Pariwisata
Bali Kehilangan
Konteks
Budaya
Denpasar
(Bali Post) -
Perkembangan
pariwisata Bali
mulai
kehilangan konteks
budayanya.
Bahkan,
ada kecenderungan
untuk
memisahkan ranah
budaya
dan pariwisata yang
dipandang
semata-mata
dalam
ukuran ekonomistis-industri.
Indikasi
ke arah
itu
bisa dilihat
dari
kecenderungan beberapa
pelaku
pariwisata yang hanya
mementingkan
keuntungan
tanpa
melakukan investasi
pada
pengembangan budaya
Bali.
Kegalauan
itu
terekam dalam seminar
bertajuk "Prospek
Bisnis
Pariwisata Bali 2005" di
kampus
Pascasarjana Undiknas
Denpasar,
Senin (12/12)
malam.
Ketua PHRI Bali Ir. Tjokorda
Oka
A.A. Sukawati,
M.Si.
tampil sebagai
pembicara
tunggal.
Selain
peserta yang terdiri
atas
para dosen
dan
mahasiswa Magister
Manajemen
Pascasarjana
Undiknas,
juga
hadir Ketua
Perdiknas Dr. AAN
Oka
Suryadinata dan
Asdir I
dan II.
Menurut
Tjokorda
Oka
Sukawati -- yang
biasa
disapa Cok Ace --
ada
tiga problem utama
pariwisata Bali yang
menjadi
isu hangat
di
tengah masyarakat.
Pertama,
isu
tercerabutnya arah
pengembangan
pariwisata
dari
konteks budaya Bali.
Kedua,
isu keterkaitan
antara
perkembangan pariwisata
dengan
peningkatan kesejahteraan
sosial
ekonomi (economic-social
walfare) masyarakat
Bali. Ketiga,
ketidakmerataan
dalam
pembangunan pariwisata
Bali, baik
antar
wilayah maupun
antarsektor.
Ketiga
persoalan
ini
latas diulas
lebih
jauh. Dikatakannya,
arah
perkembangan pariwisata
Bali dianggap
oleh
masyarakat luas
mulai
kehilangan konteks.
Kekhawatiran
ini
cukup beralasan
karena
masyarakat mulai
menyadari
bahwa
sedikit demi
sedikit
Bali
mulai
mengalami "erosi"
di tiga
tiang
utama yang menyanggah
eksistensinya. "Tiga
tiang
dimaksud yakni
tanah Bali,
manusia Bali
dan
budaya Bali. Padahal,
perkembangan
dinamis
dalam dunia
pariwisata
selama
ini sangat
ditentukan
oleh
segi tiga
tiang
penyangga tadi,"
jelas
Cok Ace.
Kerakusan
Investor
Keindahan
alami
tanah Bali (dimensi
pelemahan) yang
memberikan
sumbangan yang
tidak
berhingga -- sehingga
mendorong
wisatawan
untuk
datang mengaguminya
-- terancam
mengalami
krisis
ekologis yang semakin
parah.
Penyebabnya tak lain
pencemaran
lingkungan,
kerakusan
dalam
eksploitasi alam
serta
konversi lahan yang "membabibuta"
demi
kepentingan ekonomi
atau
bahkan termasuk
untuk
kepentingan pariwisata.
Dia
mencatat,
selama
kurun waktu
sepuluh
tahun dari 1983 -
1993 terjadi
penurunan
luas
lahan pertanian
Rp 27.293,98 ha (rata-rata
(0,955 persen per
tahun).
Bali
pun terancam
mengalami
krisis
ekologis, misalnya
akibat
pembabatan hutan
lindung
berimplikasi pada
berkurangnya
ketersediaan
sumber air
bagi Bali.
Bayangkan,
pada
tahun 2001 saja
Hutan
Lindung Kintamani
mengalami
kerusakan 50%
atau
seluas 12.000 ha. Hal ini
juga
terjadi di
kawasan
Hutan Taman Bali
Barat
dan kawasan
Bedugul-Danau
Tamblingan
serta
kawasan Besakih-lereng
Gunung
Agung.
Selain
krisis
ekologi, lanjutnya,
perkembangan
pariwisata
di Bali
terancam kehilangan
konteks
dari dimensi
manusia Bali.
Perkembangan
pembangunan
pariwisata yang
intensif
tiga
puluh tahun
terakhir
memunculkan
arus
migrasi swakarsa
dari
luar Bali ke Bali.
Bali seperti
gula yang
dirubung
selaksa
semut. Proses
migrasi yang
lebih
didasarkan motif ekonomi
ini
pelan-pelan menimbulkan
problematika
serius
dalam kompetisi
pasar
tenaga kerja
di Bali
dan akhirnya
juga
membawa implikasi
pada
budaya Bali.
Salah
satu yang
menarik
perhatian publik Bali
adalah
mulai tersisihnya
tenaga
kerja lokal.
Tenaga
kerja lokal yang
karena
tugas-tugas budayanya
di desa
adat
seringkali harus "banyak
libur"
tersisih dalam
kompetisi
tenaga
kerja. Kompetisi
ekonomi
tidak hanya
dalam bursa
tenaga
kerja juga
berhubungan
dengan
peralihan kepemilikan
tanah Bali
ke
aktor-aktor ekonomi
luar Bali.
Terakhir,
perkembangan
pariwisata
mulai
kehilangan konteks
budayanya.
Bahkan,
ada kecenderungan
untuk
memisahkan ranah
pariwisata yang
dipandang
semata-mata
dalam
ukuran ekonomistis-industri
dengan
ranah budaya.
Indikasi
ke arah
keterpisahan
itu
bisa dilihat
dari
kecenderungan beberapa
pelaku
pariwisata hanya
mementingkan
keuntungan
tanpa
melakukan investasi
pada
pengembangan budaya
Bali.
Pada
saat
bersamaan munculnya
desain
pengembangan pariwisata
yang tidak ''ramah''
budaya. "Dari
perkembangan
itu,
seolah-olah desain
pariwisata
ditujukan
hanya
melayani keinginan
wisatawan,
bukan
berorientasi pada
kebutuhan
masyarakat Bali
akan
eksistensi budayanya,"
gugat
Cok Ace. (056)
Tjokorda
Oka
A.A. Sukawati
''Desain
pengembangan
pariwisata
tidak 'ramah'
budaya.
Seolah-olah
desain
pariwisata ditujukan
hanya
melayani keinginan
wisatawan,
bukan
berorientasi pada
kebutuhan
masyarakat Bali
akan
eksistensi budayanya.''