kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 26 Pebruari 2005

 Kultur


Merevitalisasi
Peran Banjar,
Menjaga
Denyut ''Napas'' Budaya Bali 

Bagaikan orang berjalan mundur. Rasa cemas itulah yang kini menyesakkan dada ketika kita mendiskusikan peran banjar sebagai pusat pengembangan seni dan budaya Bali. Dalam konsteks ini, ada yang mengklaim banjar-banjar di Bali mulai lesu darah seiring makin dahsyatnya gelombang modernisasi yang menghantam. Denting suara gamelan yang ditabuh dengan panggul (alat pemukul-red) tak lagi terdengar nyaring di balai banjar-balai banjar krama Bali. Kesuntukan generasi muda Bali menekuni igel-igelan (tari-tarian), nyastra dan mawirama juga mulai menghilang dari balai banjar. Benarkah peran sentral dan strategis banjar dalam menumbuhkembangkan aktivitas seni dan budaya di tataran masyarakat terbawah sudah mulai melemah?

 

 

Menelusuri jejak sejarah perkembangan seni budaya Balimaka kita tidak bisa melepaskan peran banjar sebagai pusat aktivitas berkesenian dan mengembangkan budaya adiluhung warisan leluhur. Di masa lampau, dominasi dan hegemoni banjar dalam membangun kultur masyarakat bermentalitas luhur, berbudaya, bertata krama santun dan sejumlah nilai positif lainnya sangat mengakar.

Hampir seluruh aktivitas penting krama Bali -- teristimewa di bidang seni dan budaya -- digulirkan dari balai banjar. Seringkali ide-ide kreatif manusia Bali itu digagas, didiskusikan lantas dimatangkan dalam wujud aktivitas berkesenian yang nyata di sini.

''Di masa lalu, peran dan keberadaan banjar sebagai pusat pengembangan seni dan budaya memang sangat kentara. Sentrum aktivitas berkesenian itu memang ada di balai banjar-balai banjar,'' kata anggota DPRD Gianyar Tjokorda Ngurah Suyadnya.

Namun, dalam konteks kekinian, kata wakil rakyat asal Puri Ubud ini, peran banjar sebagai pusat pengembangan seni budaya terkesan agak melemah kendati tidak menghilang sama sekali. Fenomena lesu darah paling parah tampak menjangkiti banjar-banjar di perkotaan. Kemunduran peran banjar itu boleh jadi merupakan dampak ikutan dari makin heterogennya komunitas masyarakat perkotaan, sehingga budaya yang berkembang pun pelan tetapi pasti mulai mengarah kepada budaya "gado-gado".

Akulturasi budaya memang tak terelakkan. Belum lagi, dahsyatnya gempuran arus modernisasi dan globalisasi yang ditandai dengan pergeseran orientasi masyarakat ke hal-hal yang cenderung berbau materialisme dan individualisme makin menguat. ''Dibandingkan banjar-banjar di pedesaan, tantangan banjar-banjar di perkotaan dalam mempertahankan jati dirinya sebagai pusat pengembangan seni dan budaya memang lebih berat,'' katanya lagi.

Banjar adalah ajang untuk menggali ide-ide yang kreatif sekaligus merekatkan ikatan penyamabrayaan dan spririt salulung shabayantaka. Bukan sebaliknya, disalahfungsikan untuk menggelar kegiatan-kegiatan yang tidak "sehat" seperti ngegosip, pesta minuman keras, perjudian dan rupa-rupa kegiatan lainnya yang justru melemahkan jati diri manusia Bali itu sendiri sebagai insan yang beradab dan berbudaya. ''Saya memang punya kerinduan melihat balai banjar kembali riuh oleh aktivitas berkesenian. Meskipun tidak menghilang secara total, peran balai banjar untuk kepentingan itu memang tidak sesemarak dulu,'' katanya dengan tatapan menerawang.

Sementara itu, Bupati Gianyar AA Bharata tidak menampik bahwa gairah berkesenian di tingkat banjar memang sempat mengalami tanda-tanda kemunduran. Namun, khusus untuk Gianyar, kelesuan gairah itu tidak terlihat nyata. Pasalnya, aktivitas berkesenian itu masih berlangsung dengan baik. Teristimewa di banjar-banjar yang mengandalkan sektor kepariwisataan sebagai sumber penghidupan warganya, aktivitas berkesenian itu tetap terjaga dengan baik.

Dengan kata lain, di sini banjar belum kehilangan peran dan fungsinya sebagai pusat pengembangan seni dan budaya. ''Kita tidak bisa menggeneralisasi seperti itu. Di sejumlah banjar, kesenian itu tetap tumbuh dan berkembang dengan baik dan wajar,'' tegasnya.

* w. sumatika

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)