Danrem
Kol.
Czi Puguh
Santoso --
Konflik
Horizontal juga
Ancam Bali
Semarapura
(Bali Post) -
Perkembangan
global yang tidak
mungkin
terbendung harus
diakui Bali
merupakan
daerah
incaran para
teroris.
Bukan
hanya itu,
dengan
beragam kepentingan
tersebut, Bali
juga
sangat rentan
dan
sangat memungkinkan
terjadi
konflik horizontal.
Danrem
163/Wirasatya, Kol.
Czi
Puguh Santoso
mengungkapkan
hal itu
saat
memberikan pengarahan
di
hadapan Dandim,
Danramil,
Babinsa
dalam acara
apel
prajurit TNI se-Wilayah
Korem 163/Wirasatya
di
Gedung Balai
Budaya,
Selasa (13/12) kemarin.
Terutama
menjelang
perayaan Natal
dan
Tahun Baru (Nataru),
Puguh
menyatakan siap
mengerahkan
seluruh
prajurit TNI untuk
bekerja
sama dengan
aparat
pengamanan di
samping
polisi. TNI tidak
akan
bekerja sendiri-sendiri.
Karena
bagaimanapun, TNI tidak
akan
mampu memagari
Pulau Bali
sendirian.
Makanya,
di
masing-masing kabupaten
(Kodim)
sudah dibentuk
tim-tim
khusus yang beranggotakan
satu
peleton pasukan.
Menurutnya,
berbagai
langkah
harus diambil
untuk
mengantisipasi berbagai
ancaman
itu. Saat
ini
memang sudah
banyak
hal yang dilakukan
otoritas
pengamanan.
Namun yang paling
penting
adalah kesiagaan
dan
kekompakan seluruh
komponen
masyarakat.
Masyarakat
harus
memahami kondisi yang
terjadi
dan jangan
bergerak
sendiri-sendiri.
Tertembak
matinya
gembong teroris Dr.
Azahari
saat
baku
tembak
dengan kepolisian
di Batu,
Malang,
Jawa
Timur beberapa
waktu
lalu, kata
dia,
bukannya membuat
pergerakan
teroris
melemah. Melainkan
semakin
mengeras dan
menguat,
tidak
peduli, apakah
bangsa
musuh ataupun
bangsa
kawan.
Di
hadapan
prajurit TNI seluruh
Bali itu,
Puguh
kemudian meminta
para
prajurit TNI mengemban
tugas
sebaik mungkin
tanpa
pamrih. Prajurit TNI
tidak
petantang-petenteng.
Ditegaskan, hidup
ini
dinamis, bergerak
dan
penuh tantangan. ''Kalau
mau
petantang-petenteng, apalagi
menentang
amanah,
lebih baik
lepas
seragam. Mundur
secara
jantan sebagai
prajurit,''
tegasnya.
Khusus
di Bali,
dengan
berbagai simbol
kepentingan yang
ada,
perwira tiga
melati
itu menyarankan agar
pemerintah
baik di
tingkat
propinsi (Gubernur-red)
dan
kabupaten (Bupati)
jangan
sampai membuat
produk
hukum yang menimbulkan
perasaan
tersinggung.
Kalaupun
ada
produk hukum yang
dibuat,
siapa penegaknya
juga
harus jelas. ''Kalau
sampai
perasaan terpinggirkan
itu
muncul dari
kelompok
mana pun,
teroris
akan semakin
mudah
melancarkan gerakan
provokasi
bahkan
membuat skenario
untuk
memunculkan konflik
horizontal sebagaimana yang
terjadi
di Poso
dan
Ambon,'' tandasnya.
Diakui,
tragedi
bom yang terjadi
di Bali
hingga kedua
kalinya
awal Oktober 2005,
sebagai
akibat masih
tumpulnya
peran
komando TNI yang berada
di
wilayah-wilayah (Kowil).
Naluri
keprajuritan yang merupakan
salah
satu dari
tugas
pokok Kowil,
belum
berjalan dengan
baik.
Untuk itu,
dia
meminta agar Kowil
meningkatkan lima
kemampuan
tugasnya,
seperti
temu dan
lapor
cepat, kemampuan
manajemen
teritorial,
kemampuan
penguasaan
wilayah,
kemampuan
perlawanan
rakyat
terlatih, dan
kemampuan
komunikasi
sosial.
(kmb20)