Tersangka
Bom Bali II
Tutup
Mulut
Denpasar
(Bali Post) -
Empat
tersangka
kasus
bom Bali II yang ditahan
di
Polda Bali, mulai
melancarkan
gerakan
tutup mulut.
Akibatnya,
penyidik
mengalami
kesulitan
mendalami
kasus
dan mengorek
keterangan
dari
komplotan teroris
binaan Dr.
Azahari
itu. Mochammad
Cholily (28),
Anif
Zulchanudin (24), Abdul Azis
(30), dan
Wiwid
baru
akan bicara
kalau
polisi punya
bukti
dan saksi.
Demikian
disampaikan
Kabid
Humas Polda Bali
Kombes
Pol. AS Reniban
pada
acara jumpa
pers,
Selasa (13/12) kemarin.
Sikap
para
tersangka yang menghambat
penyidikan
bukan
berarti membuat
polisi
putus asa.
''Buronan
teroris yang
ikut
melakukan survai
ke
Bali malah
sudah
diketahui,'' tegasnya.
Kombes
Reniban
belum bisa
menyebut
nama
teroris yang
tengah
dikejar Polri.
Khusus
terhadap empat
tersangka yang
sudah
tewas,
penyidik
bekerja
maraton untuk
merampungkan BAP
untuk
kemudian dikeluarkan
SP3. Artinya,
almarhum Dr.
Azahari
bersama tiga
eksekutor
bom
bunuh diri
di Kuta
dan
Jimbaran tidak
sampai
disidangkan.
Informasi
yang dihimpun Bali Post,
Aip
Hidayatullah, Misno,
dan
Salik Firdaus
di Kafe
Nyoman
dibekali granat
saat
berangkat ke Bali.
Dr. Azahari
memerintahkan
mereka
meledakkan granat
jika
ketahuan mengemban
misi
teroris.
Salik
Firdaus
dkk.
ternyata
berhasil
melakukan
penyamaran,
sampai
akhirnya meledakkan
bom di
Kuta
dan Jimbaran.
Saksi
kunci, MS
membuka
sepak terjang
para
tersangka kasus
bom Bali II
di
depan penyidik.
Misalnya,
Subur
Sugiarto alias Abu Mujahid
(masih
buron) mengajak
Anif
dkk.
ke
Gunung
Unggaran untuk
dididik
latihan militer.
Selain
Anif, yang ikut
latihan jihad
masing-masing DW, BS, YY,
dan ST.
Tersangka
Anif
semula mendapat
tugas
sebagai eksekutor
bom
bunuh diri
di Bali (2005).
Dr. Azahari
urung
mengutus Anif
untuk
melakukan serangan
bom
bunuh diri
di
Bali
setelah
membaca situasi.
Salah
satu
alasannya, diduga
Anif
masih diperlukan
untuk ''mendidik''
anggota
teroris baru.
Maklum,
Anif di
lingkungan
teroris
dikenal sebagai
pendakwah.
Sementara
Cholily
disuruh Dr. Azahari
membawa
tas
plastik
berisi bom
untuk
diserahkan pada
Noordin M. Top
dengan
sandi ''mama''.
Dia
berangkat
dengan
naik bus dari
Batu,
Malang
ke
Semarang.
Penyidik
kasus
bom Bali 2005 sudah
memeriksa 875
saksi.
Sebelum
menangkap
empat
tersangka, polisi
mengumpulkan
keterangan 840
saksi
dari tiga TKP --
Raja's Restoran,
Kafe
Nyoman dan
Menega.
Khusus
untuk
tersangka Cholily,
penyidik
memeriksa 16
saksi.
Saksi
untuk Abdul
Azis
ada 8, dan
Anif 6
orang. (kmb
10)