Korut Mengaku Punya Senjata Nuklir
Presiden Korsel Minta Rakyatnya Tenang
Seoul-
Dalam merespon pernyataan Korea Utara yang menyatakan
bahwa mereka memiliki senjata nuklir dan baru-baru ini
dan sempat menyatakan tidak ingin lagi melanjutkan lagi
pembicaraan enam negara membahas masalah itu, presiden
Korea Selatan Roh Moo-Hyun pada Jumat (25/2) kemarin
meminta agar semua masyarakatnya tenang.
Presiden ini juga mengatakan bahwa mereka menghadapi "situasi
yang tak terduga," karena Korea Selatan harus tetap
memegang perjanjian damai yang dibuat 28 bulan lalu
melalui proses dialog.
Roh berbicara setelah pada pertemuan di Bratislava,
presiden AS George W. Bush mengatakan ia dan presiden
Rusia Vladimir Putin setuju bahwa Korea Utara harus
menutup semua fasilitas maupun persenjataan nuklir yang
mereka punyai.
Saat menghadiri parlemen untuk acara pelantikan kedua
masa kepemimpinannya itu, Roh juga menyatakan
pengertiannya bahwa isu senjata nuklir merupakan
penyebab "timbulnya masalah."
"Beberapa
keadaan yang tak terduga bisa saja terjadi, namun
kenyataan yang sangat mendasar belum juga berubah,"
katanya.
Ia juga mengatakan tidak akan terbawa oleh satu keadaan
sulit yang mungkin terjadi, namun akan tetap memegang
perjanjian yang pernah dibuat dan terus terbuka.
Para negosiator dari Korea Utara, Amerika Serikat dan
Jepang diharapkan bertemu kembali pada Sabtu hari ini di
Korea Selatan untuk kembali membahas masalah nuklir
tersebut. Sebelumnya pada pertemuan ketiga enam negara
yang mengambil tempat di Beijing sempat mengalami
kemunduran, akibatnya Pyongyang menolak untuk
melanjutkan pertemuan ke empat yang rencananya
dilaksankan pada September lalu.
Kemudian pada 10 Februari, Korea Utara terang-terangan
menyatakan bahwa mereka sudah mengembangkan senjata
nuklir dan menolak untuk ambil bagian pada pertemuan
dalam tenggang waktu yang tidak dapat ditentukan.
Titik terang untuk dilajutkannya pertemuan nampaknya
sudah kembali, ini setelah pemimpin Pyong Yang presiden
Kim Jong-Il mengindikasikan pada Selasa lalu bahwa
negaranya akan kembali mengikuti proses pertemuan jika
kondisinya berada di jalan yang benar.
Pernyataan Kim tersebut diutarakan setelah kunjungan
empat hari staf senior Partai Komunis Cina, Wang Jiaru
menuju Pyongyang, yang hasilnya kemudian disimpulkan
pada Selasa.
Masalah nuklir ini sebenarnya muncul ke permukaan pada
Oktober 2002 saat Amerika Serikat menuduh Korea Utara
sedang mengoperasikan program pembuatan uranium.
Pyongyang kemudian dengan tegas menolak tuduhan tersebut
namun mereka malah mulai mengembangkan program pembekuan
plutonium. (ton/afp)