kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 14 Desember 2005

 Bali


Telepon Kantor Diparda Bali Disegel  ---

Nurjaya Malah Pergi ke Australia
 

Denpasar (Bali Post) -
Pejabat ke luar negeri tak henti menuai tudingan. Setelah promo ke Vietnam yang melibatkan Disperindag, Diparda dan Dinas Kebudayaan, mulai Rabu (14/12) ini, rombongan Kadiparda Bali I Gede Nurjaya melakukan lawatan ke Australia.

Kondisi ini kontan mengundang reaksi keras Fraksi Golkar Bali usai sidang pleno DPRD Bali, Selasa (13/12) kemarin.  Wakil Ketua Fraksinya Ir. Dauh Wijana didampingi anggota fraksinya sangat menyesalkan hal itu. Kata dia, seolah-olah Nurjaya kebal terhadap sorotan DPRD Bali. Padahal, jelas-jelas ketiga fraksi di DPRD Bali telah meminta adanya pembatasan kunjungan ke luar negeri karena dinilai tak efektif dan terkesan menghamburkan uang.

Ironisnya, hal ini terjadi saat pelayanan Dinas Pariwisata Bali kurang memuaskan. Dia menyebut tiga sambungun telepon ke Diparda Bali (227350, 226669 dan 221567) diblokir oleh Telkom. Hal ini diketahuinya setelah pihak fraksinya berulang kali meminta informasi soal keberangkatan delegasi ke luar negeri tersebut. ''Ini kan berarti dua bulan sudah pelayanan terputus melalui telepon,'' katanya.

Lantas bagaimana dengan relasi pariwisata seperti biro dan agen yang ingin mendapatkan informasi cepat dari Diparda ketika ketiga line telepon disegel. Pihaknya sempat mengecek tagihan ketiga line telepon tersebut yang mencapai Rp 1,5 juta belum dibayar.

Dia berharap Nurjaya mendengar sorotan fraksinya. Dalam kondisi ekonomi terpuruk, Dauh Wijana yang membacakan sikap akhir fraksinya menyebut sudah sepatutnya pejabat pemerintah mengurangi bepergian ke luar negeri karena nuansa pelesirnya lebih banyak ketimbang promosinya.

 Fraksi-fraksi di DPRD Bali sepakat untuk memangkas kunjungan ke luar negeri dan mengalihkan kegiatan yang bisa dinikmati langsung masyarakat. Terbukti dihapusnya anggaran pelesir Dewan Rp 2 milyar pada APBD Bali 2006.

Dengan adanya perjalanan kembali ke Australia, fraksinya merasa kecewa karena gerakan tersebut tak mampu mengajak eksekutif untuk ikut memangkas perjalanan dinas ke luar negeri. Selain itu, pada kondisi pariwisata Bali yang terpuruk ini, tepat saatnya membangun kembali kinerja kepariwisataan Bali ke dalam. Misalnya pembenahan infrastruktur sebagaimana disorot pada rapat gabungan.

''Selama ini kan orang-orangnya itu-itu saja. Ironisnya, ada satu pejabat bisa 2-3 kali dalam sebulan ke luar negeri,'' ujarnya. (sua)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)