kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 26 Pebruari 2005

 Bali


Melongok Instalasi Gizi RS Sanglah  --
Juru Masak Merangkap Petugas Kebersihan

 

URUSAN penyiapan makanan bergizi di rumah sakit tidak bisa dipandang enteng. Makanan merupakan hal penting, terutama bagi pasien sakit yang ingin segera memulihkan kondisi kesehatannya. Mereka tentu harus mendapatkan makanan bergizi, sehat dan higienis. Di sinilah tugas para juru masak dan ahli gizi di bagian Instalasi Gizi yang bertempat di pojok belakang RS Sanglah.

Kesibukan di Instalasi Gizi pagi itu dimulai. Beberapa juru masak menggunakan sarung tangan mengupas sayuran, buah, menyiapkan bumbu, membuat susu dan sebagainya. Beberapa nampan berisikan "daftar" makanan pesanan pasien di Ruang VVIP dan makanan bagi pasien diet khusus. Persis seperti suasana di restoran. Maklum saja, Instalasi Gizi menangani pengolahan dan pendistribusian makanan bagi pegawai RS dan pasien rawat inap mulai VVIP sampai kelas 3. Berkekuatan total 83 pegawai, terdiri 23 juru masak dan 19 ahli gizi, mereka harus mengurusi sekitar 500 sampai 600 pasien sehari. "Mereka kerja keras, karenanya stamina mereka sangat bagus. Bayangkan, satu orang bisa memasak untuk 11 item makanan," ujar Kepala Instalasi Gizi RS Sanglah, Hj. Rina Maharani, M.DCN, Jumat (25/2) kemarin.

Para petugas di Instalasi gizi tersebut mempunyai tugas menyiapkan lima jenis makanan, terdiri makanan biasa, lunak, saring, cair, dan makanan yang disalurkan lewat pipa, bagi pasien yang tidak mampu mengunyah. Belum lagi makanan bagi pasien diet khusus karena alasan penyakit tertentu seperti misalnya diabetes melitus. 

Pasien mendapatkan jatah makan pagi, siang, sore, dan dua kali snack pada pukul 10.00 dan 16.00 wita. Siklus menu diatur tiap 10 hari, supaya bervariasi dan pasien tidak cepat bosan. "Tidak ada perbedaan kualitas bahan makanan bagi pasien di masing-masing kelas. Yang berbeda hanya jenis dan harga bahan makanan," jelas Rina. Ditambahkannya, jenis buah bagi pasien di kelas VVIP berharga lebih mahal. Menu makanan mereka juga lebih sering daging dan ayam, sementara pasien kelas 3 sesekali saja mendapatkan menu ayam.

Kebutuhan makanan para pasien diperhatikan ahli gizi yang berada di tiap-tiap ruangan. Masing-masing ahli gizi menangani empat ruangan. Mereka bertugas mencatat apa saja makanan yang diperlukan pasien, terutama pasien dengan diet khusus. Mekanisme kerja mereka, tiap hari pukul 9 para ahli gizi ini menyerahkan Daftar Permintaan Makanan Pasien (DPMP) untuk pasien RS yang tercatat hingga pukul 00.00 wita kemarinnya. Untuk pasien yang masuk di luar jam tersebut harus mengisi daftar bon dan order bagi pasien asing. Jumlah pasien direkap, dikirim ke bagian perbekalan dan persiapan bahan makanan, dirangkum lagi untuk menentukan jumlah bahan makanan kering dan basah. Sekaligus juga daftar spesifikasi bahan makanan tersebut. Tiap pagi, pukul 07.00-10.00 bahan makanan harus sudah diantarkan para pemenang tender yang bertanggung jawab menyuplai bahan makanan sesuai spesifikasi yang ditetapkan. Memang, sistemnya, tiap tiga bulan dibuat pengadaan bahan makanan melalui proses tender orang-orang di luar lingkungan RS.

Dana yang dialokasikan untuk persiapan bahan makanan selalu berubah. Tahun 2004 lalu, anggarannya mencapai kisaran Rp 3,2 milyar. Selama Januari 2005, biaya makan pasien VVIP rata-rata Rp 27.000, sementara pasien kelas 3 rata rata Rp 12.000. "Biaya makan pasien kelas 3 justru lebih mahal karena mereka banyak yang diet khusus, seperti makanan tinggi kalori dan tinggi protein. Artinya porsi lauk pauknya bisa dua kali lipat sehingga lebih mahal," ujar perempuan asal Purwokerto, Jawa Tengah itu.

Pekerjaan para petugas Instalasi Gizi masih berlanjut. Setelah semua makanan siap, tahap berikutnya masuk ke Quality Control. Para ahli gizi mencicipi makanan tersebut, dan mengecek ulang sebelum didistribusikan kepada pasien. Makanan untuk pasien penyakit menular ditempatkan dalam kotak khusus. Persis seperti di pabrik, makanan dijajar, diambil satu-satu di depan semacam "loket" penerima makanan.

Tugas selanjutnya bersih-bersih dapur. Para juru masak sekaligus menjadi petugas kebersihan yang membersihkan semua sampah, menyapu, mengepel, mensterilkan peralatan memasak dan sebagainya.

Untuk menambah kemampuan, tidak main-main, para juru masak juga sering mengikuti kursus memasak dan seminar. Terkadang pihak RS memanggil cook, juru masak dari hotel untuk membagikan ilmu memasaknya.

Beberapa pasien yang ditemui di ruang Ratna mengaku pelayanan makanan di RS Sanglah cukup baik dan bersih. "Sesuai dengan diet khusus, kalau memang tidak boleh pakai garam, ya makanannya memang tidak pakai garam. Saya biasanya bisa makan sampai habis," ujar mereka. (ari)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)