kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 26 Pebruari 2005

 Mancanegara


Korut Mengaku Punya Senjata Nuklir
Presiden Korsel Minta Rakyatnya Tenang
 

Seoul-
Dalam merespon pernyataan Korea Utara yang menyatakan bahwa mereka memiliki senjata nuklir dan baru-baru ini dan sempat menyatakan tidak ingin lagi melanjutkan lagi pembicaraan enam negara membahas masalah itu, presiden Korea Selatan Roh Moo-Hyun pada Jumat (25/2) kemarin meminta agar semua masyarakatnya tenang.

Presiden ini juga mengatakan bahwa mereka menghadapi "situasi yang tak terduga," karena Korea Selatan harus tetap memegang perjanjian damai yang dibuat 28 bulan lalu melalui proses dialog.

Roh berbicara setelah pada pertemuan di Bratislava, presiden AS George W. Bush mengatakan ia dan presiden Rusia Vladimir Putin setuju bahwa Korea Utara harus menutup semua fasilitas maupun persenjataan nuklir yang mereka punyai. 

Saat menghadiri parlemen untuk acara pelantikan kedua masa kepemimpinannya itu, Roh juga menyatakan pengertiannya bahwa isu senjata nuklir merupakan penyebab "timbulnya masalah."

"Beberapa keadaan yang tak terduga bisa saja terjadi, namun kenyataan yang sangat mendasar belum juga berubah," katanya.

Ia juga mengatakan tidak akan terbawa oleh satu keadaan sulit yang mungkin terjadi, namun akan tetap memegang perjanjian yang pernah dibuat dan terus terbuka.

Para negosiator dari Korea Utara, Amerika Serikat dan Jepang diharapkan bertemu kembali pada Sabtu hari ini di Korea Selatan untuk kembali membahas masalah nuklir tersebut. Sebelumnya pada pertemuan ketiga enam negara yang mengambil tempat di Beijing sempat mengalami kemunduran, akibatnya Pyongyang menolak untuk melanjutkan pertemuan ke empat yang rencananya dilaksankan pada September lalu.

Kemudian pada 10 Februari, Korea Utara terang-terangan menyatakan bahwa mereka sudah mengembangkan senjata nuklir dan menolak untuk ambil bagian pada pertemuan dalam tenggang waktu yang tidak dapat ditentukan.

Titik terang untuk dilajutkannya pertemuan nampaknya sudah kembali, ini setelah pemimpin Pyong Yang presiden Kim Jong-Il mengindikasikan pada Selasa lalu bahwa negaranya akan kembali mengikuti proses pertemuan jika kondisinya berada di jalan yang benar.

Pernyataan Kim tersebut diutarakan setelah kunjungan empat hari staf senior Partai Komunis Cina, Wang Jiaru menuju Pyongyang, yang hasilnya kemudian disimpulkan pada Selasa.

Masalah nuklir ini sebenarnya muncul ke permukaan pada Oktober 2002 saat Amerika Serikat menuduh Korea Utara sedang mengoperasikan program pembuatan uranium. 

Pyongyang kemudian dengan tegas menolak tuduhan tersebut namun mereka malah mulai mengembangkan program pembekuan plutonium. (ton/afp)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)