kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 26 Pebruari 2005

 Kultur

 

Banjar dan Sanggar 

Di Bali, banyak orang yang tak bisa membedakan yang mana agama Hindu dan yang mana adat Bali. Di luar Bali, adat hanya terkait dengan budaya karena memang asal-muasalnya adalah adat-istiadat. Di Jawa, misalnya, lembaga adat tetap jalan meskipun warganya ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik dan sebagainya. Di Bali, orang yang non-Hindu tidak bisa jadi warga adat, mereka hanya boleh jadi warga dusun.

Apakah kesenian itu adat? Tergantung jenisnya. Kalau terkait dengan upacara agama, maka kesenian itu diurus oleh adat. Misalnya tari Rejang dan beberapa jenis tari Baris yang sakral. Tetapi kalau kesenian itu cuma tontonan untuk hiburan, adat tidak merasa perlu untuk mengurusnya.

Dulu, geliat seni orang Bali lahir di banjar-banjar. Bahkan, kepopuleran kesenian itu tak bisa dilepaskan dari nama banjar. Gong Banjar Geladag terkenal ke mana-mana. Janger Banjar Peliatan populer di seluruh Bali. Cak Banjar Teges Kanginan sampai pentas ke Jepang. Desa Banyuning di Buleleng, semua banjarnya punya drama gong, meskipun ada yang terkenal, ada yang tidak.

Masyarakat Bali sering menyebut kesenian itu dengan sekaa sebunan. Sekaa artinya perkumpulan, sedangkan sebunan berasal dari kata sebun yang berarti sarang. Jadi yang dimaksud dengan sekaa sebunan adalah kelompok kesenian yang anggotanya berdomisili dalam satu sarang yaitu banjar.

Banjar di masa lalu menjadi perekat dari segala aktivitas warganya, termasuk berkesenian. Pekerjaan warga banjar hampir sama.

Sekarang, warga banjar bisa mencari nafkah ke banjar lain dan tidak harus pulang ke banjarnya. Bahkan, dengan majunya industri di perkotaan, banyak warga banjar di pedesaan yang pindah ke kota. Bagaimana bisa meneruskan aktivitas di banjar? Belum lagi kendala lainnya, semakin maju teknologi semakin banyak hiburan, semakin beragam kegemaran orang. Membuat drama gong di banjar peminatnya kurang, karena sebagian anggota banjar lebih senang membuat janger.

Untuk kesenian yang tergolong sulit seperti arja, bentuk sanggar ini bahkan lebih dulu muncul dengan adanya sebutan arja bon Bali. Arja dan drama gong sekaa sebunan sudah praktis tidak ada lagi. Drama Gong Abianbase dan Drama Gong Banyuning II (Banjar Banyuning Tengah) yang begitu populer, hilang tanpa bekas.

Mencari 12 pemain arja di satu banjar, sungguh sangat sulit. Apalagi kesenian yang lebih pop seperti grup band, pelawak dan sebagainya, sudah tidak mungkin hidup dengan berbasis banjar. Sanggar telah menggantikannya dengan lebih pas, karena kesenian jenis ini bukan tergolong kesenian ritual.

Memang ada kekecualian, tetapi kekecualian ini sudah semakin menciut jumlahnya. Misalnya, Sekaa Gong Banjar Geladag, Desa Pedungan, masih eksis dan masih tetap latihan secara berkala. Tetapi, di balai Banjar Geladag itu sudah lama muncul papan nama sanggar seni tempat anak-anak belajar menari. Baik murid maupun guru tari sanggar itu sudah tak punya lagi ikatan dengan banjar. Balai banjar hanya sebagai tempat latihan. Ini lagi-lagi membuktikan bahwa bentuk sanggar sangat longgar, ia bisa melakukan aktivitasnya dengan meminjam atau menyewa balai banjar, atau bisa dilakukan di gedung pertemuan termasuk sekolah-sekolah.

Apakah keberadaan sanggar menggantikan banjar, sesuatu yang mencemaskan? Tidak, ini adalah tuntutan zaman, kesenian tradisional Bali harus tetap langgeng meskipun dipayungi organisasi yang modern. Mengandalkan banjar untuk sentra kegiatan kreativitas sudah tidak memungkinkan lagi, biarlah banjar hanya menjadi sentra dari kegiatan adat.

* Putu Setia

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)