Pramono R. Pramoedjo
Di Mancanegara, Karya Kartunis Indonesia
sudah Sejajar
Mungkin karena sudah sejak lama ''bergaul'' dengan
gambar-gambar kartun, dalam kesehariannya, bibir sosok pria
bernama lengkap Pramono R. Pramoedjo ini selalu akrab dengan
senyum. Jika diajak ngobrol, seserius apa pun, pria kelahiran
Magelang, 5 Desember 1942 yang beristrikan Ny. Sri Rahayu ini
selalu menyelipkan celetukan-celetukan humornya. Bagi ayah tiga
anak yang alumnus ASRI Yogyakarta ini, hidup itu sesungguhnya
memang kartunal. Berikut wawancara Bali Post dengan kartunis atau
karikaturis (pembuat kartun dan karikatur) yang kini bekerja
sebagai karikaturis tetap HU Sinar Harapan ini. Serangkaian dengan
acara Pakarnas dan Mukernas Kartun yang kini sedang digelar di
ARMA Ubud, Gianyar, Pramono yang Ketua Persatuan Kartunis
Indonesia (Pakarti) sejak 1989 ini baru saja digantikan oleh
kepengurusan baru.
-------------------------------
SECARA
umum, bagaimana Anda melihat kartun di
Indonesia?
Kartun di Indonesia sangat berkembang. Hal ini saya
katakan karena saya melihat petanya bisa berubah-ubah. Bahkan
tidak kaku sekali. Hal ini saya lihat dari Sabang sampai Merauke,
dari Medan sampai Denpasar, terus dari Denpasar sampai ke Makasar,
Banjarmasin. Sedangkan untuk Indonesia Timur, belum terjamah, atau
belum terdata.
Para
kartunisnya terlihat sangat potensial. Karya-karya mereka tidak
saja sekadar terlihat lucu, juga mengandung humor tinggi. Pesan di
dalamnya menyiratkan makna yang bisa diperhitungkan.
Para
kartunis Indonesia sangat antusias untuk bisa maju. Kalau saya
melihat peta itu, jujur saja, yang sangat pesat maju adalah
kartunis Bali.
Menurut Anda, kapan sesungguhnya kartun di
Indonesia itu "mulai"?
Di Indonesia, kartun sebagai media kritik sudah
sejak lama dibuat oleh pelukis Affandi, Sudjojono, juga sebagian
para pelukis senior yang sudah wafat. Meskipun berupa lukisan,
karya-karya mereka mengandung hal-hal yang satiristik. Sebetulnya
gambarnya pun kartun, meskipun diungkap dengan media cat minyak
dan sebagainya. Justru saya melihat di situ sangat jelas. Misalnya
pelukis Sudjojono di galerinya di Pasar Minggu
Jakarta,
karyanya sangat lucu-lucu. Artinya, di situ ada kritik sosial
terhadap kehidupan masyarakat yang dia lihat. Contohnya soal jorok,
kumuh, tukang judi, sambung ayam, semuanya itu disajikan dengan
artistik yang menyedihkan.
Kalau kartun sekarang?
Kartun sekarang kebanyakan grafis dan artistik.
Bisa jadi di koran atau di majalah sebagai ilustrasi sebuah cerita.
Garis atau arsirnya sangat disederhanakan, namun ekspresi dari
pesan yang hendak disampaikan melalui objek-objek itu jelas.
Misalnya, sedang marah, sedih, menangis, sedang bego dan
sebagainya. Sekali lagi, kartun sekarang, walau garisnya sederhana,
namun pesannya sampai.
Namun saya bukan bermaksud membandingkan keindahan
garis maupun bentuk dari masing-masing karya kartunis itu.
Bagaimana "posisi" kartun Indonesia kini di tingkat
internasional?
Peta kartunis di Indonesia, saya pikir, perlu
dibenahi lagi sehingga ada standardisasi. Di dunia internasional,
terutama di negara ASEAN, kartunis-kartunis di Indonesia sangat
diperhitungkan saat ini. Artinya, di dalam segala macam lomba
ataupun pameran, kartunis Indonesia selalu diundang. Juga tidak
jarang para kartunis di
Indonesia
memenangkan salah satu kategori, meskipun itu belum menjadi
pemenang utama atau pemecah rekor.
Melihat hal itu, kartunis Indonesia berarti sudah
dapat dipahami oleh orang-orang luar negeri, meskipun tanpa
kata-kata. Hal ini berbeda kalau kita melihat kartun-kartun di
Singapura, sama sekali unsur-unsur kritikannya sangat lemah.
Karena, pada dasarnya mereka dilarang untuk mengkritik pejabat
tinggi atau tokoh-tokoh masyarakat.
Berarti kebijakan suatu negara amat mempengaruhi
proses kreatif seorang kartunis?
Ya, itu sangat berhubungan dengan bisnis suatu
negara. Ada pemikiran bahwa karikatur itu akan mengkritik
seseorang dan itu akan mempengaruhi laju bisnis serta investasi
suatu negara. Di Malaysia, karikatur juga tidak berkembang secara
baik. Maksudnya, banyak ditutup-tutupi dan diperhalus. Kemudian
lucunya ditambah, sehingga banyak hiasan saja. Di Malaysia, kartun
maupun karikatur mengkritik pejabat kerajaan juga dilarang.
Berbeda dengan di Filipina yang diktator. Hampir sama dengan di
Indonesia yang sangat keras, siapa yang mengkritik Marcos akan
menerima akibatnya, ditutup, dibredel dan sebagainya. Hal itu
seperti pada zaman Soeharto, pada akhir pemerintahnnya, sangat
represif terhadap koran-koran yang mengkritik terhadap
kebijaksanaannya.
Lalu, dari sisi kualitas karya, dibanding dengan
negara-negara lain, bagaimana karya-karya kartunis Indonesia?
Apakah karya kartunis Indonesia sudah memiliki
karakter?
Sebetulnya, kualitas karya kartun di Indonesia itu sudah bagus
bahkan sudah sejajar dengan kartunis dari negara lain. Tetapi,
kalau berbicara mengenai karakter, apakah itu ciri khas
Indonesia,
itu yang susah. Sebab, Indonesia terdiri dari 17.000 pulau, 300
budaya, 300 bahasa dan 300 kebiasaan masing-masing suku. Kalau
pakai blangkon dikira Jawa, kalau pakai udeng dikira Bali, diberi
kopyah dikira muslim, dan sebagainya. Ini yang susah. Jadi
karakter Indonesia ini tidak jelas
. Bagi saya, harus dibikin suatu kartun yang
homogen. Supaya bisa kelihatan seperti Jepang ataupun Italia.
Sehingga kita bisa menyebut ini kartun Bali, ini kartun Jawa,
Makasar.
Jadi karakter kartun Indonesia itu memang tidak ada?
Tidak ada, tidak bisa dibuat semacam itu. Kesulitan
semacam itu tidak saja dialami oleh para pekartun Indonesia, juga
ilustrator Indonesia. Kalau sedang membuat suatu buku tentang
wajah Indonesia, yang mana? Karena ada yang berkopyah, bersarung,
ini Betawi, atau yang lainnya. Semua itu tidak jelas. Malah makin
tidak jelas kalau memakai pakaian yang campur aduk. Nah, kalau
memakai udeng pasti Bali, memakai blangkon itu Jawa, tetapi kalau
Indonesia itu susah. Kemudian juga ilustrasi-ilustrasi untuk
kebutuhan agama, misalnya Buddha itu membutuhkan karakter-karakter
Indonesia,
tapi orang tidak akan mau memakai kopyah. Itu sangat jelas sekali.
Jadi yang Indonesia itu memang belum ada dan tidak mungkin ada.
Tapi, karya kartunis Indonesia kan sudah bisa
disejajarkan dengan karya-karya kartunis mancanegara?
Kalau melihat dari hasil karya kartunis Indonesia
yang menang pada lomba-lomba internasional, itu memang suatu tanda
atau barometer bahwa kartunis Indonesia itu sudah sejajar dengan
karya-karya kartunis Barat ataupun Asia. Tetapi, yang belum
sejajar itu adalah karakter kartunisnya. Mereka banyak yang belum
percaya diri dan selalu minder, padahal sesungguhnya mereka mampu
membuat karya yang bagus dan sejajar di negara lain. Dan itu pun
dihargai oleh negara lain, namun kurang dihargai di negeri sendiri.
Mereka menganggap pekartun itu adalah orang-orang yang membuat
karya-karya untuk anak-anak saja. Banyak yang menganggap kartun
hanya untuk anak-anak. Padahal sebetulnya kartun itu ada juga
untuk orang dewasa. Juga ada dibuat khusus untuk orang-orang
khusus.
Bagaimana soal pemahaman kartun seperti itu di luar
negeri?
Masyarakat di Amerika dan Eropa sudah bisa
menikmani pemisahan itu. Anak-anak di sana tidak akan mungkin
melihat kartun yang untuk orang dewasa. Anak-anak merasa tidak
suka dan tidak mengerti. Pada kartun dewasa ada percintaannya, ada
laganya, juga ada keindahan dari puisi gambar itu. Berbeda sekali
dengan Doraemon yang memang khusus untuk anak-anak.
* * *
Esensi kartun itu penuh kritik namun tetap dalam
koridor humor. Namun, banyak pihak yang masih alergi menghadapi
kartun. Pendapat Anda?
Sebetulnya, gambar kartun itu adalah desain yang keluar atau
ditumpahkan dari pemikiran-pemikiran yang sudah merupakan suatu
kesimpulan. Kesimpulan dari suatu pembahasan dari suatu masalah,
entah itu didapat dari koran, majalah, atau media lain. Kemudian
itu ditumpahkan ke dalam sebuah gambar, kartun ataupun karikatur.
Semua itu pasti mengandung ide-ide, ada visi, ada misi, ada
semangat, dan ada harapan. Walaupun ada kartunis menggambar
seseorang dipletat-pletotkan, sehingga karakternya kelihatan, itu
bukan suatu penghinaan. Sekali lagi, dia tidak menghina.
Nah, di sini sering ada salah pengertian mengenai
hal itu, sehingga hanya orang-orang Barat saja yang minta
kartunnya betul-betul kayak karikatur. Berbeda dengan orang Jepang
dan Indonesia, baru dipletotkan sedikit, seperti hidungnya
dipanjangkan atau matanya disipitkan dan kupingnya diperlebar
sedikit, kemudian menjadi tersinggung. Mereka mengatakan saya
bukan begini kayak sapi atau kayak gajah. Tetapi, sebetulnya tidak.
Di masyarakat Indonesia, diketahui bahwa bertelinga besar itu
adalah orang-orang yang punya kelebihan, orang bijaksana, orang
yang mendengar dan mengerti serta orang-orang yang berani.
Berarti simbol-simbol semacam itu sudah sangat
dipahami para kartunis?
Sebenarnya simbol-simbol semacam itu adalah
melengkapi perwajahan, itu mempunyai makna yang bisa ditelaah
panjang lebar. Namun, melihat hal itu, entah yang maju kartunisnya
atau yang ketinggalan zaman para penikmatnya. Semua pihak
semestinya paham, sehingga kartun pun bisa menonjolkan dirinya dan
kartunisnya bisa mempertanggungjawabkan karyanya. Kenapa seorang
kartunis menggambar itu. Ini yang harus dipahami, dia tidak hanya
bekerja membuat kartun untuk sebagai bagian dari industri kartun,
untuk mencari uang atau untuk suatu pekerjaan yang akhirnya
menghasilkan. Tidak cuma itu. Kartunis itu punya visi, misi,
semangat dan harapan serta pesan-pesan yang terkandung di dalamnya
lebih tinggi dari nilai pada uang.
Bagaimana Anda melihat kartun dalam industri di
Indonesia?
Industri dalam pemahaman saya begini. Misalnya saya
melihat di Kaliungu (suatu daerah di Jawa, red) dengan kelompok
Kokkang-nya. Saya sudah beberapa kali ke sana. Di sana, kartun itu
betul-betul dikerjakan oleh anak kecil sampai orang tua. Di sana,
anak pengangguran sampai lurah, carik, camat membuat kartun.
Mereka rata-rata membuat kartun dalam sehari semalam bisa puluhan.
Lalu, kenapa hal itu saya katakan industri, karena dikerjakan
secara massal. Setiap orang membuat kartun sebanyak-banyaknya,
kemudian dikirimkan ke media massa sebanyak-banyaknya.
Dari situ mereka mengharapkan hasil secara
finansial. Ini artinya bahwa kartun itu tergantung pada media
massa koran atau majalah.
Menurut Anda, apakah pembaca kita berminat membaca
kartun di media massa?
Sebetulnya sangat berminat. Saya melihat, pada
setiap koran, halaman kartunnya selalu dibaca duluan. Termasuk di
Bali Post. Di Jakarta saya juga berlangganan Bali Post dan
koran-koran lainnya. Saya berpikir kemudian, kalau begitu sangat
hebat dong minat pembaca terhadap kartun. Lantas saya bersama
sejumlah rekan berniat bersama-sama membuat majalah. Namanya
majalah Astaga, Toile, dan lainnya.
Ternyata di situ saya gagal. Kenapa? Karena, ketika
menjadi buku, isinya lebih dari limaratus gambar kartun, orang
menjadi muak dan pusing. Pembaca merasa capek ketawa.
Tidak lakunya majalah kartun itu sebagai indikasi
bahwa pembaca tidak suka kartun?
Mereka suka dan mengoleksi kartun, tetapi yang
dibaca cuma sedikit. Itu sebabnya majalah Humor yang terbit di
Jakarta itu kemudian menjadi majalah yang ada tulisannya, ada
artikelnya. Tetapi, majalah seperti itu tetap juga tidak laku.
Saya juga heran dengan hal itu, hehehe... Mungkin orang itu
terlalu capek karena membaca terlalu banyak. Sama halnya dengan
kalau melihat pameran kartun dalam suatu gedung yang besar dengan
isi ratusan karya kartun. Seseorang hanya bisa menyerap sekian
persen daripada situasi humor yang disuguhkan di situ. Secara
psikologis hal ini harus kita pahami.
Berarti pameran kartun yang ideal itu seperti apa?
Saya anjurkan dalam pameran tak perlu banyak karya.
Pameran kartun cukup dibikin simpel, bersih dan sederhana,
sehingga orang menikmati dengan enak. Kalau ada musik, jangan
diputar yang ramai, melainkan yang tenang sehingga menghidupkan
rasa humor seseorang. Kelemahan kita kalau berpameran, sering
gedungnya besar, karya banyak, panas, dan sumpek. Itu akan
mempengaruhi psikologi pengunjung.
* * *
Bagaimana pengamatan Anda terhadap kartunis Bali?
Saya selalu mengatakan kepada teman-teman bahwa
saya selalu terkejut melihat perkembangan kartun di Bali. Saya
selalu mengatakan kartunis Bali itu sangat cepat jalannya dan
tidak pernah menurun, bahkan naik terus. Karya-karyanya tidak
pernah surut dan tidak pernah kehilangan semangat. Ada saja
ide-idenya. Tetapi, semuanya itu lokal, bahwa itu humor-humor
Bali. Sehingga saya berpikir bahwa kalau ingin mengetahui Bali,
belajarlah atau lihatlah kartun-kartun Bali.
Makanya kalau saya melihat pameran kartun
orang-orang Bali, saya selalu mengatakan itu adalah karya-karya
orang "Hindu Protestan" -- artinya
karya orang Hindu yang ada protes dan
pemberontakannya terhadap situasi kondisi di lingkungan mereka
sebagai anak-anak muda. Terus terang, saya juga ingin banyak
belajar tentang karakter kartunis-kartunis Bali.
Secara teknis, apakah karya
kartunis Bali sudah memadai?
Secara teknis sudah sangat bagus. Boleh dibilang,
kelasnya sudah internasional dan sangat khas Bali. Ada anggapan
orang Barat bahwa kartun Bali mudah dipelajari. Kalau menyimpan
kartun Bali, itu artinya mereka sudah benar-benar ke Indonesia.
Hal ini membuat iri saudara-saudara kita atau kartunis dari daerah
lain. Saya sering mengatakan, secara geografi Tuhan itu memang
adil karena memberi nama pulau itu Bali atau Pulau Dewata. Di situ
orang-orangnya sangat artistik. Adat kebiasaan dan apa yang muncul
dari mereka itu sangat diminati orang lain. Begitu muncul
kartunis-kartunis Bali dengan karya-karyanya, banyak yang menulis,
membahas, serta mempelajarinya. Bukan saja mereka menulis untuk
koran dan majalah, juga untuk pembahasan dalam bidang keilmuan.
Hal ini diselidikinya karena memang di situ ada karakter yang
tidak terdapat pada karya kartunis di daerah lain. Karya kartunis
Bali sangat berkarakter. Dia lokal, justru kelasnya internasional.
Kartun itu sarat kritik. Apakah Anda punya tips
bagaimana membuat kartun yang ideal, terutama memperlakukan kritik
yang arif dalam kartun?
Sebetulnya yang namanya kritik dalam kartun itu
adalah hanya isiannya saja. Maunya kartun itu apa, maunya isi
kritik, jadilah kartun kritik, mau diisi pedanda yang memberi
petuah-petuah maka jadilah kartun sebagai pedanda. Jadi tidak
selalu kritik. Dia sangat fleksibel yang biasa dipakai untuk apa
saja. Bagi saya, pekartun adalah desainer. Karyanya bisa dibikin
apa saja. Tidak hanya untuk media, tetapi juga untuk yang lain
seperti untuk pendidikan agama, politik, kependudukan, kebersihan.
Intinya, kartun itu bisa dijadikan apa saja. Harus dipahami bahwa
desain kartun itu bisa memberi motivasi, juga memberi semangat
pada orang lain untuk sehat, teratur, tertib dan sebagainya.
Pekartun itu punya misi atau fungsi yang sangat
mulia. Saya sebagai pekartun tidak menganggap diri selebritis atau
tokoh, sebab ini adalah pekerjaan. Karena itu, saya tidak pernah
mengatakan bahwa kartunis itu seniman. Dia adalah pekerja seni
yang memakai wahana seni yang namanya kartun.
*
pewawancara:
budarsana
gus martin
BIODATA
Nama
: Pramono R. Pramoedjo
TTL
: Magelang, 5 Desember 1942
Istri
: Ny. Sri Rahayu
Anak
: Praba
Didiet
Agno
Pendidikan
: ASRI Yogyakarta
Pekerjaan
: Karikaturis HU Sinar Harapan
Jabatan
: Ketua Persatuan Kartunis Indonesia
(Pakarti) periode 1989 - 2005
Alamat
: Jl. Mampang Prapatan IV No. 37
Jakarta 12790
Telp. (021)7985486