Dari
Warung Global
Interaktif Bali Post
Banjir
Landa
Denpasar-Badung--
Pertanda
Pekembangan
tak
Perhatikan Kondisi
Alam
BENCANA
banjir yang
melanda
Badung-Denpasar dan
sekitarnya
bukanlah
kesalahan
alam
tetapi kitalah yang
teledor
terhadap alam.
Di saat
kemarau
kita membuang
sampah
sembarangan, demikian
juga
para pengembang yang
membuat
pemukiman di
jalur yang
sangat
rawan terhadap
banjir
seperti di
pinggir
sungai. Tidaklah
salah
jika akhirnya
banjir
ini sekaligus
juga
peringatan buat
kita
semua bahwa
sebenarnya
alam
sangat bersahabat
dengan
kita. Demikian
juga
penataan tata
ruang
di Denpasar,
termasuk
masalah
perizinan seakan
terlupakan.
Banjir yang
terjadi
di Kota Denpasar
akibat
kesalahan kita
sendiri
karena yang terkena
banjir
banyak yang di
pinggir kali.
Dulu
mungkin juga
kebanjiran
tetapi
saat itu
belum
ada perumahan.
Sekarang
banyak
sekali perumahan
di
sekitar Ubung
Kaja yang
merambah
ke
pinggir-pinggir kali,
akibatnya air meluap.
Kondisi
ini menandakan
bahwa
pekembangan yang terjadi
tidak
memperhatikan kondisi
alam.
Demikian pendapat
yang disampaikan
dalam
acara Warung Global
di Radio Global FM 96,5 yang
disiarkan
secara
langsung, Selasa
(13/12) kemarin.
Acara
ini juga
dipancarluaskan
oleh Radio
Genta Bali
dan
Singaraja FM. Berikut
rangkuman
selengkapnya.
-----------------------------------------
Putu
Suena
di Baturinggit
menyatakan
bahwa
hujan siang
malam
secara logis
memang
harus banjir,
karena
hujan ini
akhirnya air
dari
gunung ke
dataran
rendah maka
kalau
ceroboh banjirlah
dia.
Kadek
Mako di
Denpasar
menilai
hujan sejak
awal
bulan ini
luar
biasa tetapi yang
paling hebat
kemarin (Senin,
12/12) walaupun
tidak
terlalu deras
tetapi
beberapa jam. Ini
adalah
tanda awal
bencana
nantinya. Terutama
di
Padangsambian. Mako
jadi
terbayang saat
tsunami, kita
lihat
warga di
Aceh
sana sampai
ke atap
rumah
dan tidak
mau
meninggalkan tempat
tinggalnya.
Kalau
di Pasar
Badung
sudah pernah
terjadi
beberapa kali. Antisipasi
perlu
dan sudah
dilakukan,
namun
kejadian Senin
lalu
tidak bisa
diprediksi.
Dicontohkan
di
depan Polsek
Ubud
menuju Tegallalang,
kalau
hujan air seperti
sungai,
solusi yang bisa
lakukan
kita buat
kotak
penampungan air yang di
atasnya
berisi besi yang
kuat. Dan
juga yang lain
tidak
terlepas dari
perilaku
kita
suka membuang
sampah
sembarangan, juga
perkebangan
tempat
pemukiman sehingga
tempat
penyerapan air sangat
terbatas
di
Denpasar.
Agung
Purnawijaya
di
Blahbatuh menjelaskan
bahwa Tri
Hita
Karana di Bali
hanya slogan
belaka,
jangan salahkan
alam
dan Tuhan.
Penduduklah yang
merusak
alam, pada
musim
kering sembarangan
membuang
sampah, got-got
tersumbat.
Kegiatan
gotong
royong pada era 80-an
sekarang
sudah
tidak berlaku
lagi,
tata ruang
kota
dilanggar, hutan-hutan
dibabat
di luarnya
rimbun
di dalamnya
gundul.
Seharusnya lebih
baik
kita mencegah.
Made Purna
di Jl.
A Yani
memohon kepada
Dinas PU
untuk
mengecek bangunan
di
sepanjang sungai
barat
Jalan A Yani,
dicek
sempadan sungainya
dan
juga saluran yang
membelah
Jl. A
Yani. Ini
perlu
lakukan karena
dia
melihat belakangan
ini
tumben airnya
sampai
naik karena
sempadannya
sudah
mengecil.
Ketut
Kasih
di Batubulan yang
mempunyai
rumah
di Jalan
Batu, Gang
Camar
mengharapkan kepada
pemerintah
Gianyar agar
gorong-gorong
dekat gang
tersebut
dibongkar
sehingga
arus
airnya bertambah
cepat
alirannya, karena
gorong-gorong
tersebut
terlalu
kecil.
Sudira
di
Gianyar menambahkan,
musibah yang
melanda Bali
di
Desember kelabu
akibat
ulah manusia
sendiri,
karena
pada tahun-tahun
dulu
rasa kegotong-royongan
masih
ada membersihkan
selokan.
Akibat
panjangnya musim
kemarau
di Denpasar
sama
sekali tidak
melakukan
gotong
royong hanya
menunggu
tindakan
pemerintah.
Padahal
pemerintah melakukan
segala
hal, tetapi
janganlah
kita
menyalahkan aparat
pemerintah,
seharusnya
masyarakat
bisa
berpikir bagaimana
di
masing-maasing banjar
mencari
penyebab banjir
karena
sampah-sampah yang dibuang
begitu
saja semisal
di
selokan-selokan. Ketika
tiba-tiba
hujan
maka akibatnya
banjir
seperti kemarin.
Sementara
itu,
Widana di
Ketewel
mengatakan masalah
abrasi
pantai yang sangat
parah
di pantai
Gumicik.
Abrasi
ini sudah
berlangsung lama.
Dia
mengharapkan kepada
pemerintah agar
membuat
pengaman arus
laut
seperti di
pantai
Sanur.
Puja
di
Bajera menginformasikan
bahwa
akibat longsor
di
daerah Pucuk,
tepatnya
di
perbatasan Meliling
dan
Bantas sehingga
arus
lalu lintas
macet
sekali.
Rai
di
Denpasar mengisahkan
bahwa
dadong-nya yang berjualan,
berasnya
banyak yang
hancur.
Dia pun bertanya,
apakah
mendapat ganti
rugi?
Mega di
Kuta mengingatkan
bahwa
sudah tradisi
setiap
bulan Desember
banyak
hujan, tetapi
kalau
tidak ada
hujan
nanti saudara-saudara
kita di
ujung
timur menjerit
karena
kekeringan. Untuk
Badung
dan Denpasar
kelebihan air
ini
adalah ulah
dari
manusia, dalam
arti
bangunan yang semestinya
tidak
dibangun tapi
dibangun,
lahan-lahan
subur
dibangun oleh
investor, sehingga
ke mana
larinya air
sekarang?
Berarti
selokan-selokan tidak
muat.
Untu ke
depan
dia berharap
dinas
terkait dan
masyarakat
kembali
melakukan gotong
royong
setiap bulan
sekali
atau dua kali
untuk
menanggulangi sampah
yang ada
dan
juga pemda agar
memperhatikan
tata
ruang karena
kalau
dibiarkan begini
maka
ketinggian air bisa
sepohon
kelapa.
Bagi
Aji
Binong, kalau
dilihat
dari topografi
di
Denpasar pada
dasarnya
secara
teknis memang
kalau
hujan seperti
kemarin
wajar-wajar saja
airnya
naik. Dia
memperhatikan
dari
Kuta ke
utara
airnya sudah
tidak
tertampung lagi
karena
di ujung
selatan
dekat Pura
Tanah
Kilap dekat
laut,
sehingga airnya
sudah
tenang. Contoh
kalau
di Padangsambian
dekat
jalan baru
itu,
itu pun nanti,
sekarang
sudah
sedikit sekali
di atas
kali yang sedang
digarap.
Sekarang
jalan
keluarnya, mulai
saat
ini ditata
oleh
Pemkot atau
instansi
terkait yang
mengurus
perizinan,
jangan
dikasih membangun
di
bawah minimal harus
naik 2 meter.
Kalau
dulu sebelum
padat
penduduk air diserap
oleh
tanah yang sekarang
menjadi
rumah. Oleh
karena
itu wajar-wajar
saja
makin padat
penduduknya
maka
banjir itu
makin
tidak teratasi
karena
semua ini
tidak
ditata sejak
awal.
Ibu
Tatik
di Kuta
mengharapkan
adanya
kepastian dan
ketegasan
izin,
karena orang-orang
yang bikin
rumah
misalnya IMB belum
datang
tapi sudah
menulis
sendiri seperti
tameng.
Juga rumah-rumah
tersebut
memiliki
aliran air,
karena
banyak rumah
mewah
di daerah
Kerobokan
tetapi
ke mana
airnya
mengalir?
Kak
Batu di
Ubung
Kaja menjelaskan,
setelah
diselusuri bahwa
banjir yang
terjadi
di Kota Denpasar
akibat
kesalahan kita
sendiri
karena yang kena
banjir
banyak yang di
pinggir kali.
Dulu
mungkin mengalami
banjir
tetapi tidak
ada
perumahan. Tetapi
sekarang
banyak
sekali perumahan
di
sekitar Ubung
Kaja yang
merambah
ke
pinggir-pinggir kali
sehingga air di Dam
Merta
Gangga tidak
menerima,
akibatnya air
meluap
ke atas.
Kejadian
ini
sangat memprihatinkan.
Melihat
kondisi ini
menandakan
bahwa
pekembangan tidak
memperhatikan
kondisi
alam. Kalau
tahun 80-an
di
lokasi perumahan
itu
adalah sawah
atau
juga teba.
*
panca