Modal Dasar
bagi Pelayanan
Krisis
Multidimensi
Roh
Kata, Kesadaran
Taksu yang
Berproses
ADALAH
biasa pada
upacara agama Hindu
di Bali di-puput
oleh seorang
pendeta. Dan,
sudah menjadi
kelaziman pula
pada setiap
akhir upacara
umat nunas
tirta. Percikan
tirta memberikan
perasaan suci
muncul yang
diliputi perasaan
sadar dan
bijaksana. Lebih
jauh bahkan
tirta menjadi
penyibak
tabir kokoh
manusia dengan
kesucian Tuhan.
Tirta yang
mulanya hanyalah
kumpulan
melekul-melekul air mikro,
oleh pendeta
diberi kata-kata
(baca: mantra)
menjadi materi yang
berisomer yang
penuh dengan
energi positif
kesucian. Saya
sebut berisomer
(suatu istilah
kimia) untuk
menyatakan bahwa
air dan tirta
yang memiliki
esensi molekul
mikro sama,
namun memiliki
sifat yang
berbeda.
Kekuatan
untuk nguncarang
kata-kata untuk
memberi energi
positif pada
suatu materi,
ternyata sudah
menjadi
pengetahuan turun-temurun
bagi orang-orang
Bali. Sewaktu
kecil, ketika
saya kena
penyakit
gendongan, oleh
ibu, saya
dibawa ke
seorang paman
saya yang
sekarang sudah
almarhum. Dengan
tenang saja
paman saya
mengambilkan air
segelas kemudian
berkomat-kamit di
atas gelas.
Dan menyuruh saya
untuk minum
air itu dan
sisa air di
gelas dioleskan
di pipi
gendongan saya.
Saya tak
habis mengerti,
keesokan harinya
penyakit saya
sudah sembuh.
Demikian juga
jika ada
kerabat saya
yang sakit,
seolah itu
menjadi suatu
hal yang biasa
bagi paman
dan semua
di keluarga
kami. Bagi
orang Bali hal
ini bukan
sesuatu yang aneh
dan sudah
menjadi suatu
hal yang biasa.
Sebutlah misalnya
untuk menetralkan
reaksi-reaksi
buruk (seperti trauma,
rasa takut,
dll) akibat
kejadian tertentu
seperti tabrakan,
terjatuh, dll.
orang Bali akan
nunas tirta
penawar pada
pendeta atau
balian.
Yang menarik
bagi saya
adalah, bagaimana
pendeta dan
tetua kita
dapat nguncarang
kata-kata (mantra),
sehingga
kata-kata itu
dapat memberikan
kekuatan vibrasi
tertentu. Harus
diakui pula
kekuatan itu
memang karena
kata-katanya,
tetapi yang tidak
kalah pentingnya
adalah siapa
yang mengucapkan
kata-kata itu.
Dalam hal
inilah taksu
pengucap
kata-kata itu yang
memberikan varian
efek vibrasi
yang berbeda.
Dalam konteks
ini ada
dua hal
penting yang
dapat menjadi
wahana
pembelajaran bagi
kita semua.
Pertama,
dari sisi
keilmuan kita
mesti menguasai
pengetahuan
tentang apa yang
akan dikatakan.
Ini sangatlah
realistis,
seorang yang sudah
merasakan deburan
ombak pantai
Kuta dari
berselancar akan
berkata bahwa
ombak Kuta
memang aduhai
untuk selancar.
Seorang yang
hanya melihat
deburan ombak
pantai Kuta
mungkin juga
akan berkata
bahwa ombak
pantai Kuta
memang aduhai
untuk selancar.
Tetapi vibrasi
kata-kata yang
terucap dari
kedua orang
itu akan
memberikan efek
yang berbeda.
Kedua, dari
sisi pengucap,
bagaimana
kata-kata yang terucap agar
mempunyai roh
sehingga
memberikan vibrasi
kuat pada
pemaknaan
kata-kata itu.
Ini berarti
taksu seseorang
pengucap
kata-kata sangatlah
menentukan efek
pada pendengar
dan penyimak
kata-kata itu.
Bukanlah
tidak mungkin
kedua hal
di atas
diusahakan dalam
tataran individu.
Dari sisi
keilmuan semua
orang mempunyai
kesempatan untuk
meraihnya melalui
informasi yang
bertebaran di
mana-mana.
Sedangkan dari
sisi pengucap,
dengan
menghidupkan taksu
diri. Dalam
upaya untuk
membangkitkan
taksu, saya
berkeyakinan
bahwa itu
dapat dilatihkan.
Alasannya sangat
sederhana, sampai
saat ini
masih ada
pendeta dan
orang Bali yang
mewarisi taksu
itu dari
pendahulu mereka.
Tentu mereka
menjadi ber-taksu
setelah
memperoleh proses
pembelajaran dan
pewarisan. Ini
artinya, taksu
pun merupakan
sesuatu yang berproses.
Sesuatu yang
berproses bukanlah
suatu hal
yang tidak
mungkin disadari
kebijaksanaannya.
Dalam
konteks wacana
besar Ajeg
Bali, upaya untuk
menumbuhkan taksu
pada diri
memberikan arti
yang sangat
esensial.
Konsekuensi
membangkitkan
taksu pada
diri adalah
terlarutnya
norma-norma susila
dan dharma pada
diri. Hal itu
berhubungan
secara linier. Menyadari
secara bijaksana
manacika, wacika,
dan kayika
berarti menyiram
dan memupuk
taksu diri.
Sebaliknya satu
saja polah
tidak berformat,
satu level taksu
menyusut. Amati
saja, bagaimana
saat ini
banyak kata-kata
orang tua
seolah tidak
bergeming pada
anak-anaknya. Ini
karena
terdegradasinya kesadaran
susila dan
dharma yang terefleksi
pada vibrasi
taksu diri.
Kata-katanya
hambar, tak
punya power
karena vibrasi
taksu-nya memudar.
Jadi
pengetahuan dan
taksu setidaknya
dapat menjadi
modal dasar bagi
sastrawan,
budayawan, pendidik,
pemimpin, dan
profesi lainnya
pada krisis
multidimensi saat
ini. Seorang
berpengetahuan
dalam bidangnya
dan mempunyai
vibrasi taksu
diri yang kuat
akan memberi
power kata-katanya, paling
tidak akan
mengikis budaya
maboya di
lingkungannya.
Vibrasi taksu
kata-katanya akan
mengguyurkan
kesejukan penyimaknya yang
menumbuhkan
kesadaran dan
kebijaksanaan.
Semua itu
berproses, maka
dari itu
mari sadari
dengan bijaksana.
I
Gede
Ariyasa
Guru Kimia, SMA N 1 Sidemen,
Karangasem