kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 20 Februari 2005 tarukan valas
 

KELUARGA


Pelipur
Lara Ni Diah Tantri (1)

KISAH-KISAH Tantri bersumber dari cerita panca Tantra, karya sastra klasik India. Dongeng-dongeng mengenai binatang itu bukan saja termasyur di negeri asalnya, tetapi juga merambah jauh ke negeri-negeri Arab, Cina, Indonesia, bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa Barat. Di Bali dikenal dengan nama Cerita Ni Diah Tantri. Ni Diah Tantri adalah seorang gadis perawan, cantik, pintar, berpengetahuan tinggi, sopan santun dan bijaksana. Ayahnya adalah seorang patih (mangkubumi) di sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang lalim.

Yang menarik perhatian dari tokoh Ni Diah Tantri adalah kemahirannya bercerita, sehingga dengan ceritanya itu ia dapat mengubah perangai raja yang mula-mula lalim itu menjadi saleh, manusiawi dan bijaksana. Pokok ceritanya begini.

***

Kerajaan Pataliputra atau Patalinagantun diperintah oleh seorang raja bernama Eswaryadala. Pemerintahannya sangat lalim. Ia tidak pernah menghiraukan kehidupan rakyat, bermalas-malasan dan suka mengumbar hawa nafsu. Untuk memenuhi kesenangannya itu, ia memerintahkan kepada patihnya, Bandeswarya, agar setiap hari menyediakan seorang gadis perawan. Tugas gadis itu adalah menghibur raja sehingga raja tetap merasa gembira sepanjang waktu.

Tibalah pada suatu ketika sang patih kehabisan gadis yang harus diantar ke istana. Yang tinggal hanya satu orang, yakni putrinya sendiri, Ni Dyah Tantri. Putri satu-satunya itu mengetahui kebingungan dan kesusahan yang dihadapi sang ayah. Kalau kemauan raja tidak terpenuhi, niscaya ayahnya akan dibunuh.

"Jangan menyusahkan hal itu, Ayahnda! Biar hamba yang akan menghibur Paduka Raja!" kata Tantri.

Walaupun sang ayah berkali-kali menghadang niat putrinya, namun tak berhasil. Sang putri berkeras hati minta diantar ke istana.

Di luar dugaan, sang ayah mengira Ni Diah Tantri yang sangat dicintai itu akan diperlakukan tidak senonoh oleh raja. Berhari-hari Ki Patih Bandeswarya menunggu berita tentang putrinya. Berminggu-minggu patih yang setia itu tidak pernah mendapat perintah untuk mengantarkan gadis ke istana.

Akhirnya terbetik berita yang sangat menggembirakan. Raja yang terkenal tidak senonoh itu memperlakukan Ni Diah Tantri dengan sangat sopan. Ditambah lagi, raja yang mula-mula mengabaikan pemerintahannya itu berjanji akan menunaikan tugasnya sebagai raja dan memperlakukan rakyatnya secara adil dan sejahtera. Yang mengagetkan lagi adalah, Paduka Raja yang sangat menyukai dongeng-dongeng Tantri itu, lambat laun jatuh cinta kepada si pelipur lara, lalu menikahinya.

''Maukah kamu tinggal di istana untuk selama-lamanya?'' tanya Prabu Eswaryadala setelah Tantri mengakhiri ceritanya. ''Bertambah banyak kamu bercerita, bertambah senang hatiku.''

''Apakah hamba mesti bercerita terus menerus?'' Tantri balik bertanya.

''Ya, kamu terus bercerita, dan... menjadi permaisuriku,'' jawab raja yang merasa tidak kikuk lagi.

Mengapa raja berubah perangai? Mengapa Prabu Eswaryadala tidak berbuat sewenang-wenang terhadap gadis cantik itu seperti yang dilakukannya terhadap gadis-gadis sebelumnya? Jawabannya adalah karena dongeng-dongeng yang dibawakan oleh Ni Diah Tantri.

* made taro

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com