Koizumi Tetap Kukuh Soal Kunjungan ke Kuil Perang
Kuala Lumpur-
Pemimpin Jepang tetap tegas pada pendirian mereka Selasa
(13/12) kemarin, terhadap perselisihan sengit dan
emosional dengan Cina. Hal tersebut dipicu kunjungan ke
sebuah kuil perang di Tokyo oleh Perdana Menteri
Junichiro Koizumi. Hal tersebut menjadi awan hitam pada
hari kedua pertemuan KTT ASEAN.
Koizumi berkata ia percaya Beijing nantinya akan "mengerti"
kunjungan kontroversialnya menuju kuil Yasukuni,
kunjungan yang mendapat protes keras baik dari Cina dan
Korea Selatan.
"Saya
bersedia untuk bertemu kapan saja. Namun saya percaya
kami akan meraih kembali pemahaman terhadap isu ini
beberapa waktu ke depan," kutip seorang diplomat Jepang.
Cina kemudian tidak menghiraukan pertemuan tiga kelompok
dengan Jepang dan Korsel di sela-sela pertemuan ASEAN.
Perang kata-kata juga menunjukkan tidak adanya penurunan
tensi perselisihan, dimana Beijing malah balik
melontarkan kata-kata kritikan pedas kepada pemimpin
Jepang.
Perselisihan ini mengancam menjadi bayan-bayang dalam
pertemuan Koizumi dengan 10 pemimpin ASEAN, dimana ia
menawarkan sepuluh juta dolar untuk mendanai terwujudnya
integrasi yang lebih dekat.
Pengumuman bantuan sebesar 7,5 milyar yen (62,5 juta
dolar) dikatakan sehari setelah Jepang menyebut akan
menyediakan 135 juta dolar untuk memerangi flu burung di
Asia.
Tawaran ini diberikan di tengah-tengah buntunya
pembicaraan antara Jepang dengan ASEAN dalam kesepakatan
mengenai perdagangan bebas.
Menghancurkan penghalang adalah isu utama dalam
pertemuan tahun ini, dimana Perdana Menteri India
Manmohan Singh Senin lalu mengajukan proposal zona
perdagangan bebas Asia yang akan meng-cover setengah
populasi dunia.
Rabu hari ini ASEAN juga akan bersidang dengan pemimpin
dari Australia, Cina, India, Jepang, New Zealand dan
Korea Selatan dalam pertemuan pertama dengan Asia Timur,
sebuah blok internasional baru yang sudah melewati hari
dengan konflik.
Anggota ASEAN Singapura dan Indonesia, keduanya sekutu
AS, memaksa keterlibatan Australia, India dan New
Zealand untuk menolong kemungkinan terlalu dominannya
peran Cina dalam forum yang tidak mengundang Amerika
Serikat tersebut.
Namun sosok berpengaruh mantan PM Malaysia Mahatir
Mohamad mendapat kritik terhadap keputusan untuk
memasukan negara-negara "non-Asia" dalam pertemuan.
"Tidak
ada tanda peningkatan atau dominasi kekuatan Cina,"
katanya Selasa kemarin. "Bagi saya ini bukanlah
pertemuan Asia Timur."
Perdana Menteri Cina Wen Jiabao Senin lalu memberikan
imbauan mengenai kekhawatiran dominasi Cina. Ia
mengatakan negaranya hanya menginginkan perdamaian dan
berkonsentrasi terhadap meroketnya pertumbuhan ekonomi
yang dicapai Cina. (ton/afp)