kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 14 Desember 2005

 Bali

 

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Banjir
Landa Denpasar-Badung--
Pertanda
Pekembangan tak Perhatikan Kondisi Alam

BENCANA banjir yang melanda Badung-Denpasar dan sekitarnya bukanlah kesalahan alam tetapi kitalah yang teledor terhadap alam. Di saat kemarau kita membuang sampah sembarangan, demikian juga para pengembang yang membuat pemukiman di jalur yang sangat rawan terhadap banjir seperti di pinggir sungai. Tidaklah salah jika akhirnya banjir ini sekaligus juga peringatan buat kita semua bahwa sebenarnya alam sangat bersahabat dengan kita. Demikian juga penataan tata ruang di Denpasar, termasuk masalah perizinan seakan terlupakan. Banjir yang terjadi di Kota Denpasar akibat kesalahan kita sendiri karena yang terkena banjir banyak yang di pinggir kali. Dulu mungkin juga  kebanjiran tetapi saat itu belum ada perumahan. Sekarang banyak sekali perumahan di sekitar Ubung Kaja yang merambah ke pinggir-pinggir kali, akibatnya air meluap. Kondisi ini menandakan  bahwa pekembangan yang terjadi tidak memperhatikan kondisi alam. Demikian pendapat yang disampaikan dalam acara Warung Global di Radio Global FM 96,5 yang disiarkan secara langsung, Selasa (13/12) kemarin. Acara ini juga dipancarluaskan oleh Radio Genta Bali dan Singaraja FM. Berikut rangkuman selengkapnya.

 

-----------------------------------------

Putu Suena di Baturinggit menyatakan bahwa hujan siang malam secara logis memang harus banjir, karena hujan ini akhirnya air dari gunung ke dataran rendah maka kalau ceroboh banjirlah dia.

Kadek Mako di Denpasar menilai hujan sejak awal bulan ini luar biasa tetapi yang paling hebat kemarin (Senin, 12/12) walaupun tidak terlalu deras tetapi beberapa jam. Ini adalah tanda awal bencana nantinya. Terutama di Padangsambian. Mako jadi terbayang saat tsunami, kita lihat warga di Aceh sana sampai ke atap rumah dan tidak mau meninggalkan tempat tinggalnya. Kalau di Pasar Badung sudah pernah terjadi beberapa kali. Antisipasi perlu dan sudah dilakukan, namun kejadian Senin lalu tidak bisa diprediksi. Dicontohkan di depan Polsek Ubud menuju Tegallalang, kalau hujan air seperti sungai, solusi yang bisa lakukan kita buat kotak penampungan air yang di atasnya berisi besi yang kuat. Dan juga yang lain tidak terlepas dari perilaku kita suka membuang sampah sembarangan, juga perkebangan tempat pemukiman sehingga tempat penyerapan air sangat terbatas di Denpasar.

Agung Purnawijaya di Blahbatuh menjelaskan bahwa Tri Hita Karana di Bali hanya slogan belaka, jangan salahkan alam dan Tuhan. Penduduklah yang merusak alam, pada musim kering sembarangan membuang sampah, got-got tersumbat. Kegiatan gotong royong pada era 80-an sekarang sudah tidak berlaku lagi, tata ruang kota dilanggar, hutan-hutan dibabat di luarnya rimbun di dalamnya gundul. Seharusnya lebih baik kita mencegah.

Made Purna di Jl. A Yani memohon kepada Dinas PU untuk mengecek bangunan di sepanjang sungai barat Jalan A Yani, dicek sempadan sungainya dan juga saluran yang membelah Jl. A Yani. Ini perlu lakukan karena dia melihat belakangan ini tumben airnya sampai naik karena sempadannya sudah mengecil.

Ketut Kasih di Batubulan yang mempunyai rumah di Jalan Batu, Gang Camar mengharapkan kepada pemerintah Gianyar agar gorong-gorong dekat gang tersebut dibongkar sehingga arus airnya bertambah cepat alirannya, karena gorong-gorong tersebut terlalu kecil.

Sudira di Gianyar menambahkan, musibah yang melanda Bali di Desember kelabu akibat ulah manusia sendiri, karena pada tahun-tahun dulu rasa kegotong-royongan masih ada membersihkan selokan. Akibat panjangnya musim kemarau di Denpasar sama sekali tidak melakukan gotong royong hanya menunggu tindakan pemerintah. Padahal pemerintah melakukan segala hal, tetapi janganlah kita menyalahkan aparat pemerintah, seharusnya masyarakat bisa berpikir bagaimana di masing-maasing banjar mencari penyebab banjir karena sampah-sampah yang dibuang begitu saja semisal di selokan-selokan. Ketika tiba-tiba hujan maka akibatnya banjir seperti kemarin.

Sementara itu, Widana di Ketewel mengatakan masalah abrasi pantai yang sangat parah di pantai Gumicik. Abrasi ini sudah berlangsung lama. Dia mengharapkan kepada pemerintah agar membuat pengaman arus laut seperti di pantai Sanur.

Puja di Bajera menginformasikan bahwa akibat longsor di daerah Pucuk, tepatnya di perbatasan Meliling dan Bantas sehingga arus lalu lintas macet sekali.

Rai di Denpasar mengisahkan bahwa dadong-nya yang berjualan, berasnya banyak yang hancur. Dia pun bertanya, apakah mendapat ganti rugi?

Mega di Kuta mengingatkan bahwa sudah tradisi setiap bulan Desember banyak hujan, tetapi kalau tidak ada hujan nanti saudara-saudara kita di ujung timur menjerit karena kekeringan. Untuk Badung dan Denpasar kelebihan air ini adalah ulah dari manusia, dalam arti bangunan yang semestinya tidak dibangun tapi dibangun, lahan-lahan subur dibangun oleh investor, sehingga ke mana larinya air sekarang? Berarti selokan-selokan tidak muat. Untu ke depan dia berharap dinas terkait dan masyarakat kembali melakukan gotong royong setiap bulan sekali atau dua kali untuk menanggulangi sampah yang ada dan juga pemda agar memperhatikan tata ruang karena kalau dibiarkan begini maka ketinggian air bisa sepohon kelapa.

Bagi Aji Binong, kalau dilihat dari topografi di Denpasar pada dasarnya secara teknis memang kalau hujan seperti kemarin wajar-wajar saja airnya naik. Dia memperhatikan dari Kuta ke utara airnya sudah tidak tertampung lagi karena di ujung selatan dekat Pura Tanah Kilap dekat laut, sehingga airnya sudah tenang. Contoh kalau di Padangsambian dekat jalan baru itu, itu pun nanti, sekarang sudah sedikit sekali di atas kali yang sedang digarap. Sekarang jalan keluarnya, mulai saat ini ditata oleh Pemkot atau instansi terkait yang mengurus perizinan, jangan dikasih membangun di bawah minimal harus naik 2 meter. Kalau dulu sebelum padat penduduk air diserap oleh tanah yang sekarang menjadi rumah. Oleh karena itu wajar-wajar saja makin padat penduduknya maka banjir itu makin tidak teratasi karena semua ini tidak ditata sejak awal.

Ibu Tatik di Kuta mengharapkan adanya kepastian dan ketegasan izin, karena orang-orang yang bikin rumah misalnya IMB belum datang tapi sudah menulis sendiri seperti tameng. Juga rumah-rumah tersebut memiliki aliran air, karena banyak rumah mewah di daerah Kerobokan tetapi ke mana airnya mengalir?

Kak Batu di Ubung Kaja menjelaskan, setelah diselusuri bahwa banjir yang terjadi di Kota Denpasar akibat kesalahan kita sendiri karena yang kena banjir banyak yang di pinggir kali. Dulu mungkin mengalami banjir tetapi tidak ada perumahan. Tetapi sekarang banyak sekali perumahan di sekitar Ubung Kaja yang merambah ke pinggir-pinggir kali sehingga air di Dam Merta Gangga tidak menerima, akibatnya air meluap ke atas. Kejadian ini sangat memprihatinkan. Melihat kondisi ini menandakan bahwa pekembangan tidak memperhatikan kondisi alam. Kalau tahun 80-an di lokasi perumahan itu adalah sawah atau juga teba.

* panca

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)