kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 20 Februari 2005 tarukan valas
 

BERITA


''Dokter Aborsi'' Arik Sempat Pingsan Saat Rekonstruksi

Denpasar (Bali Post) -
Rekonstruksi
(reka ulang) ''dokter aborsi'' I Ketut Arik Wiantara, SKG (34) digelar secara tertutup, di tempat praktiknya di Jalan Tukad Petanu Gang Gelatik No. 5, Sabtu (19/2) kemarin. Tempat itu sekaligus juga merupakan tempat tinggal pelaku bersama keluarganya sejak tahun 2001.

Rekonstruksi dengan 11 episode berlangsung tidak terlalu lama, hanya 1 jam 10 menit. Reka ulang dimulai pukul 09.00 wita hingga pukul 10.10 wita. Reka ulang dipimpin langsung Wakil Direktur Reskrim Polda Bali, AKBP Edison Panjaitan, didampingi Kabid Humas Kombes AS Reniban.

Jalannya rekonstruksi memang benar-benar di-setting tertutup oleh aparat. Ketertutupan aparat kepada wartawan sudah tampak sejak kedatangan rombongan dari Polda Bali yang menggunakan delapan mobil merapat ke TKP.

Di dalam mobil ada tiga pelaku yakni I Ketut Arik Wiantara, SKG, asistennya I Ketut Pande Darmawan, serta Susianti. Jabatan Susianti sebagai penjual jasa (sales aborsi). Begitu rombongan tiba di depan rumah pelaku pukul 09.00 wita, I Ketut Arik Wiantara, SKG mendapat kesempatan masuk ke dalam rumahnya pertama kali. Begitu pelaku masuk ke dalam rumah dengan pengawalan super ketat oleh petugas, pelaku langsung disambut tangis histeris keluarganya. Arik sempat pingsan ketika menjalani rekonstruksi, namun bisa berdiri lagi. Terdengar dari luar seorang wanita menjerit-jerit dan membanting-banting daun pintu. Jeritan histeris itu membuat situasi menjadi heboh, tidak pelak segenap masyarakat yang menyaksikan dari luar rumah bertanya-tanya, siapa gerangan yang mengamuk. ''Sepertinya yang mengamuk itu kakak perempuan pelaku,'' kata salah satu penonton di luar.

Selain dikawal secara ketat, Arik hampir sepanjang reka ualng menutup wajahnya dengan baju tahanan. Hal ini membuat para wartawan foto yang menanti momen menarik sejak 30 menit sebelumnya kecele, mereka gagal mendapat gambar eksklusif.

Setelah Arik masuk, menyusul I Ketut Pande Darmawan. Pengawalan terhadap Pande juga tidak berbeda jauh sebagaimana ketatnya pengawalan Arik saat masuk ke dalam ruang praktik. Petugas menjepit pelaku dan buru-buru masuk ke dalam rumah. Kegagalan menjepret Arik dan Pande membuat fotografer gemas. Sebagai pelampiasan, mereka pun kemudian nekat naik pagar, bergelantungan di pohon, menarik tangga untuk mencuri-curi gambar tokoh utama. Arik dan Pande melakukan 10 episode di dalam ruangan, hanya Susianti melakukan reka ulang di luar ruangan.

Petugas memang tidak welcome kepada wartawam. Hal itu tampak jelas, dengan aksi petugas terus mengingatkan agar kuli disket itu jangan masuk. Selain lewat metode itu, aparat juga menugaskan delapan orang polisi lengkap dengan senjata laras panjang berbaris di depan pintu pagar yang memiliki ketinggilan dua meter.

Sepertinya, beberapa fotografer cukup terhibur dapat dengan leluasa memotret Susianti, saat melakukan adegan episode pertama di depan pintu pagar. Episode pertama adalah aksi Susianti menurunkan saksi 1 dan saksi 8. Semua saksi pada reka itu diperankan orang lain. Ketegangan sempat terjadi antara wartawan dan petugas indentifikasi. ''Anda bertugas saya juga bertugas, kalau yang lain bisa mundur kenapa Anda tidak,'' ujar petugas itu berang.

Untuk adegan yang di dalam ruangan digelar dari sejak korban diterima, menandatangani surat pernyataan, sampai dengan yang lebih dramatis pembiusan lokal, melakukan kuret, membersihan, sampai korban mau beranjak pulang atau ada yang terpaksa off name. ''Semua adegan sebagaimana kejadian sebenarnya tuntas dalam 11 episode. Sepuluh episode di antaranya di dalam, sisanya di luar,'' jelas Kabag Humas Kombes AS Reniban. (kmb11)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com