Merevitalisasi
Peran
Banjar,
Menjaga
Denyut ''Napas''
Budaya Bali
Bagaikan
orang
berjalan mundur.
Rasa cemas
itulah yang
kini
menyesakkan dada ketika
kita
mendiskusikan peran
banjar
sebagai pusat
pengembangan
seni
dan budaya
Bali.
Dalam
konsteks
ini,
ada yang mengklaim
banjar-banjar
di Bali
mulai lesu
darah
seiring makin
dahsyatnya
gelombang
modernisasi yang
menghantam.
Denting suara
gamelan yang ditabuh
dengan
panggul (alat
pemukul-red)
tak
lagi terdengar
nyaring
di balai
banjar-balai
banjar
krama
Bali.
Kesuntukan
generasi
muda
Bali
menekuni
igel-igelan (tari-tarian),
nyastra
dan mawirama
juga
mulai menghilang
dari
balai banjar.
Benarkah
peran
sentral dan
strategis
banjar
dalam menumbuhkembangkan
aktivitas
seni
dan budaya
di
tataran masyarakat
terbawah
sudah
mulai melemah?
Menelusuri
jejak
sejarah perkembangan
seni
budaya Bali,
maka
kita
tidak bisa
melepaskan
peran
banjar sebagai
pusat
aktivitas berkesenian
dan
mengembangkan budaya
adiluhung
warisan
leluhur. Di
masa
lampau, dominasi
dan
hegemoni banjar
dalam
membangun
kultur
masyarakat
bermentalitas
luhur,
berbudaya, bertata
krama
santun dan
sejumlah
nilai
positif lainnya
sangat
mengakar.
Hampir
seluruh
aktivitas penting
krama Bali --
teristimewa
di
bidang seni
dan
budaya -- digulirkan
dari
balai banjar.
Seringkali
ide-ide
kreatif manusia
Bali
itu
digagas, didiskusikan
lantas
dimatangkan dalam
wujud
aktivitas berkesenian
yang nyata
di sini.
''Di
masa lalu,
peran
dan keberadaan
banjar
sebagai pusat
pengembangan
seni
dan budaya
memang
sangat kentara.
Sentrum
aktivitas
berkesenian
itu
memang ada
di
balai banjar-balai
banjar,''
kata
anggota DPRD Gianyar
Tjokorda
Ngurah
Suyadnya.
Namun,
dalam
konteks kekinian,
kata
wakil rakyat
asal
Puri Ubud
ini,
peran banjar
sebagai
pusat pengembangan
seni
budaya terkesan
agak
melemah kendati
tidak
menghilang
sama
sekali.
Fenomena
lesu
darah paling parah
tampak
menjangkiti banjar-banjar
di
perkotaan. Kemunduran
peran
banjar itu
boleh
jadi merupakan
dampak
ikutan dari
makin
heterogennya komunitas
masyarakat
perkotaan,
sehingga
budaya yang
berkembang pun
pelan
tetapi pasti
mulai
mengarah kepada
budaya "gado-gado".
Akulturasi
budaya
memang tak
terelakkan.
Belum
lagi,
dahsyatnya gempuran
arus
modernisasi dan
globalisasi yang
ditandai
dengan
pergeseran orientasi
masyarakat
ke
hal-hal yang cenderung
berbau
materialisme dan
individualisme
makin
menguat.
''Dibandingkan
banjar-banjar
di
pedesaan, tantangan
banjar-banjar
di
perkotaan dalam
mempertahankan
jati
dirinya sebagai
pusat
pengembangan seni
dan
budaya memang
lebih
berat,'' katanya
lagi.
Banjar
adalah
ajang untuk
menggali
ide-ide yang
kreatif
sekaligus merekatkan
ikatan
penyamabrayaan dan
spririt
salulung shabayantaka.
Bukan
sebaliknya, disalahfungsikan
untuk
menggelar kegiatan-kegiatan
yang tidak "sehat"
seperti
ngegosip, pesta
minuman
keras, perjudian
dan
rupa-rupa kegiatan
lainnya yang
justru
melemahkan jati
diri
manusia Bali itu
sendiri
sebagai insan yang
beradab
dan berbudaya.
''Saya
memang
punya kerinduan
melihat
balai banjar
kembali
riuh oleh
aktivitas
berkesenian.
Meskipun
tidak
menghilang secara
total, peran
balai
banjar untuk
kepentingan
itu
memang tidak
sesemarak
dulu,''
katanya dengan
tatapan
menerawang.
Sementara
itu,
Bupati Gianyar AA
Bharata
tidak menampik
bahwa
gairah berkesenian
di
tingkat banjar
memang
sempat mengalami
tanda-tanda
kemunduran.
Namun,
khusus
untuk Gianyar,
kelesuan
gairah
itu tidak
terlihat
nyata.
Pasalnya,
aktivitas
berkesenian
itu
masih berlangsung
dengan
baik.
Teristimewa
di
banjar-banjar yang
mengandalkan sektor
kepariwisataan
sebagai
sumber penghidupan
warganya,
aktivitas
berkesenian
itu
tetap terjaga
dengan
baik.
Dengan
kata
lain, di
sini
banjar belum
kehilangan
peran
dan fungsinya
sebagai
pusat pengembangan
seni
dan budaya.
''Kita tidak
bisa
menggeneralisasi seperti
itu.
Di
sejumlah
banjar,
kesenian itu
tetap
tumbuh dan
berkembang
dengan
baik dan
wajar,''
tegasnya.
*
w.
sumatika