Manusia-manusia ''Gandek''
Manusia dilahirkan bebas,
namun di mana pun dia dibelenggu!
(Jean Jacques Rousseau ).
-------------
RUBAG teramat sering membaca dan mendengar
orang-orang mengutip pendapat sosiolog kelahiran Jenewa, Swis yang
hidup tahun 1712-1778 itu. Pencetus teori "Kontrak Sosial"
tersebut merupakan manusia paradoks yang menerima Piala Academie
di Dijon karena keilmuwanannya justru sangat skpetis terhadap
sains, teknologi dan seni. Nasib buruk yang menimpa kaum
miskin, menurut Rousseau, justru akibat perkembangan ilmu
pengetahuan dan peradaban dimulai sejak era Descartes (1596-1650)
yang dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern. Karena risalah "Cogito
ergo sum" lahirlah kapitalisme, revolusi industri yang menambah
ketidaksamaan sosial, politik, kekayaan, dan kekuasaan.
Pendapat dan pikiran Rousseau yang sangat berbeda dengan
orang-orang sezamannya membuat dia dituduh mengidap neurotis
akibat kesulitan hidup. Sebagai anak seorang tukang yang bukan
dari golongan bangsawan serta hidup di pinggiran kota, memang dia
dan keluarganya termarginalisasi sejak kecil. Namun otak
Rousseau jauh lebih encer dari golongan elite kota yang justru
menjadi elite karena faktor keturunan. Juga ada yang
jadi elite karena kemampuan menjilat pada kekuasaan serta
kelicikan, sehingga tidak hirau pada nasib orang miskin yang
eksistensinya saja sudah merupakan bantahan atas konsep kemajuan
dan kesempurnaan yang digembar-gemborkan.
Keberhasilan manusia menaklukkan alam justru dilanjutkan dengan
upaya menaklukkan sesamanya yang kurang beruntung dan tidak
berdaya. Akibatnya, ada sebagian kecil manusia yang hidup secara
berlimpah, sedangkan sebagian besar lainnya, susah memperoleh
kebutuhan yang paling primer sekali pun. Karena rasa mangkel
terhadap kondisi masyarakat yang timpang itu, Rousseau melontarkan
risalah, "Ada segelintir manusia yang hanya mengenal kehidupan
semu yang dangkal. Kehormatan tanpa kebajikan. Akal pikiran tanpa
kearifan, nafsu-nafsu tanpa kebahagiaan."
Rubag menyadari, nyaris dalam setiap zaman ada orang-orang
berpaham seperti Rousseau, yang kendati pun punya kelebihan dari
sebagian besar masyarakat sezamannya, namun enggan menjual
kecerdasan dan kemampuan otaknya demi kekuasaan dan kekayaan.
Meskipun dituduh sakit jiwa dan paradoks, bahkan kalau dia hidup
di zaman sekarang cap munafik bisa dilekatkan padanya, namun
warisan pikirannya tetap dikenang para insan hukum sepanjang masa.
Rousseau paham kalau kebebasan manusia tidak bisa diperoleh
seratus persen, sebab dengan kebebasan murni manusia akan saling
bunuh atas nama kebebasan.
Pendahulunya, Thomas Hobbes, berpendapat bahwa setiap manusia
adalah serigala bagi sesamanya. Demi kelestariannya, setiap orang
harus mengekang sebagian dari kebebasannya, selanjutnya diserahkan
secara massal pada kekuasaan yang mengatur perilaku. Kebebasan
yang tersumbangkan itu oleh Rousseau disebut "Kontrak Sosial" yang
diharapkan sebagai modal untuk mendistribusikan kesejahteraan,
kedamaian, dan keadilan bagi seluruh warga negara. Namun dalam
kenyataan, kebebasan yang tersetor tersebut dianggap "barang
gadaian" oleh kebanyakan pemegang kekuasaan, sehingga melahirkan
ketidakadilan, diskriminasi, intimidasi dan pelanggaran HAM.
***
Ada yang berpendapat bahwa meletusnya Revolusi Prancis yang
berklimaks pada robohnya Penjara Bastilles, 14 Juli 1789, salah
satu penyebabnya adalah gagasan Rousseau tentang kebebasan.
Dinasti Bourbon dengan kekuasaan monarkhi absolutnya yang
sewenang-wenang membuat rakyat Prancis bangkit menuntut
kebebasan mereka yang "digadai" Louis XIV, XV dan XVI. Louis XIV
mengaku dirinya sendiri adalah negara dan semua ucapannya adalah
undang-undang, lewat ucapan terkenal, "L'etat c'est moi!". Sayang,
karena sejarah dianggap metanarasi, sehingga jarang pemimpin
bercermin pada kejadian-kejadian masa lampau, mabuk kekuasaan
sering menjadi penyebab jatuhnya kekuasaan. Ketika eksistensi kaum
tertindas ditaruh jauh di bawah harkat dan martabat manusia,
mereka biasanya tidak menghiraukan betapa pedasnya bom asap air
mata, kerasnya popor bedil atau tajamnya timah panas.
Tokoh Afro Amerika, Martin Luther King yang menentang
ketidakadilan terhadap orang-orang kulit hitam dalam bidang
ekonomi, politik dan sosial, akibat diberlakukannya Undang-Undang
"Jim Crow" di Amerika Serikat, rela meringkuk selama belasan tahun
di penjara Birmingham. Dari balik terali besi dia menyebarkan
konsep-konsep tentang keadilan dan kebebasan, seperti yang
dilakukan Antonio Gramsci yang dipenjara rezim Mussolini di
Italia.
Untuk membangun keadilan, tulis King, perlu adanya tekanan-tekanan.
Dia sadar kalau banyak ketidakadilan tidak terhindarkan, namun
ketiadaan tekanan dari kelompok yang tertindas menandakan
bahwa masih ada toleransi terhadap ketidakadilan. Keadilan yang
lama ditunda, bagi King, adalah keadilan yang diingkari. Di
zamannya, seorang Negro yang menyetir mobil dalam jarak jauh di
Amerika dan harus bermalam di jalan, harus siap tidur di jok mobil,
karena sangat sedikit penginapan yang mau menampung orang berkulit
hitam. "Jadi, dalam kehidupan di bawah pemerintah yang menindas
secara lalim, tempat yang paling tepat bagi pencinta keadilan dan
kebebasan adalah penjara," tulis King.
"Pejuang, selalu adalah orang yang kesepian!" demikian ungkapan
yang pernah dibaca Rubag. Setelah dipikir secara mendalam,
pendapat tersebut tidak terlalu meleset. Sebab dari riwayat
orang-orang yang menghabiskan masa hidupnya untuk berjuang seperti
Luther King, Nelson Mandela, bahkan Bung Karno, senantiasa dalam
memperjuangkan gagasan atau ideologinya, mereka lebih dulu harus
berhadapan dengan rekan-rekan sebangsa yang sebenarnya senasib dan
sepenanggungan.
Malah ketika Bung Karno mulai mengenal dingin dan pengapnya sel
penjara kolonial Belanda Suka Miskin di Bandung tahun 1930, dia
hanya ditemani tiga kawan, yakni Maskun Sumadiredja, Soepriadinata
dan Gatot Mangkupradja. Meskipun didampingi empat pengacara, namun
dalam membela keyakinan dan ideologi perjuangannya, Bung Karno
membela dirinya sendiri di pengadilan Hindia Belanda. Dari pledoi
yang diberi judul asli "Indonesie klaagt aan" yang kemudian
dikenal dengan "Indonesia Menggugat" itu, bisa diketahui bahwa
Bung Karno tidak gentar menghadapi risiko. Justru setelah mendapat
vonis empat tahun penjara, sebelum serdadu Jepang menyerbu
Indonesia tahun 1942, Bung Karno sempat diasingkan ke tempat "jin
buang anak" di Ende Flores dan Bengkulu. Ironisnya, bukan hanya
penguasa kolonial Belanda, banyak orang Indonesia yang mengejek
perjuangan Bung Karno sebagai sia-sia seperti menggantang asap,
malah ada yang menuduhnya ekstrem dan pengacau liar.
Tatkala merdeka, 17 Agustus 1945, tuduhan dan ejekan menyakitkan
masih belum mereda, karena para gandek atau penjilat Belanda,
masih merindukan nikmatnya keju dan roti dan mengharap serdadu
Belanda kembali ke Indonesia mengganti serdadi Dai Nippon yang
menyerah tanpa syarat. Namun setelah Indonesia resmi menjadi
Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950, barulah
ejekan serta tuduhan terhadap Bung Karno sebagai ekstremis dan
pengacau liar mereda. Lucunya, orang-orang yang tadinya
sinis serta menjelek-jelekkan Bung Karno, serta merta menyebut
diri patriotik, militan dan pejuang paling berani. Berbagai kisah
heroik dikarang dan untuk memperoleh kepercayaan serta kedudukan,
semua pidato dan tulisan Bung Karno dikumpulkan dan dihafal, lalu
menepuk dada paling Soekarnois.
***
Dari sejarah Rubag mencatat, manusia-manusia gandek lahir dalam
setiap zaman. Di era Orde Baru, orang-orang yang tadinya gigih
menyebut diri Soekarnois, tiba-tiba dengan kecepatan melebihi
bunglon mengaku Soehartois dan paling Orde Baru. Semua buku yang
mengandung ajaran Bung Karno dibakar atau ditanam. Ke mana
pun pergi, selalu bicara soal ideologi pembangunan dengan
semboyan "ekonomi yes, politik no!".
Setiap orang yang berani mempersoalkan Garis-Garis Besar Haluan
negara (GBHN) dan Pancasila, serta merta dituduhnya komunis. Malah
mereka bersyukur ketika Marsinah dan Udin dibunuh serta Wiji
Thukul menghilang bagai ditelan bumi. Lucunya, ketika
Soeharto tumbang 21 Mei 1998, untuk menunjukkan dirinya paling
reformis, manusia-manusia gandek siang malam menghafal bait
terakhir wasiat Thukul, "Apabila usul ditolak tanpa ditimbang,
suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif
dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata; LAWAN!"
* aridus