Cacat
Fisik, Mengayuh
Sepeda
Antarpulau
Saya
sudah enam
tahun tinggal
di
Bandung,
Jawa Barat,
di daerah
pusat
kota.
Pada
tahun ketiga
(sekitar 2001)
ada seorang
Bali
bernama Bli
Gede Baru.
Saya sebut
begitu karena
usianya tiga
tahun lebih
tua dari
saya, datang
dari Yogya
seorang diri,
bukan dengan
menumpang bus
atau kereta
api,
tapi dengan
bersepeda, ya....bersepeda
gayung.
Kami
bertemu di
Asrama Mahasiswa
Bali Otten.
Di
sana
kami ngobrol
dengan
teman-teman sesama
mahasiswa Bali yang
tinggal di
Bandung.
Bli Gede
bercerita bahwa
dirinya bersepeda
dari Yogya
(karena kuliah
di
sana),
lalu menuju
Bandung.
Perjalanannya
akan
dilanjutkan ke Jakarta, yang
selanjutnya
menuju Pantura
dan akan
berakhir di
Bali. Dia
bersepeda dalam
usaha meminta
dukungan
dana kepada
para donatur
yang ada di
daerah-daerah
tadi, untuk
renovasi Pura
yang berlokasi di
daerah Gunung
Kidul Yogyakarta.
Yang paling
membuat saya
terharu adalah
kondisinya yang (maaf)
cacat fisik.
Untuk
berjalan Bli
Gede memerlukan
bantuan sebuah
tongkat kaki,
karena ketidaksempurnaan
kondisi kaki
kanannya.
Tapi walau
begitu, dia
dapat mengayuh
sepeda dengan
baik, tentu
saja dengan
membawa serta
tongkat kakinya
ke mana-mana
bersama sepedanya.
Bli
Gede mengisahkan
perjalanannya
dari Yogya,
menyusuri
jalan-jalan sepi
sendirian di
malam hari.
Kadang
terlintas rasa
takut di
benaknya ketika
melewati daerah
kuburan yang sepi
sendirian di
malam hari.
Halangan lain
yang dia hadapi
adalah ketika
di jalan
tanjakan.
Bli
Gede terpaksa
turun dari
sepeda, menuntun
sepedanya, sambil
berjalan dengan
bantuan sebuah
tongkat kaki.
Bahkan
celananya sampai
aus (bubul-bahasa
Bali)
karena lamanya
bersepeda.
Di
tengah perjalanan
dia biasa
menginap di
rumah penduduk
yang dengan
simpatik menerima
kehadirannya,
atau bahkan
menginap di
pos/kantor polisi.
Bli Gede
dalam
perjalanannya hanya
membawa beberapa
set pakaian,
sebuah tas
punggung, tongkat
kaki,
surat
pengantar, dan
sepeda Federalnya.
Terakhir
saya ditelepon
oleh Bli
Gede, katanya
sudah sampai
di Jakarta.
Sampai
saat ini,
saya tidak
mendengar lagi
kabar darinya,
apakah sudah
di Yogya
lagi atau
masih di
Bali.
Saya
sangat terkesan
dan kagum
dengan semangat
hidup Bli
Gede.
Kondisi fisik
tidak menjadi
halangan baginya
untuk mengabdikan
hidupnya bagi
kepentingan orang
lain. Saya
juga seorang
biker (suka
bersepeda), saya
mengerti sekali
letihnya
bersepeda jarak
jauh, apalagi
sampai antar
pulau, dengan
kondisi fisik
yang tidak
sempurna pula.
Bli
Gede telah
berbuat sesuatu
bagi umat
Hindu di Gunung
Kidul, apakah
kita yang diberi
kesempurnaan
fisik ini
bisa melakukan Dharma
seperti yang
dilakukan Bli
Gede?
I
Kadek
Suparta
Asrama
Mahasiswa Bali
Otten
Bandung