Faisal Basri:---------
Jangan
Korbankan
Rakyat
Pertumbuhan
ekonomi
tidak
akan bisa
naik
jika sektor
riil
dan ekspor
mandek.
Upaya pemerintah
menekan
inflasi dan
menguatkan
rupiah
tidak
akan mampu
menciptakan
lapangan
kerja
baru.
Tantangannya
memang
berat, tetapi
ada
pilihan yang harus
dijalankan
pemerintah.
Apa
pilihan
itu?
Berikut
petikan
wawancara wartawan
Bali Post Ahmadi
dengan
pengamat ekonomi
Faisal Basri
di Jakarta,
Selasa (13/12)
kemarin.
=====================
Untuk
memulihkan
ekonomi,
pemerintah (tim
ekuin
di bawah
Boediono)
sepertinya
mengedepankan
inflasi yang
rendah
dan rupiah yang
kuat.
Bagaimana
tanggapan
Anda?
Memang
kenyataannya
seperti
itu.
Pemerintah
semestinya
tidak
perlu ragu-ragu
untuk
mengorbankan rupiah
demi
mencapai pertumbuhan
ekonomi yang
ditargetkan.
Pilihannya
sekarang
adalah
pertumbuhan GDP atau
inflasi yang
rendah.
Apakah
kita
akan menaikkan
suku
bunga untuk
menjaga
kestabilan karena
suku
bunga yang tinggi
atau
mengorbankan rupiah
sedikit
tapi terkendali?
Di
antara
pilihan itu,
mana yang paling
menguntungkan
bagi
rakyat?
Saya
akan
lebih
memilih instrumen
yang bisa
menghasilkan
lebih
banyak untuk
rakyat.
Reshuffle terbatas
dua
pekan lalu
mampu
mengangkat rupiah
ke
kisaran 9.700-an per
dolar AS.
Apakah
itu akan
berlangsung
terus?
Memang
saat
ini rupiah
tengah
mengalami penguatan
yang karena
pergantian
tim
ekonomi.
Penguatan
rupiah
sebenarnya tidak
ada
penyebabnya, kecuali
pergantian
kabinet.
Jika
nanti euforia
terhadap
tim
ekonomi
baru yang dianggap
lebih market friendly
itu
berakhir, rupiah
akan
kembali melemah.
Apa
yang harus
dilakukan
pemerintah?
Melemahnya
rupiah
bukan masalah
asal
dijaga volatilitasnya.
Artinya,
pemerintah
harus
bersikap fleksibel
terhadap
nilai
tukar dan
jangan
memaksakan untuk
menekan
rupiah hingga
ke level yang
diinginkan.
(*)