Bali sebagai
Pulau
Padma Bhuwana
Siwas
sarwwagatha
suksmah.
bhutanam
antariksawat,
acintya
mahagrehyante,
naindriyam
pari
grehyate. (Buana
Kosa II.17)
Maksudnya:
Tuhan
Siwa ada
di
mana-mana. Beliau
amat
gaib, tidak
dapat
dibayangkan. Bagaikan
angkasa
beliau itu.
Tidak
dapat diraih
dengan
kecerdasan pikiran
dan
ketajaman indria
semata.
DALAM
Lontar
Mpu Kuturan,
Pulau Bali
disimbolkan
sebagai
Padma Bhuwana.
Padma
itu adalah
bunga
tunjung dengan
delapan
kelopak daunnya yang
mengarah
ke
delapan penjuru
mata
angin. Bunga
padma
ini dalam agama Hindu
disimbolkan
sebagai
alam semesta
stana
Tuhan Yang Mahakuasa.
Sedangkan
kata
bhuwana adalah
alam
semesta atau
makrokosmos.
Jadi,
Bali
dalam
hal ini
disimbolkan
sebagai
replika alam
semesta
stana Tuhan Yang
Mahakuasa yang
berada
di mana-mana.
Konsep
Tuhan yang amat
gaib
ada di
mana-mana
inilah
dikongkretkan secara
simbolis
dengan
sembilan Kahyangan
Jagat yang
didirikan
di
sembilan arah
Pulau Bali
yaitu
di delapan
penjuru
mata angin
dan
satu di
tengah-tengah.
Sembilan
Pura
Kahyangan Jagat
di
sembilan arah
itulah
disebut Kahyangan
Padma
Bhuwana. Kahyangan
Jagat
itu dikelompokkan
menjadi
empat berdasarkan
konsepsi
pendiriannya.
Ada
konsepsi
Padma
Bhuwana dengan
sembilan
kahyangan
di
sembilan arah.
Ada
pura yang
didirikan
berdasarkan
konsepsi Sad
Winayaka yang
menjadi
Pura Sad Kahyangan.
Ada
pura yang
didirikan
berdasarkan
konsepsi
Catur
Loka Pala yang
ada di
empat
penjuru Pulau Bali
dan ada
pura yang
didirikan
berdasarkan
konsepsi
rwa
bhineda yaitu
Pura
Besakih dan
Pura
Ulun Danu
Batur.
Pura
Padma
Bhuwana itu
untuk
mengkongkretkan bahwa
tidak
ada wilayah Bali
sebagai
simbol alam
semesta
ini tanpa
kehadiran
Tuhan. Hal
ini
untuk menanamkan
keyakinan
pada
umat bahwa
apa pun yang
dilakukan
oleh
umat di Bali (alam
semesta)
ini
pasti disaksikan
oleh
Tuhan. Hal ini
untuk
memotivasi umat agar
semaksimal
mungkin
berusaha berbuat
baik
dan benar.
Sesungguhnya
di
wilayah Bali ini
tak ada
tempat
tersembunyi tanpa
kesaksian
Tuhan
untuk berbuat
buruk
dan adharma.
Kongkretisasi
simbolis
kehadiran
Tuhan yang
mahagaib
itu
untuk memotivasi
umat agar
selalu
sadar bahwa
Tuhan
selalu menyertainya
ke mana
pun pergi
dan
berada di
wilayah
Bali
ini. Dari
konsepsi
pemujaan
ini
tentunya diharapkan
umat
berani berbuat
menegakkan yang
baik
dan benar (dharma)
karena
Tuhan pasti
melindunginya.
Sebaliknya
takut
berbuat adharma
karena
Tuhan pasti
akan
memberikan pahala
yang setimpal
dengan
perbuatan buruknya
itu.
Sembilan
Pura
Padma Bhuwana
itu
dijelaskan dalam
buku
hasil Penelitian
Pura Sad
Kahyangan
Jagat
oleh Tim IHD (sekarang
Unhi)
Denpasar tahun 1979.
Sembilan
Pura
itu adalah
Pura
Besakih, Lempuhyang
Luhur,
Goa Lawah,
Andakasa,
Luhur
Uluwatu, Luhur
Batukaru,
Pucak
Mangu, Ulun
Danu
dan Pura
Pusering
Jagat.
Tuhan
dipuja
di Pura Sad
Kahyangan
untuk
memotivasi umat
untuk
menegakkan ajaran Sad
Kerti
yaitu Atma
Kerti,
Samudra Kerti,
Wana
Kerti, Danu
Kerti,
Jagat Kerti
dan Jana
Kerti.
Pemujaan Tuhan
di Pura
Sad Kahyangan
ini
diharapkan agar umat
membangun
kesadaran
rohani
untuk menjaga
kelestarian
alam
seperti samudera,
wana
dan danau.
Alam yang
lestari
itu menjadi
wahana
dan sarana
membangun
masyarakat (jagat)
yang dinamis
untuk
mewujudkan kebenaran,
kesucian
dan
keharmonisan. Dalam
alam yang
lestari
dan masyarakat yang
dinamis
itulah setiap
orang (jana)
dapat
mengembangkan dirinya
menjadi
manusia yang utuh
seimbang
lahir
batin.
Ada
banyak
lontar yang menjelaskan
Pura Sad
Kahyangan yang
berbeda-beda. Tim
Peneliti
Pura Sad
Kahyangan
Jagat IHD
Denpasar
tahun 1979
menetapkan Sad
Kahyangan
menurut
Lontar Kusuma
Dewa. Hal
ini
juga telah
ditetapkan pula
dalam Seminar
Kesatuan
Tafsir
terhadap Aspek-aspek
Agama Hindu. Sad Kahyangan
itu
adalah Pura
Besakih,
Lempuhyang
Luhur,
Gua Lawah,
Luhur
Ulu Waktu,
Luhur
Batu Karu,
dan
Pusering Jagat.
Inilah Sad
Kahyangan
Jagat
saat Bali belum
menjadi
sembilan kerajaan.
Tuhan
dipuja
di Pura
Carur
Loka Pala.
Kata
pala artinya
pelindung,
sedangkan
kata
phala artinya
buah.
Jadi, Pura
Catur
Loka Pala
ini
adalah empat
Pura
Kayangan Jagat
sebagai media
untuk
memuja Tuhan
sebagai
pelindung kehidupan
di
jagat Bali. Empat
pura
tersebut dinyatakan
dalam
Lontar Usana Bali.
Pura
ini ada
di
empat penjuru Bali
yaitu
di timur
Pura
Lempuhyang Luhur,
di
barat Pura
Luhur
Batukaru. Di
selatan
Pura Andakasa
dan di
utara
Pura Pucak
Mangu.
Jadi, konsepsi
teologi Hindu yang
menyatakan
bahwa
Tuhan itu
esa,
maha ada
dan
maha suksma
diwujudkan
secara
simbolis yang sakral
sehingga
umat Hindu
dapat
lebih mudah
memahaminya.
Dengan
pemahaman itu
diharapkan
dapat
memajukan tingkat
kerohanian
umat.
Rohani yang maju
dan
kuat itu
untuk
mewujudkan kehidupan
yang sejahtera
lahir
batin seperti
diajarkan
dalam Sad
Kerti
itu. Kehidupan
sejahtera
itu
perlu mendapatkan
perlindungan.
Karena
itu, Tuhan
dipuja
di Pura
Catur
Loka Pala. Dari
hidup yang
aman (raksanam)
dan
sejahtra (danam)
itu
kita bangun
hidup yang
terus
seimbang lahir
batin
dengan memuja
Tuhan
di pura
rwa
bhineda di
Pura
Besakih dan
Ulun
Danu Batur.
*
I Ketut
Gobyah