kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 14 Desember 2005

 Bali


Diterjang
Air Bah, Jembatan Calo Putus
* Tanah Longsor di Tiga Titik

Gianyar (Bali Post) -
Hujan
deras yang tak henti-hentinya mengguyur bumi pekan terakhir ini kembali makan korban. Sekitar pukul 14.00 Senin (12/12) lalu, sebuah jembatan yang berlokasi di Banjar Calo, Desa Pupuan, Tegallalang putus total diterjang air bah.

Jembatan yang masih dalam proses pengerjaan itu tersisa bagian sayapnya (bentang beton pinggiran jembatan-red) saja. Sementara kaki-kaki jembatan, konstruksi pelengkung dan badan jembatan hancur berantakan dan dihanyutkan luapan air Sungai Dapdap. Kerugian material akibat bencana itu mencapai Rp 100 juta lebih.

Dihubungi Selasa (13/12) kemarin, Camat Tegallalang I Ketut Suweta, S.E. mengatakan bahwa jembatan Calo merupakan jalur alternatif yang menghubungkan Banjar Calo Desa Pupuan dengan Banjar Sebatu Desa Sebatu, Tegallalang. Dikatakan, sumber dana pembangunan jembatan sepanjang 11 meter dengan lebar 6 meter ini yang mencapai Rp 105 juta berasal dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang dikucurkan oleh pemerintah pusat. Sedangkan pengerjaan jembatan itu dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat setempat di bawah pengawasan aparat yang ditunjuk oleh PPK. ''Terkait rusaknya proyek PPK yang masih dalam proses pengerjaan ini, secepatnya akan saya laporkan kepada Bapak Bupati. Dalam waktu dekat ini, para pengelola PPK, pihak desa dan komponen masyarakat lainnya berencana menggelar rapat guna menyikapi post majeur (musibah-red) ini,'' katanya.

Sementara itu, Fasilitator Kecamatan I Wayan Muliadi, S.T. mengatakan pembangunan jembatan itu ditargetkan rampung pada akhir Desember ini. Beban pekerjaan fisik yang sudah diselesaikan sebenarnya mencapai 95%. Pihaknya tinggal melepas stager (tiang pancang-red) yang difungsikan sebagai pemegang konstruksi badan jembatan pascapengecoran. Sayang, sebelum stager itu dilepas, air bah sudah lebih dahulu memporak-porandakan jembatan yang keberadaannya sudah sejak lama diidam-idamkan masyarakat setempat. Fisik jembatan yang tersisa hanya bagian sayapnya. Jadi, proses perbaikannya mesti dimulai dari awal lagi, kata alumni Fakultas Teknik Unud itu.

Menurut Muliadi, rusaknya jembatan Calo itu diawali dengan hujan lebat yang menyebabkan air Sungai Dapdap meluap hingga mencapai badan jembatan. Parahnya lagi, hujan lebat yang disertai angin kencang itu menumbangkan sejumlah pohon berukuran besar yang tumbuh di pinggiran hulu sungai. Batang-batang pohon tumbang itu lantas dihanyutkan air sungai dan menghantam stager penyangga jembatan. Lantaran berulang kali terkena hantaman benda keras, stager itu pun patah. Selanjutnya, batang-batang pohon itu juga menghantam kaki-kaki jembatan yang akhirnya merembet pada pelengkung jembatan. Dalam waktu singkat, badan jembatan juga ikut ambrol dan tergerus luapan air sungai. ''Sejumlah pekerja jembatan menginformasikan kepada saya ada beberapa pohon tumbang berukuran besar dihanyutkan air sungai dalam posisi tegak. Sedangkan ketinggian air sungai mencapai 10 meter, katanya dan menambahkan seandainya konstruksi jembatan itu hanya diterjang air bah atau tidak terkena hantaman batang-batang pohon yang tumbang, dipastikan kerusakan jembatan tidak sampai separah itu.

Selain putusnya jembatan Calo, hujan deras juga menimbulkan bencana tanah longsor. Paling tidak, ada tiga titik jalur transportasi utama di wilayah Kecamatan Tegallalang yang sempat macet akibat tertutup longsoran tanah. Ketiga titik itu meliputi jalur Banjar Jasan, Desa Sebatu-Desa Pupuan, jalur Banjar Calo, Desa Sebatu-Tampaksiring dan jalur Banjar Sebali, Desa Keliki-Ubud. Musibah ini, tak pelak membuat aparat Dinas PU Gianyar dibantu warga setempat kewalahan menyingkirkan longsoran tanah itu agar arus lalu lintas kembali normal. (kmb13)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)