamaan di Samarinda
berlangsung rapat paripurna nasional (Raparnas) KONI
Pusat ke-30. Namun, tugas utama para wartawan Senayan
ini meninjau fasilitas olah raga yang sudah, sedang dan
akan dibangun.
Kaltim berpenduduk 3,2 juta jiwa dan memiliki sumber
kekayaan alam berupa minyak, gas dan kayu ini lebih siap
untuk menggelar PON XVII/2008 dibanding Sumsel ketika
menjadi tuan rumah PON XVI/2004 lalu. Fasilitas
pendukung lainnya seperti perhotelan dan fasilitas
telekomunikasi sudah disiapkan secara matang. Bahkan,
persiapan ini sudah dilakukan sejak dua tahun lalu.
Tidak hanya Menpora Adhyaksa Dault, S.H. dan Ketua Umum
KONI Pusat Agum Gumelar terkesima. Seluruh peserta
Raparnas KONI yang berasal dari 32 daerah plus 52 induk
organisasi olah raga serta para wartawan olah raga
Koordinatoriat KONI Pusat pun dibuat kagum.
Bahkan, Menpora menyebut Kaltim tidak hanya siap menjadi
tuan rumah PON tetapi juga SEA Games. Dengan menelan
biaya hampir Rp 1 trilyun yang sebagian besar diambil
dari APBD Kaltim, propinsi yang membawahi tujuh daerah
tingkat dua (kabupaten/kota) ini telah mencanangkan
tekad besar yakni melalui PON XVII/2008 nanti Kaltim
siap menjadi salah satu pusat industri olah raga di
Indonesia.
Berlebihankan itu? Masyarakatnya memberikan dukungan
penuh meski untuk menjadi tuan rumah PON XVII tidak
sedikit dana yang harus dikeruk. Walaupun dibebankan
dari APBD, masyarakat tidak merasa terbebani. Ini
dikarenakan, tingkat perekonomian masyarakat di Kaltim
boleh dibilang cukup subur. Bahkan, ada beberapa daerah
di tingkat Kabupaten seperti di Kutai Kartanegara,
sekolah dan kesehatan diperoleh secara gratis.
Ketua Umum PB PON XVII/2008, Suwarna Abdul Fattah yang
juga Gubernur Kaltim mengakui dana bukan persoalan besar
baginya. Fasilitas olah raga yang dibangun semuanya
berstandar internasional. Suwarna menyadari bahwa Kaltim
suatu saat juga harus siap menjadi penyelenggara
kegiatan multieven tingkat internasional seperti SEA
Games. Pemda Kaltim kemudian membentuk suatu badan
pengelola yang bertugas memelihara dan
mengoperasionalkan fasilitas olah raga tersebut. Kawasan
olah raga di Kaltim dan Samarinda khususnya
dikomersilkan kepada masyarakat umum. Kini sudah 50
persen sudah siap pakai terutama yang ada di Samarinda
seperti di kawasan Bumi Olahraga Sempaja (BOS).
Sementara yang 50 persennya diharapkan sudah selesai
pada 2007. Bahkan, pada tahun 2007 itu akan digelar
Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas). Memang
sempat ada kekhawatiran yang muncul di benak para
peserta Raparnas KONI tentang pelaksanaan PON XVII di
Kaltim ini. Soalnya, di balik kesiapan Kaltim ada riak
hebat. Riak hebat itu adanya perseteruan antara Gubernur
Kaltim Suwarna Abdul Fatah dan mantan Bupati Kutai
Kartanegara yang juga Ketua Umum KONI Kaltim, Syaukani
HR.
Pertikaian yang sesungguhnya berawal dari pentas politik
itu berimbas hingga ke bidang olah raga. Fakta itu tak
bisa dielakkan terutama oleh Suwarna AF. Buktinya pada
Raparnas KONI ke-30, Syaukani HR tidak hadir dengan
alasan sakit. Padahal, menurut sebuah sumber, Syaukani
ada di Jakarta dan sengaja tak hadir dalam kegiatan
tahunan KONI Pusat itu sebagai wujud ketidakakurannya
dengan Suwarna. Namun, Suwarna menjamin pelaksanaan PON
XVII/2008 tak akan terganggu oleh adanya perseteruannya
dengan Syaukani. Orang nomor satu di Kaltim ini
mengatakan masalahnya dengan Syaukani jangan dibawa-bawa
ke olah raga. * suharto