kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Pon, 20 Februari 2005 tarukan valas
 

APRESIASI


Modal Dasar bagi Pelayanan Krisis Multidimensi
Roh Kata, Kesadaran Taksu yang Berproses

ADALAH biasa pada upacara agama Hindu di Bali di-puput oleh seorang pendeta. Dan, sudah menjadi kelaziman pula pada setiap akhir upacara umat nunas tirta. Percikan tirta memberikan perasaan suci muncul yang diliputi perasaan sadar dan bijaksana. Lebih jauh bahkan tirta menjadi penyibak  tabir kokoh manusia dengan kesucian Tuhan. Tirta yang mulanya hanyalah kumpulan melekul-melekul air mikro, oleh pendeta diberi kata-kata (baca: mantra) menjadi materi yang berisomer yang penuh dengan energi positif kesucian. Saya sebut berisomer (suatu istilah kimia) untuk menyatakan bahwa air dan tirta yang memiliki esensi molekul mikro sama, namun memiliki sifat yang berbeda.

Kekuatan untuk nguncarang kata-kata untuk memberi energi positif pada suatu materi, ternyata sudah menjadi pengetahuan turun-temurun bagi orang-orang Bali. Sewaktu kecil, ketika saya kena penyakit gendongan, oleh ibu, saya dibawa ke seorang paman saya yang sekarang sudah almarhum. Dengan tenang saja paman saya mengambilkan air segelas kemudian berkomat-kamit di atas gelas. Dan menyuruh saya untuk minum air itu dan sisa air di gelas dioleskan di pipi gendongan saya. Saya tak habis mengerti, keesokan harinya penyakit saya sudah sembuh. Demikian juga jika ada kerabat saya yang sakit, seolah itu menjadi suatu hal yang biasa bagi paman dan semua di keluarga kami. Bagi orang Bali hal ini bukan sesuatu yang aneh dan sudah menjadi suatu hal yang biasa. Sebutlah misalnya untuk menetralkan reaksi-reaksi buruk (seperti trauma, rasa takut, dll) akibat kejadian tertentu seperti tabrakan, terjatuh, dll. orang Bali akan nunas tirta penawar pada pendeta atau balian.

Yang menarik bagi saya adalah, bagaimana pendeta dan tetua kita dapat nguncarang kata-kata (mantra), sehingga kata-kata itu dapat memberikan kekuatan vibrasi tertentu. Harus diakui pula kekuatan itu memang karena kata-katanya, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah siapa yang mengucapkan kata-kata itu. Dalam hal inilah taksu pengucap kata-kata itu yang memberikan varian efek vibrasi yang berbeda. Dalam konteks ini ada dua hal penting yang dapat menjadi wahana pembelajaran bagi kita semua.

Pertama, dari sisi keilmuan kita mesti menguasai pengetahuan tentang apa yang akan dikatakan. Ini sangatlah realistis, seorang yang sudah merasakan deburan ombak pantai Kuta dari berselancar akan berkata bahwa ombak Kuta memang aduhai untuk selancar. Seorang yang hanya melihat deburan ombak pantai Kuta mungkin juga akan berkata bahwa ombak pantai Kuta memang aduhai untuk selancar. Tetapi vibrasi kata-kata yang terucap dari kedua orang itu akan memberikan efek yang berbeda. Kedua, dari sisi pengucap, bagaimana kata-kata yang terucap agar mempunyai roh sehingga memberikan vibrasi kuat pada pemaknaan kata-kata itu. Ini berarti taksu seseorang pengucap kata-kata sangatlah menentukan efek pada pendengar dan penyimak kata-kata itu.

Bukanlah tidak mungkin kedua hal di atas diusahakan dalam tataran individu. Dari sisi keilmuan semua orang mempunyai kesempatan untuk meraihnya melalui informasi yang bertebaran di mana-mana. Sedangkan dari sisi pengucap, dengan menghidupkan taksu diri. Dalam upaya untuk membangkitkan taksu, saya berkeyakinan bahwa itu dapat dilatihkan. Alasannya sangat sederhana, sampai saat ini masih ada pendeta dan orang Bali yang mewarisi taksu itu dari pendahulu mereka. Tentu mereka menjadi ber-taksu setelah memperoleh proses pembelajaran dan pewarisan. Ini artinya, taksu pun merupakan sesuatu yang berproses. Sesuatu yang berproses bukanlah suatu hal yang tidak mungkin disadari kebijaksanaannya.

Dalam konteks wacana besar Ajeg Bali, upaya untuk menumbuhkan taksu pada diri memberikan arti yang sangat esensial.

Konsekuensi membangkitkan taksu pada diri adalah terlarutnya norma-norma susila dan dharma pada diri. Hal itu berhubungan secara linier. Menyadari secara bijaksana manacika, wacika, dan kayika berarti menyiram dan memupuk taksu diri. Sebaliknya satu saja polah tidak berformat, satu level taksu menyusut. Amati saja, bagaimana saat ini banyak kata-kata orang tua seolah tidak bergeming pada anak-anaknya. Ini karena terdegradasinya kesadaran susila dan dharma yang terefleksi pada vibrasi taksu diri. Kata-katanya hambar, tak punya power karena vibrasi taksu-nya memudar.

Jadi pengetahuan dan taksu setidaknya dapat menjadi modal dasar bagi sastrawan, budayawan, pendidik, pemimpin, dan profesi lainnya pada krisis multidimensi saat ini. Seorang berpengetahuan dalam bidangnya dan mempunyai vibrasi taksu diri yang kuat akan memberi power kata-katanya, paling tidak akan mengikis budaya maboya di lingkungannya. Vibrasi taksu kata-katanya akan mengguyurkan kesejukan penyimaknya yang menumbuhkan kesadaran dan kebijaksanaan. Semua itu berproses, maka dari itu mari sadari dengan bijaksana.

I Gede Ariyasa
Guru Kimia, SMA N 1 Sidemen,
Karangasem

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com