kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 26 Pebruari 2005

 Bali


Senderan
Tukad Mati Jebol  ---
Dikhawatirkan
Aliran Drainase Ancam Rumah Warga 

Denpasar (Bali Post) -
Warga
yang tinggal di seputaran pinggiran alur Tukad Mati yang menjadi pembuangan akhir aliran drainase Kuta kini cemas, akibat senderan tukad itu sebagian jebol. Jebolnya senderan diduga karena pekerjaan proyek yang kurang bagus serta luapan air pada saat musim hujan serta limpahan air drainase yang cukup besar.

Warga setempat Wayan Lateg serta anggota Dewan Puspa Negara yang meninjau lokasi itu, Jumat (25/2) kemarin mengatakan bila senderan itu dibiarkan jebol dikhawatirkan saat hujan turun air akan meluap dan memasuki rumah warga. ''Kami berharap pemerintah cepat tanggap soal ini,'' pintanya.

Dikatakan, warga memang secara swadaya sudah berupaya melakukan perbaikan. Namun, pemkab jangan tinggal diam. ''Ini juga merupakan tanggung jawab pemerintah,'' jelasnya. Menurut Puspa, senderan yang jebol saat ini mencapai panjang sekitar 100 meter. Ia khawatir kalau tak ada antisipasi lanjutan, maka bagian lain akan ikut mengalami kerusakan.

Sikap antisipasi itu dinilai penting, sebab Tukad Mati selama ini menjadi tempat pembuangan aliran air dari proyek drainase selain limpahan air lainnya. Selain senderan yang jebol, warga juga kini menghadapi masalah genangan air di Jalan Kuta Plaza karena kurang baiknya penyelesaian pekerjaan akhir saat proyek drainase.

Bahkan jalan di Kubu Anyar, Kuta juga dikeluhkan karena kondisinya rusak parah karena bagian pinggiran jalan yang terkena proyek drainase tak diselesaikan dengan baik. ''Kita sudah ajukan protes terkait sejumlah kerusakan yang timbul pascadrainase dibangun di Kuta,'' ujar Puspa Negara.

Ia minta pemkab lebih rajin turun ke lapangan setelah proyek-proyek yang dibangun dinyatakan selesai. Agar dampak  negatifnya akibat kesalahan pengerjaan tak terlalu memberatkan warga. ''Warga akan sangat trauma kalau terus menerus dihadapkan akan masalah ini,'' jelasnya.

Puspa mengkhawatirkan kasus-kasus seperti itu akan menjadi preseden buruk bagi kelanjutan proyek berikutnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya penolakan proyek besar yang dirancang untuk Kuta. Selain proyek DSDP yang sampai kini masih mengambang alias tak ada kepastian apa boleh dikerjakan di Kuta setelah ditolak warga, sebelumnya proyek penataan pantai juga menimbulkan pro-kontra.

Tokoh Kuta yang juga anggota DPRD Badung, Bagiana Karang mengatakan warga sempat minta proyek penataan pantai di daerah itu direvisi karena dianggap tak sesuai. Soal DSDP (proyek pengolahan limbah cair) yang kini juga belum disetujui warga, menurut Bagiana Karang karena warga meragukan proyek itu.

Jangan-jangan juga bikin masalah sebagaimana halnya proyek drainase. Apalagi warga melihat DSDP yang kini digarap di Denpasar telah menimbulkan kemacetan. ''Kuta ini sempit. Kalau sampai macet warga dan wisatawan akan sangat terganggu dan dirugikan,'' ujar anggota Dewan asal Kuta, Dewa Manik, S.H. (031)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)