Melongok Instalasi Gizi RS Sanglah
--
Juru Masak Merangkap Petugas Kebersihan
URUSAN
penyiapan makanan bergizi di rumah sakit tidak bisa
dipandang enteng. Makanan merupakan hal penting,
terutama bagi pasien sakit yang ingin segera memulihkan
kondisi kesehatannya. Mereka tentu harus mendapatkan
makanan bergizi, sehat dan higienis. Di sinilah tugas
para juru masak dan ahli gizi di bagian Instalasi Gizi
yang bertempat di pojok belakang RS Sanglah.
Kesibukan di Instalasi Gizi pagi itu dimulai. Beberapa
juru masak menggunakan sarung tangan mengupas sayuran,
buah, menyiapkan bumbu, membuat susu dan sebagainya.
Beberapa nampan berisikan "daftar" makanan pesanan
pasien di Ruang VVIP dan makanan bagi pasien diet khusus.
Persis seperti suasana di restoran. Maklum saja,
Instalasi Gizi menangani pengolahan dan pendistribusian
makanan bagi pegawai RS dan pasien rawat inap mulai VVIP
sampai kelas 3. Berkekuatan total 83 pegawai, terdiri 23
juru masak dan 19 ahli gizi, mereka harus mengurusi
sekitar 500 sampai 600 pasien sehari. "Mereka kerja
keras, karenanya stamina mereka sangat bagus. Bayangkan,
satu orang bisa memasak untuk 11 item makanan," ujar
Kepala Instalasi Gizi RS Sanglah, Hj. Rina Maharani,
M.DCN, Jumat (25/2) kemarin.
Para petugas di Instalasi gizi tersebut mempunyai tugas
menyiapkan lima jenis makanan, terdiri makanan biasa,
lunak, saring, cair, dan makanan yang disalurkan lewat
pipa, bagi pasien yang tidak mampu mengunyah. Belum lagi
makanan bagi pasien diet khusus karena alasan penyakit
tertentu seperti misalnya diabetes melitus.
Pasien mendapatkan jatah makan pagi, siang, sore, dan
dua kali snack pada pukul 10.00 dan 16.00 wita. Siklus
menu diatur tiap 10 hari, supaya bervariasi dan pasien
tidak cepat bosan. "Tidak ada perbedaan kualitas bahan
makanan bagi pasien di masing-masing kelas. Yang berbeda
hanya jenis dan harga bahan makanan," jelas Rina.
Ditambahkannya, jenis buah bagi pasien di kelas VVIP
berharga lebih mahal. Menu makanan mereka juga lebih
sering daging dan ayam, sementara pasien kelas 3
sesekali saja mendapatkan menu ayam.
Kebutuhan makanan para pasien diperhatikan ahli gizi
yang berada di tiap-tiap ruangan. Masing-masing ahli
gizi menangani empat ruangan. Mereka bertugas mencatat
apa saja makanan yang diperlukan pasien, terutama pasien
dengan diet khusus. Mekanisme kerja mereka, tiap hari
pukul 9 para ahli gizi ini menyerahkan Daftar Permintaan
Makanan Pasien (DPMP) untuk pasien RS yang tercatat
hingga pukul 00.00 wita kemarinnya. Untuk pasien yang
masuk di luar jam tersebut harus mengisi daftar bon dan
order bagi pasien asing. Jumlah pasien direkap, dikirim
ke bagian perbekalan dan persiapan bahan makanan,
dirangkum lagi untuk menentukan jumlah bahan makanan
kering dan basah. Sekaligus juga daftar spesifikasi
bahan makanan tersebut. Tiap pagi, pukul 07.00-10.00
bahan makanan harus sudah diantarkan para pemenang
tender yang bertanggung jawab menyuplai bahan makanan
sesuai spesifikasi yang ditetapkan. Memang, sistemnya,
tiap tiga bulan dibuat pengadaan bahan makanan melalui
proses tender orang-orang di luar lingkungan RS.
Dana yang dialokasikan untuk persiapan bahan makanan
selalu berubah. Tahun 2004 lalu, anggarannya mencapai
kisaran Rp 3,2 milyar. Selama Januari 2005, biaya makan
pasien VVIP rata-rata Rp 27.000, sementara pasien kelas
3 rata rata Rp 12.000. "Biaya makan pasien kelas 3
justru lebih mahal karena mereka banyak yang diet khusus,
seperti makanan tinggi kalori dan tinggi protein.
Artinya porsi lauk pauknya bisa dua kali lipat sehingga
lebih mahal," ujar perempuan asal Purwokerto, Jawa
Tengah itu.
Pekerjaan para petugas Instalasi Gizi masih berlanjut.
Setelah semua makanan siap, tahap berikutnya masuk ke
Quality Control. Para ahli gizi mencicipi makanan
tersebut, dan mengecek ulang sebelum didistribusikan
kepada pasien. Makanan untuk pasien penyakit menular
ditempatkan dalam kotak khusus. Persis seperti di pabrik,
makanan dijajar, diambil satu-satu di depan semacam "loket"
penerima makanan.
Tugas selanjutnya bersih-bersih dapur. Para juru masak
sekaligus menjadi petugas kebersihan yang membersihkan
semua sampah, menyapu, mengepel, mensterilkan peralatan
memasak dan sebagainya.
Untuk menambah kemampuan, tidak main-main, para juru
masak juga sering mengikuti kursus memasak dan seminar.
Terkadang pihak RS memanggil cook, juru masak dari hotel
untuk membagikan ilmu memasaknya.
Beberapa pasien yang ditemui di ruang Ratna mengaku
pelayanan makanan di RS Sanglah cukup baik dan bersih. "Sesuai
dengan diet khusus, kalau memang tidak boleh pakai garam,
ya makanannya memang tidak pakai garam. Saya biasanya
bisa makan sampai habis," ujar mereka.
(ari)