SBY Rela
tak
Populer
Jakarta (Bali Post) -
Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY)
mengaku
rela untuk
tidak
populer akibat
menaikkan
harga
bahan bakar
minyak (BBM)
dalam
waktu dekat
ini.
Keputusan
menaikkan
harga BBM
memang
tak bisa
dicegah
karena untuk
menghindari
makin
besarnya subsidi.
''Saya
selalu
diingatkan kalau
ingin
populer jangan
menaikkan BBM.
Namun,
pemerintah
harus
memikirkan kepentingan
yang lebih
besar,
dan saya
rela
tidak populer yang
hanya
untuk kepentingan
pribadi,''
ungkap
Presiden saat
membuka Seminar
dan
Pameran Pasar Modal
2005 di
Balai Sidang
Senayan,
Jakarta,
Jumat (25/2)
kemarin.
Presiden
juga
menyadari dampak
kebijakan
kenaikan
harga BBM
akan
menimbulkan
maraknya
aksi
protes dan
unjuk
rasa untuk
menentangnya.
''Saya
hormati
jika terjadi
aksi
itu.
Meski
demikian,
jangan
sampai timbul
motivasi
politik yang
tak
sehat dalam
menyikapi
kenaikan BBM
dan
jangan sampai
menyebabkan
kemajuan
perkembangan
ekonomi
dan politik
menjadi
terganggu,'' pintanya.
Selain
itu,
maraknya menentang
kenaikan
harga BBM
jangan
menimbulkan gejolak
dan
pengaruh negatif
terhadap momentum
perkembangan
ekonomi.
''Unjuk
rasa
merupakan hal
wajar
dan sah
dalam
demokrasi.
Namun,
harus
dilakukan sesuai
ketentuan UU
dan
tidak melanggar
hak
orang lain, serta
jangan
sampai menimbulkan
guncangan yang
berlebihan,''
pesan
Kepala Negara.
Diakuinya,
rakyat Indonesia
makin
cerdas dan
pasti
memahami kesulitan
yang dialami
pemerintah
akibat
membengkaknya asumsi
subsidi BBM
tahun 2005
ini.
Dan, kebijakan
pengurangan
subsidi yang
menyebabkan
kenaikan
harga BBM
itu
dilakukan dengan
adil
dan tetap
berpihak
kepada
rakyat miskin.
''Komitmen
kita
untuk membela
rakyat
kecil tidak
pernah
kita lupakan,
di
samping memperhatikan
bahan
bakar yang dikonsumsi
rakyat
kecil dengan
tidak
menaikkan harga,
pemerintah
juga
memberikan kompensasi,''
ucapnya.
Dijelaskannya,
tahun 2004 DPR
dan
pemerintah menyepakati
subsidi BBM
untuk
tahun 2005 adalah
Rp 19
trilyun.
Namun,
akibat
kenaikan harga
minyak
mentah dan
konsumsi BBM,
beban
subsidi itu
menjadi
meningkat.
Diperkirakan
jika
harga BBM tidak
naik,
subsidi bisa
mencapai
Rp 70
trilyun pada
tahun 2005. ''Dan,
perlu
diketahui bahwa
jenis BBM yang
akan
dinikmati
oleh
masyarakat banyak
tidak
akan dinaikkan.
Sebab,
kenaikan
harga BBM
diutamakan
pada
jenis BBM yang dikonsumsi
kelompok
masyarakat
menengah
ke atas,''
tegasnya
serius.
Desa
Miskin
Sementara
itu,
Menteri Perencanaan
dan
Pembangunan Nasional/Kepala
Bappenas Sri
Mulyani
Indrawati menyatakan,
sebanyak 11.000
desa
miskin
akan memperoleh
dana
alokasi subsidi
bahan
bakar minyak (BBM)
untuk
pembangunan infrastruktur
pedesaan.
Mekanisme
penggunaan
dan
alokasi
dana diserahkan
kepada
masyarakat setempat,
karena
akan digunakan
untuk
proyek yang sifatnya
padat
karya. Mulyani
mengatakan
hal itu
usai
meninjau peresminan
call center BBM di Jakarta,
Jumat
kemarin.
Menurut
Mulyani,
alokasi program
kompensasi
ini
merupakan salah
satu
desain Bappenas
untuk
mengalokasikan kompensasi
kenaikan
harga BBM
kepada
masyarakat yang benar-benar
membutuhkan
subsidi.
''Dengan
demikian,
masyarakat
bisa
mendapat pendapatan
tambahan,
sehingga
mendorong target-target
alokasi
subsidi di
bidang
pendidikan (beasiswa-red)
maupun
di sektor
kesehatan,''
katanya.
Program kompensasi
beras
bagi masyarakat
miskin,
katanya, diarahkan
membantu
kurang
lebih 8,6
juta
kepala keluarga (KK),
dengan
harga Rp 1.000 per
kg, dan
setiap KK miskin
dapat
membeli 20 kg beras/bulan.
Di
bidang kesehatan,
program jaminan
pemeliharaan
kesehatan
masyarakat
miskin (JPKMM)
berdasarkan data
Badan
Pusat Statistik (BPS)
meliputi 36,16
juta
jiwa penduduk
miskin.
Kegiatan
dilakukan
antara lain
pelayanan
kesehatan
rawat
jalan di
puskesmas,
rawat
inap di
puskesmas,
rawat
jalan tingkat
lanjutan
di
rumah sakit,
dan
rawat inap
di
tingkat lanjutan
di
ruang rawat
kelas III
rumah
sakit.
Sasaran yang
menjadi target program
di
bidang pendidikan,
yakni
memberikan beasiswa
kepada 9.690.490
siswa
terdiri atas SD/MI
Rp 25.000 per
bulan, SMP/Mts
Rp 65.000 per
bulan, SMA/SMK/MA
sebesar
Rp 250.000 per bulan.
Sementara
dalam
rangka penciptaan
lapangan
kerja,
kegiatannya antara
lain pembangunan
jalan
dan jembatan,
prasarana
lingkungan
pedesaan,
prasarana
pendukung
produksi yang
ditentukan
masyarakat
penerima
manfaat.
Di
samping untuk
memberdayakan
pengusaha
mikro
dan kecil,
akan
dilakukan program
penguatan
struktur
keuangan
koperasi
simpan
pinjam, yang diarahkan
untuk 98.000
pengusaha
mikro yang
miskin. ''Kegiatannya
adalah
memberikan bantuan
modal bagi
usaha
mikro melalui
bantuan
permodalan kepada
koperasi yang
diteruskan
sebagai
dana
bergulir
kepada
anggotannya,'' kata
Mulyani.
Ia
mengakui,
berbagai
pihak
meragukan keberhasilan
alokasi
kompensasi tersebut.
Namun,
lanjutnya,
berdasarkan
pengalaman
di masa
lalu
ada mekanisme
penyaluran yang
tingkat
implementasinya cukup
baik.
Target utama
implementasi,
katanya,
menurut
temuan Badan
Pengawas
Keuangan
dan
Pembangunan (BPKP) adalah
salah
sasaran, salah
waktu
dan salah
lokasi.
''Tiap
program ada
elemen yang
salah target.
Saya
tidak mengatakan 100%
akan
berhasil.
Untuk
itu
perlu identifikasi
dari
pemda, departemen
terkait,
masyarakat,
dan LSM
jika ada
salah
alokasi,'' ujarnya.
(034/kmb1/kmb2/kmb4)