kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Wage, 26 Pebruari 2005

 Bali


Diduga
sering Memalak ---
Siswa
SD Dikeroyok Temannya Sendiri 

Tabanan (Bali Post) -
Sebuah
drama satu babak dipertontonkan siswa SD 3 Luwus, Baturiti. Diduga karena sering memalak (memeras-red) teman-temannya, I Wayan Budiartha (12), siswa kelas VI SD 3 Luwus, Baturiti, akhirnya menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Akibatnya, hidung dan pipinya lebam kebiruan.

Paman korban Made Supartha mengaku tidak percaya dengan kejadian pahit yang menimpa keponakannya itu. Ia pun makin tidak percaya ketika mendengar pengaduan bahwa Budiartha sering memalak teman-temannya. Dari cerita keponakannya itu, ia akhirnya tahu bahwa pelakunya adalah Ade, Soma, dan Sudar.

Meski belum mengetahui jelas duduk masalahnya Supartha kemudian melapor ke Polres Tabanan sekitar pukul 14.30 wita dengan harapan kasusnya bisa diselesaikan secara tuntas. Korban juga diajak saat melapor. Kepada polisi dengan polos Budiartha mengaku jika dirinya telah dipukuli beramai-ramai oleh ketiga rekannya saat bermain. Hanya, saat itu dia tak berani melaporkan kepada guru kelas kejadian yang menimpa dirinya. Dia memilih bercerita kepada pamannya begitu tiba di rumah.

Ketika ditanya apa sebabnya teman-temannya bertindak seperti itu, Budiartha mengaku tidak tahu. Namun, setelah diminta bercerita barangkali sebelumnya dia pernah punya masalah dengan ketiga rekannya itu, barulah korban teringat kejadian tiga bulan lalu. Saat itu diakui, dirinya pernah meminta uang kepada tiga anak itu sampai lima kali dengan total uang yang didapat Rp 2.500.

Hanya, ketika ditanya apakah dirinya memaksa meminta uang itu, buru-buru Budiartha mengaku tidak pernah memaksa. ''Saya hanya bilang minta uangnya, kemudian langsung diberi. Saya tidak pernah memaksa, kalau tidak diberi juga tidak masalah,'' ujarnya polos.

Supartha menambahkan kejadian yang menimpa keponakannya itu sebenarnya sudah kedua kalinya. Pada kejadian pertama saat keponakannya dikeroyok sempat diketahui salah seorang guru. Namun, menurut dia, guru itu tidak memberikan peringatan apa-apa.

 

Solusi Terbaik

 

Karena masalah ini melibatkan anak-anak usia sekolah dan masih di bawah umur, polisi yang menerima laporan itu memberi saran agar sebelum ditindaklanjuti pihak kepolisian agar dilaporklan dulu ke kepala sekolahnya. Harapannya, agar masalah itu bisa diselesaikan secara internal di sekolah mereka sehingga ada solusi terbaik. Penyelesaian lewat jalan hukum secara psikologis justru akan merugikan anak itu sendiri.

Kapolres Tabanan AKBP Drs. Gede Alit Widana mengaku terkejut melihat fakta yang terjadi di lapangan. Ia sama sekali tidak percaya kalau ada anak seusia Budiartha sudah berani memalak teman-temannya. Begitu pula teman-temannya sudah pula berani main keroyok. Namun, katanya, semua pihak mesti mencari jalan terbaik, sebelum akhirnya menjadi lebih rumit lagi. (015)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)