kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 14 Desember 2005

 Ekonomi


Faisal Basri:---------

Jangan
Korbankan Rakyat 

Pertumbuhan ekonomi tidak akan bisa naik jika sektor riil dan ekspor mandek. Upaya pemerintah menekan inflasi dan menguatkan rupiah tidak akan mampu menciptakan lapangan kerja baru. Tantangannya memang berat, tetapi ada pilihan yang harus dijalankan pemerintah. Apa pilihan itu? Berikut petikan wawancara wartawan Bali Post Ahmadi dengan pengamat ekonomi Faisal Basri di Jakarta, Selasa (13/12) kemarin. 

===================== 

Untuk memulihkan ekonomi, pemerintah (tim ekuin di bawah Boediono) sepertinya mengedepankan inflasi yang rendah dan rupiah yang kuat. Bagaimana tanggapan Anda?

Memang kenyataannya seperti itu. Pemerintah semestinya tidak perlu ragu-ragu untuk mengorbankan rupiah demi mencapai pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan. Pilihannya sekarang adalah pertumbuhan GDP atau inflasi yang rendah. Apakah kita akan menaikkan suku bunga untuk menjaga kestabilan karena suku bunga yang tinggi atau mengorbankan rupiah sedikit tapi terkendali?

 

Di antara pilihan itu, mana yang paling menguntungkan bagi rakyat?

Saya akan lebih memilih instrumen yang bisa menghasilkan lebih banyak untuk rakyat.

 

Reshuffle terbatas dua pekan lalu mampu mengangkat rupiah ke kisaran 9.700-an per dolar AS. Apakah itu akan berlangsung terus?

Memang saat ini rupiah tengah mengalami penguatan yang karena pergantian tim ekonomi. Penguatan rupiah sebenarnya tidak ada penyebabnya, kecuali pergantian kabinet. Jika nanti euforia terhadap tim ekonomi baru yang dianggap lebih market friendly itu berakhir, rupiah akan kembali melemah.

 

Apa yang harus dilakukan pemerintah?

Melemahnya rupiah bukan masalah asal dijaga volatilitasnya. Artinya, pemerintah harus bersikap fleksibel terhadap nilai tukar dan jangan memaksakan untuk menekan rupiah hingga ke level yang diinginkan.

(*)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)