Diduga
sering
Memalak ---
Siswa
SD Dikeroyok
Temannya
Sendiri
Tabanan
(Bali Post) -
Sebuah
drama satu
babak
dipertontonkan siswa
SD 3 Luwus,
Baturiti.
Diduga
karena
sering memalak (memeras-red)
teman-temannya, I
Wayan
Budiartha (12), siswa
kelas VI SD 3
Luwus,
Baturiti, akhirnya
menjadi
bulan-bulanan teman-temannya.
Akibatnya,
hidung
dan pipinya
lebam
kebiruan.
Paman
korban Made
Supartha
mengaku
tidak percaya
dengan
kejadian pahit yang
menimpa
keponakannya itu.
Ia
pun makin
tidak
percaya ketika
mendengar
pengaduan
bahwa
Budiartha sering
memalak
teman-temannya. Dari cerita
keponakannya
itu,
ia
akhirnya
tahu
bahwa pelakunya
adalah
Ade, Soma, dan
Sudar.
Meski
belum
mengetahui jelas
duduk
masalahnya Supartha
kemudian
melapor
ke Polres
Tabanan
sekitar pukul 14.30
wita
dengan harapan
kasusnya
bisa
diselesaikan secara
tuntas.
Korban
juga
diajak saat
melapor.
Kepada
polisi
dengan polos
Budiartha
mengaku
jika dirinya
telah
dipukuli beramai-ramai
oleh
ketiga rekannya
saat
bermain.
Hanya,
saat
itu dia
tak
berani melaporkan
kepada guru
kelas
kejadian yang menimpa
dirinya.
Dia
memilih
bercerita kepada
pamannya
begitu
tiba di
rumah.
Ketika
ditanya
apa
sebabnya
teman-temannya
bertindak
seperti
itu, Budiartha
mengaku
tidak tahu.
Namun,
setelah
diminta bercerita
barangkali
sebelumnya
dia
pernah punya
masalah
dengan ketiga
rekannya
itu,
barulah korban
teringat
kejadian
tiga
bulan lalu.
Saat
itu diakui,
dirinya
pernah meminta
uang
kepada tiga
anak
itu sampai
lima
kali dengan total
uang yang
didapat
Rp 2.500.
Hanya,
ketika
ditanya apakah
dirinya
memaksa meminta
uang
itu, buru-buru
Budiartha
mengaku
tidak pernah
memaksa.
''Saya
hanya
bilang minta
uangnya,
kemudian
langsung
diberi.
Saya
tidak
pernah memaksa,
kalau
tidak diberi
juga
tidak masalah,''
ujarnya
polos.
Supartha
menambahkan
kejadian yang
menimpa
keponakannya itu
sebenarnya
sudah
kedua kalinya.
Pada
kejadian
pertama
saat keponakannya
dikeroyok
sempat
diketahui salah
seorang guru.
Namun,
menurut
dia, guru itu
tidak
memberikan peringatan
apa-apa.
Solusi
Terbaik
Karena
masalah
ini melibatkan
anak-anak
usia
sekolah
dan masih
di
bawah umur,
polisi yang
menerima
laporan
itu memberi saran
agar sebelum
ditindaklanjuti
pihak
kepolisian agar dilaporklan
dulu ke
kepala
sekolahnya.
Harapannya,
agar masalah
itu
bisa diselesaikan
secara internal
di
sekolah mereka
sehingga
ada
solusi terbaik.
Penyelesaian
lewat
jalan hukum
secara
psikologis justru
akan
merugikan
anak
itu sendiri.
Kapolres
Tabanan AKBP Drs.
Gede Alit
Widana
mengaku terkejut
melihat
fakta yang terjadi
di
lapangan.
Ia
sama
sekali tidak
percaya
kalau ada
anak
seusia Budiartha
sudah
berani memalak
teman-temannya.
Begitu
pula teman-temannya
sudah pula
berani main
keroyok.
Namun,
katanya,
semua
pihak mesti
mencari
jalan terbaik,
sebelum
akhirnya menjadi
lebih
rumit lagi.
(015)