Kadek Sri Dwi Antari
Merasa Bebas Tuangkan Ide
SEBAGAI
seorang penata tari, Kadek Sri Dwi Antari, mahasiswa ISI Denpasar,
ingin menunjukkan ekspresi gerak yang estetis ke dalam sebuah
garapan yang berkwalitas. Dari kemantapan profsesinya sebagai
penari dan penata tari Bali, dara kelahiran Denpasar, 27 Juni 1981
ini lantas menggarap tari kreasi baru berjudul "Durmanggala".
Menurutnya, dalam membuat tari kreasi baru ia merasa bebas dapat
menuangkan ide-idenya. "Walaupun bersifat bebas, tetapi saya masih
berpijak pada pola tradisi yang dikembangkan dari segi gerak,
kostum dan teknik penyajiannya," jelas peraih Juara I Lomba Tari
Oleg se-Bali 2000 yang digelar Pemkab Tabanan ini.
Pemilik tinggi 160 cm dan berat 49 kg ini mengaku,
bentuk tari kreasi yang dipilih adalah tari putri halus yang
sebelumnya sering dilakukannya. Maklum saja, Dek Sri -- demikian
ia sering disapa -- adalah penari Oleg yang sudah berpengalaman
pentas. Bermodal dari karakter itu, penghobi menari dan nonton
film ini menuangkan idenya ke dalam bentuk garapan tari kelompok
dengan mengambil cerita terbunuhnya Abimanyu. "Di sini saya lebih
menekankan pada kesedihan Dewi Uttari atas kematian suaminya
Abimanyu yang direbut oleh Korawa," sambungnya mantap.
Putri kedua dari empat saudara, anak dari pasangan
I Wayan Geria, S.Sn. dan Ida Ayu Putu Ratni ini mengatakan,
garapannya lebih menekankan pada pengungkapan gerak, karakter dan
beberapa faktor lain yang mendukungnya. Menurutnya hal ini didapat
dari pengalaman mendukung ujian sarjana, ngayah dan menari di
hotel. Di samping itu, ia juga banyak menonton seni pertunjukan
khususnya tari dan banyak membaca buku serta mewawancarai dosen
serta orang yang berpengalaman di bidang tari. "Bukan gerak dan
cerita saja, tetapi saya tetap memperhatikan kostum dan tata
riasnya," sambung penari Festival Gong Kebyar serangkain Pesta
Kesenian Bali (PKB) wakil Kabupaten Gianyar ini.
Dara beralamat di Jalan Nangka Gang Paksimas VI/1
Denpasar ini mengaku, untuk gerak tari ia mencoba mengadakan
perkembangan dengan pemakaian selendang. Dari situ, ia berharap
ada nuansa baru dalam garapan yang didukung lima penari itu. Lalu,
pekerjaan selain menari? "Saya juga sebagai pelatih tari," sahut
penari Bali yang pernah jadi anggota misi kesenian Bali ke India
(2003) dan Jepang (2004) serta ke Surabaya, Jakarta dan Solo dalam
rangka pertukaran kesenian ini. (buda)