kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 19 Pebruari 2005

 Kultur


Relief di Pura Meduwe Karang------------

Loncatan
Kreativitas Pengukir Buleleng  

Masuklah ke Pura Meduwe Karang, Kubutambahan, Buleleng. Di situ banyak terdapat ragam seni rupa berupa relief dan ukiran yang khas dan unik. Relief itu bukan hanya mencerminkan sebuah perkembangan kreativitas seorang seniman, namun bentuk dan gambaran relief itu merupakan simbol dari loncatan kreativitas yang terjadi di Buleleng sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Seperti apa loncatan itu? 

==========================================================

Loncatan kreativitas itu tampak pada relief orang naik sepeda yang terdapat di sisi sebelah utara pelingih utama. Di sampingnya terdapat relief orang naik kerbau, lalu di sisi lain terdapat relief yang menggambarkan Raja Buleleng Panji Sakti.

Secara keseluruhan, bentuk ukiran di pura itu juga amat berbeda dengan pura-pura kuno di Bali Selatan. Bentuknya sangat khas Buleleng; kasar, tidak rumit dan tidak terlalu detail. Relief-relief unik itulah yang menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Pura Meduwe Karang.  

Made Budiarsana dan Komang Sugiada, dua pemuda yang biasa memandu wisatawan di pura tersebut, mengatakan wisatawan memang banyak yang bertanya-tanya tentang relief orang naik sepeda yang tak ada di pura-pura lain di Bali. Menurutnya, relief itu dibikin pada tahun 1904 ketika terjadi pemugaran pura tersebut.

Selain relief orang naik sepeda, di pura itu juga terdapat relief lain yang juga menarik perhatian wisatawan. "Seperti relief Buleleng juga banyak mendapat perhatian," kata Budiarsana yang juga anak dari Jero Mangku Jagat di pura tersebut.

Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba mengatakan kreativitas seniman yang tampak dalam relief di Pura-pura besar di Buleleng itu tak bisa dilepaskan dari sejarah perjuangan masyarakat Buleleng dalam melawan penjajahan Belanda. Perseteruan Buleleng dengan Belanda diawali pada abad ke-17 ketika seorang wanita dari Desa Bungkulan diambil secara paksa oleh Belanda. Lalu Raja Buleleng mengirim utusan ke Batavia minta kepada pemerintah Belanda untuk mengembalikan perempuan itu, tetapi pemerintah Belanda tidak mempedulikannya. Malah terjadi penembakan yang dilakukan Belanda di Bungkulan.

Selanjutnya, hubungan Panji Sakti dan Belanda menjadi tegang. Apalagi kemudian terdapat kapal kandas di Sangsit dan di Loloan yang masih menjadi daerah kekuasaan Buleleng. Sesuai peraturan hak tawan karang, kapal itu ditawan dan dirampas oleh rakyat Buleleng. Hal ini membuat Belanda marah dan meminta kepada Raja Buleleng untuk mencabut hak tawan karang.

Tetapi Raja Buleleng tak mau. Maka tahun 1840-an Belanda pun menyerang Puri Buleleng. Buleleng kalah, lalu raja bersama seluruh pasukannya mengungsi ke Padangbulia. Dari Padangbulia pasukan kemudian bergerak ke Jagaraga, dan di situlah Raja Buleleng membikin benteng.

''Tahun 1846 mulai terjadi perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan terjadi berkali-kali, dan Buleleng lebih banyak menang,'' papar Simba.

Mungkin jengah karena lebih sering kalah, Belanda kemudian menghancurkan benteng di Jagaraga tahun 1849, termasuk menyerang Kubutambahan dan Sangsit. Saat itu Patih Jelantik gugur. Meski perlawanan terus dilanjutkan, seperti tahun 1850 pasukan yang dipimpin Nyoman Gempol melakukan pemberontakan di Banjar Jawa, disusul Perang Banjar tahun 1869 dan di Sukasada tahun 1872 yang dipimpin Pan Gumiasih, namun akhirnya Buleleng berhasil dikuasai Belanda. ''Pemerintahan pun kemudian diatur oleh Belanda,'' katanya.

Nah, jika dikaitkan dengan sejarah tersebut, relief yang ada di Pura Meduwe Karang dan Pura Dalem Jagaraga itu bisa dikaji dari dimensi kesejarahan dan dari kretivitas masyarakat Buleleng yang memang terbuka dan suka pembaruan.

Dari kajian sejarah bisa disebutkan, setelah Belanda menguasai Buleleng dengan pemerintahan khas Belanda-nya, maka di sini terjadi semacam akulturasi budaya, termasuk di dalamnya akulturasi dalam seni rupa, seperti relief atau ukiran pada bangunan-bangunan suci. Apalagi di bawah pemerintahan Belanda yang trelalu dominan, kemungkinan kreativitas seniman berada di bawah tekanan dan pengaruh dominan dari penguasa.

Ketika pada awal abad ke-20 dilakukan pemugaran terhadap Pura-pura besar di wilayah Kubutambahan dan Sangsit, maka masuklah unsur-unsur budaya Belanda dalam relief dan ukiran pada bangunan pura. Seperti relief yang melukiskan orang naik sepeda di Pura Meduwe Karang atau relief mobil di Pura Dalem Jagaraga. Selain karena pengaruh dari pemerintahan Belanda, secara umum saat itu masyarakat Buleleng juga baru mengenal benda-benda yang datang dari dunia Barat, seperti sepeda dan mobil. Benda-benda yang baru dikenal itu mungkin diabadikan sebagai simbol dari masuknya budaya Barat ke Buleleng.

Kalau dikaji dari kreativitas budaya masyarakat Buleleng, menurut Simba, relief di Pura Meduwe Karang dan Pura Jagaraga itu memang mewakili kreativitas seniman Buleleng yang cenderung terbuka dan suka pembaruan. Seniman-seniman Buleleng memang mengalami loncatan kreativitas yang begitu tinggi dibanding seniman dari Bali Selatan. Buleleng adalah daerah transit, di mana kebudayaan luar semuanya masuk melalui Buleleng.

Lihat misalnya gaya pepatraan, ukiran atau relief yang ada di Buleleng cirinya adalah bentuk yang kasar atau bebagalan. Kalau dilihat dari dekat relief itu memang kasar, tetapi kalau dilihat dari jauh relief atau ukiran itu akan tampak bagus.

Ukiran atau relief bebagalan itu merupakan cermin dari karakter masyarakat Buleleng yang tidak suka rumit dan terbuka. Ketika kebudayaan asing masuk melalui Buleleng, masyarakat setempat begitu cepat mengadopsinya, lalu begitu cepat pula melupakannya karena pada saat yang tak begitu lama sudah datang lagi kebudayaan baru lainnya. Nah, kebudayaan yang belum sempat dimodifikasi terlalu jauh di Buleleng lambat-laun pindah ke Bali Selatan untuk dilestarikan dan dipertahankan terus-menerus. "Buleleng menerima, Bali Selatan yang meneruskannya," kata Simba.
* adnyana ole

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)