''Dokter
Aborsi'' Arik
Sempat Pingsan
Saat
Rekonstruksi
Denpasar
(Bali Post) -
Rekonstruksi
(reka ulang)
''dokter aborsi''
I Ketut Arik
Wiantara, SKG (34)
digelar secara
tertutup, di
tempat praktiknya
di Jalan
Tukad Petanu
Gang Gelatik No. 5,
Sabtu (19/2)
kemarin.
Tempat
itu sekaligus
juga merupakan
tempat tinggal
pelaku bersama
keluarganya sejak
tahun 2001.
Rekonstruksi
dengan 11 episode
berlangsung tidak
terlalu lama,
hanya 1 jam 10
menit. Reka
ulang dimulai
pukul 09.00 wita
hingga pukul
10.10 wita.
Reka
ulang dipimpin
langsung Wakil
Direktur Reskrim
Polda Bali, AKBP Edison
Panjaitan,
didampingi Kabid
Humas Kombes
AS Reniban.
Jalannya
rekonstruksi
memang benar-benar
di-setting
tertutup oleh
aparat.
Ketertutupan
aparat kepada
wartawan sudah
tampak sejak
kedatangan
rombongan dari
Polda
Bali
yang menggunakan
delapan mobil
merapat ke
TKP.
Di
dalam mobil
ada tiga
pelaku yakni
I Ketut Arik
Wiantara, SKG,
asistennya I Ketut
Pande Darmawan,
serta Susianti.
Jabatan
Susianti sebagai
penjual jasa
(sales aborsi).
Begitu rombongan
tiba
di depan
rumah pelaku
pukul 09.00 wita,
I Ketut Arik
Wiantara, SKG
mendapat kesempatan
masuk ke
dalam rumahnya
pertama kali.
Begitu
pelaku masuk
ke dalam
rumah dengan
pengawalan super
ketat oleh
petugas, pelaku
langsung disambut
tangis histeris
keluarganya.
Arik
sempat pingsan
ketika menjalani
rekonstruksi,
namun bisa
berdiri lagi.
Terdengar
dari luar
seorang wanita
menjerit-jerit
dan membanting-banting
daun pintu.
Jeritan
histeris itu
membuat situasi
menjadi heboh,
tidak pelak
segenap
masyarakat yang menyaksikan
dari luar
rumah
bertanya-tanya, siapa
gerangan yang
mengamuk. ''Sepertinya
yang mengamuk itu
kakak perempuan
pelaku,'' kata
salah satu
penonton di
luar.
Selain
dikawal secara
ketat, Arik
hampir sepanjang
reka ualng
menutup wajahnya
dengan baju
tahanan.
Hal ini
membuat para
wartawan foto
yang menanti
momen menarik
sejak 30 menit
sebelumnya kecele,
mereka gagal
mendapat gambar
eksklusif.
Setelah
Arik masuk,
menyusul I Ketut
Pande Darmawan.
Pengawalan
terhadap Pande
juga tidak
berbeda jauh
sebagaimana
ketatnya pengawalan
Arik saat
masuk ke
dalam
ruang
praktik.
Petugas
menjepit pelaku
dan buru-buru
masuk ke
dalam rumah.
Kegagalan
menjepret Arik
dan Pande
membuat
fotografer gemas.
Sebagai
pelampiasan,
mereka pun kemudian
nekat naik
pagar,
bergelantungan di
pohon, menarik
tangga untuk
mencuri-curi
gambar tokoh
utama.
Arik
dan Pande
melakukan 10 episode
di dalam
ruangan, hanya
Susianti
melakukan reka
ulang di
luar ruangan.
Petugas
memang tidak
welcome kepada
wartawam. Hal itu
tampak jelas,
dengan aksi
petugas terus
mengingatkan agar
kuli disket
itu jangan
masuk.
Selain lewat
metode itu,
aparat juga
menugaskan
delapan orang
polisi lengkap
dengan senjata
laras
panjang berbaris
di depan
pintu pagar
yang memiliki
ketinggilan dua meter.
Sepertinya,
beberapa
fotografer cukup
terhibur dapat
dengan leluasa
memotret Susianti,
saat melakukan
adegan episode
pertama di
depan pintu
pagar. Episode
pertama adalah
aksi Susianti
menurunkan saksi
1 dan saksi
8. Semua
saksi pada
reka itu
diperankan orang lain.
Ketegangan
sempat terjadi
antara wartawan
dan petugas
indentifikasi. ''Anda
bertugas saya
juga bertugas,
kalau yang lain
bisa mundur
kenapa Anda
tidak,'' ujar
petugas itu
berang.
Untuk
adegan yang di
dalam ruangan
digelar dari
sejak korban
diterima,
menandatangani
surat
pernyataan,
sampai dengan yang
lebih dramatis
pembiusan lokal,
melakukan kuret,
membersihan,
sampai korban
mau beranjak
pulang atau
ada yang terpaksa
off name. ''Semua
adegan
sebagaimana kejadian
sebenarnya tuntas
dalam 11 episode.
Sepuluh
episode di
antaranya di
dalam, sisanya
di luar,''
jelas Kabag
Humas Kombes
AS Reniban. (kmb11)