kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 20 Februari 2005 tarukan valas
 

GEBYAR


Kadek Sri Dwi Antari
Merasa Bebas Tuangkan Ide

SEBAGAI seorang penata tari, Kadek Sri Dwi Antari, mahasiswa ISI Denpasar, ingin menunjukkan ekspresi gerak yang estetis ke dalam sebuah garapan yang berkwalitas. Dari kemantapan profsesinya sebagai penari dan penata tari Bali, dara kelahiran Denpasar, 27 Juni 1981 ini lantas menggarap tari kreasi baru berjudul "Durmanggala". Menurutnya, dalam membuat tari kreasi baru ia merasa bebas dapat menuangkan ide-idenya. "Walaupun bersifat bebas, tetapi saya masih berpijak pada pola tradisi yang dikembangkan dari segi gerak, kostum dan teknik penyajiannya," jelas peraih Juara I Lomba Tari Oleg se-Bali 2000 yang digelar Pemkab Tabanan ini.

Pemilik tinggi 160 cm dan berat 49 kg ini mengaku, bentuk tari kreasi yang dipilih adalah tari putri halus yang sebelumnya sering dilakukannya. Maklum saja, Dek Sri -- demikian ia sering disapa -- adalah penari Oleg yang sudah berpengalaman pentas. Bermodal dari karakter itu, penghobi menari dan nonton film ini menuangkan idenya ke dalam bentuk garapan tari kelompok dengan mengambil cerita terbunuhnya Abimanyu. "Di sini saya lebih menekankan pada kesedihan Dewi Uttari atas kematian suaminya Abimanyu yang direbut oleh Korawa," sambungnya mantap.

Putri kedua dari empat saudara, anak dari pasangan I Wayan Geria, S.Sn. dan Ida Ayu Putu Ratni ini mengatakan, garapannya lebih menekankan pada pengungkapan gerak, karakter dan beberapa faktor lain yang mendukungnya. Menurutnya hal ini didapat dari pengalaman mendukung ujian sarjana, ngayah dan menari di hotel. Di samping itu, ia juga banyak menonton seni pertunjukan khususnya tari dan banyak membaca buku serta mewawancarai dosen serta orang yang berpengalaman di bidang tari. "Bukan gerak dan cerita saja, tetapi saya tetap memperhatikan kostum dan tata riasnya," sambung penari Festival Gong Kebyar serangkain Pesta Kesenian Bali (PKB) wakil Kabupaten Gianyar ini.

 

Dara beralamat di Jalan Nangka Gang Paksimas VI/1 Denpasar ini mengaku, untuk gerak tari ia mencoba mengadakan perkembangan dengan pemakaian selendang. Dari situ, ia berharap ada nuansa baru dalam garapan yang didukung lima penari itu. Lalu, pekerjaan selain menari? "Saya juga sebagai pelatih tari," sahut penari Bali yang pernah jadi anggota misi kesenian Bali ke India (2003) dan Jepang (2004) serta ke Surabaya, Jakarta dan Solo dalam rangka pertukaran kesenian ini. (buda)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com