kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 14 Desember 2005

 Bali


Tersangka
Bom Bali II Tutup Mulut 

Denpasar (Bali Post) -
Empat
tersangka kasus bom Bali II yang ditahan di Polda Bali, mulai melancarkan gerakan tutup mulut. Akibatnya, penyidik mengalami kesulitan mendalami kasus dan mengorek keterangan dari komplotan teroris binaan Dr. Azahari itu. Mochammad Cholily (28), Anif Zulchanudin (24), Abdul Azis (30), dan Wiwid baru akan bicara kalau polisi punya bukti dan saksi.

Demikian disampaikan Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol. AS Reniban pada acara jumpa pers, Selasa (13/12) kemarin. Sikap para tersangka yang menghambat penyidikan bukan berarti membuat polisi putus asa. ''Buronan teroris yang ikut melakukan survai ke Bali malah sudah diketahui,'' tegasnya.

Kombes Reniban belum bisa menyebut nama teroris yang tengah dikejar Polri. Khusus terhadap empat tersangka yang sudah tewas, penyidik bekerja maraton untuk merampungkan BAP untuk kemudian dikeluarkan SP3. Artinya, almarhum Dr. Azahari bersama tiga eksekutor bom bunuh diri di Kuta dan Jimbaran tidak sampai disidangkan.

Informasi yang dihimpun Bali Post, Aip Hidayatullah, Misno, dan Salik Firdaus di Kafe Nyoman dibekali granat saat berangkat ke Bali. Dr. Azahari memerintahkan mereka meledakkan granat jika ketahuan mengemban misi teroris. Salik Firdaus dkk. ternyata berhasil melakukan penyamaran, sampai akhirnya meledakkan bom di Kuta dan Jimbaran.

Saksi kunci, MS membuka sepak terjang para tersangka kasus bom Bali II di depan penyidik. Misalnya, Subur Sugiarto alias Abu Mujahid (masih buron) mengajak Anif dkk. ke Gunung Unggaran untuk dididik latihan militer. Selain Anif, yang ikut latihan jihad masing-masing DW, BS, YY, dan ST.

Tersangka Anif semula mendapat tugas sebagai eksekutor bom bunuh diri di Bali (2005). Dr. Azahari urung mengutus Anif untuk melakukan serangan bom bunuh diri di Bali setelah membaca situasi. Salah satu alasannya, diduga Anif masih diperlukan untuk ''mendidik'' anggota teroris baru. Maklum, Anif di lingkungan teroris dikenal sebagai pendakwah.

Sementara Cholily disuruh Dr. Azahari membawa tas plastik berisi bom untuk diserahkan pada Noordin M. Top dengan sandi ''mama''. Dia berangkat dengan naik bus dari Batu, Malang ke Semarang. Penyidik kasus bom Bali 2005 sudah memeriksa 875 saksi. Sebelum menangkap empat tersangka, polisi mengumpulkan keterangan 840 saksi dari tiga TKP -- Raja's Restoran, Kafe Nyoman dan Menega. Khusus untuk tersangka Cholily, penyidik memeriksa 16 saksi. Saksi untuk Abdul Azis ada 8, dan Anif 6 orang. (kmb 10)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)