Diterjang
Air Bah, Jembatan
Calo
Putus
* Tanah
Longsor di
Tiga
Titik
Gianyar
(Bali Post) -
Hujan
deras yang
tak
henti-hentinya mengguyur
bumi
pekan terakhir
ini
kembali makan
korban.
Sekitar
pukul 14.00 Senin
(12/12) lalu,
sebuah
jembatan yang berlokasi
di
Banjar Calo,
Desa
Pupuan, Tegallalang
putus total
diterjang air bah.
Jembatan
yang masih
dalam
proses pengerjaan
itu
tersisa bagian
sayapnya (bentang
beton
pinggiran jembatan-red)
saja.
Sementara kaki-kaki jembatan,
konstruksi
pelengkung
dan
badan jembatan
hancur
berantakan dan
dihanyutkan
luapan air
Sungai
Dapdap.
Kerugian
material akibat
bencana
itu mencapai
Rp 100
juta lebih.
Dihubungi
Selasa (13/12)
kemarin,
Camat
Tegallalang I Ketut
Suweta, S.E.
mengatakan
bahwa
jembatan Calo
merupakan
jalur
alternatif yang
menghubungkan Banjar
Calo
Desa Pupuan
dengan
Banjar Sebatu
Desa
Sebatu, Tegallalang.
Dikatakan,
sumber
dana pembangunan
jembatan
sepanjang 11 meter
dengan
lebar 6 meter ini
yang mencapai
Rp 105
juta berasal
dari Program
Pengembangan
Kecamatan (PPK) yang
dikucurkan
oleh
pemerintah pusat.
Sedangkan
pengerjaan
jembatan
itu
dilaksanakan secara
swadaya
oleh masyarakat
setempat
di
bawah pengawasan
aparat yang
ditunjuk
oleh PPK. ''Terkait
rusaknya
proyek PPK yang
masih
dalam proses
pengerjaan
ini,
secepatnya
akan
saya
laporkan kepada
Bapak
Bupati.
Dalam
waktu
dekat ini,
para
pengelola PPK, pihak
desa
dan komponen
masyarakat
lainnya
berencana menggelar
rapat
guna menyikapi post
majeur (musibah-red)
ini,''
katanya.
Sementara
itu,
Fasilitator Kecamatan
I Wayan
Muliadi, S.T. mengatakan
pembangunan
jembatan
itu
ditargetkan rampung
pada
akhir Desember
ini.
Beban
pekerjaan
fisik yang
sudah
diselesaikan sebenarnya
mencapai 95%.
Pihaknya
tinggal
melepas stager (tiang
pancang-red) yang
difungsikan
sebagai
pemegang konstruksi
badan
jembatan pascapengecoran.
Sayang,
sebelum stager itu
dilepas, air bah
sudah
lebih dahulu
memporak-porandakan
jembatan yang
keberadaannya
sudah
sejak lama diidam-idamkan
masyarakat
setempat.
Fisik
jembatan yang
tersisa
hanya bagian
sayapnya.
Jadi,
proses
perbaikannya mesti
dimulai
dari awal
lagi,
kata alumni Fakultas
Teknik
Unud itu.
Menurut
Muliadi,
rusaknya
jembatan
Calo
itu diawali
dengan
hujan lebat yang
menyebabkan air
Sungai
Dapdap meluap
hingga
mencapai badan
jembatan.
Parahnya
lagi,
hujan lebat yang
disertai
angin
kencang itu
menumbangkan
sejumlah
pohon
berukuran besar yang
tumbuh
di pinggiran
hulu
sungai.
Batang-batang
pohon
tumbang itu
lantas
dihanyutkan air sungai
dan
menghantam stager penyangga
jembatan.
Lantaran
berulang kali
terkena
hantaman benda
keras, stager
itu pun
patah.
Selanjutnya,
batang-batang
pohon
itu juga
menghantam kaki-kaki
jembatan yang
akhirnya
merembet
pada
pelengkung jembatan.
Dalam
waktu
singkat, badan
jembatan
juga
ikut ambrol
dan
tergerus luapan air
sungai.
''Sejumlah
pekerja
jembatan menginformasikan
kepada
saya ada
beberapa
pohon
tumbang berukuran
besar
dihanyutkan air sungai
dalam
posisi tegak.
Sedangkan
ketinggian air
sungai
mencapai 10 meter, katanya
dan
menambahkan seandainya
konstruksi
jembatan
itu
hanya diterjang air
bah atau
tidak
terkena hantaman
batang-batang
pohon yang
tumbang,
dipastikan
kerusakan
jembatan
tidak
sampai separah
itu.
Selain
putusnya
jembatan
Calo,
hujan deras
juga
menimbulkan bencana
tanah
longsor.
Paling tidak,
ada
tiga titik
jalur
transportasi utama
di
wilayah Kecamatan
Tegallalang yang
sempat
macet akibat
tertutup
longsoran
tanah.
Ketiga
titik itu
meliputi
jalur
Banjar Jasan,
Desa
Sebatu-Desa Pupuan,
jalur
Banjar Calo,
Desa
Sebatu-Tampaksiring dan
jalur
Banjar Sebali,
Desa
Keliki-Ubud.
Musibah
ini,
tak pelak
membuat
aparat Dinas PU
Gianyar
dibantu warga
setempat
kewalahan
menyingkirkan
longsoran
tanah
itu agar arus
lalu
lintas kembali
normal. (kmb13)