kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 1 Desember 2005

 Properti


Ketika Onggokan "Sampah" Itu "Menjerat" Rasa

Di mata orang awam, onggokan akar-akar pohon boleh jadi tidak ada nilainya sama sekali. Makanya, sah-sah saja jika organ penghisap unsur hara pada tumbuhan ini dicampakkan begitu saja ke tempat pembuangan sampah. Namun, tidak semua orang "menistakan" kehadiran akar-akar pohon yang tua, kering dan mungkin nyaris lapuk itu sebagai pengganggu pemandangan, sehingga harus disingkirkan jauh-jauh. Dengan kepekaan cipta, rasa dan karsa yang dimilikinya, seorang seniman mampu mengangkat "martabat" akar-akar pohon itu menjadi karya seni patung nan memukau, artistik, eksotis sekaligus eksklusif dengan harga selangit. Tempatnya pun tak lagi di keranjang sampah, namun sudah menjelma jadi penghias ruangan di rumah-rumah mewah kaum berduit, hotel-hotel berbintang dan tempat-tempat bergengsi lainnya. 

========================================================= 

Aktivitas memuliakan "martabat" akar-akar pohon itulah yang ditekuni dengan intensif oleh Ir. I Made Budiasa (42) sejak belasan tahun lampau. Lewat sentuhan tangan terampil krama Banjar Teges Yangloni, Desa Peliatan, Ubud ini, akar-akar pohon yang semula hanya dihargai setara kayu bakar itu berubah wujud jadi patung-patung artistik dan berkarakter kuat. Aliran yang diusung pun beragam.

Mulai dari patung yang realis, surealisme hingga abstrak. Juga teramat banyak ragam pilihan size, mulai yang berukuran mini atau panjang dan tingginya hanya belasan sentimeter, puluhan sentimeter, satu meter hingga ukuran "raksasa" mencapai lima meteran. Dengan pilihan yang beragam ini, konsumen diberikan keleluasaan untuk menjatuhkan pilihan. Tentu saja, pilihan konsumen itu tetap harus diselaraskan dengan luas ruangan yang disediakan untuk memajang patung itu, konsep arsitektur maupun interior ruangan.

"Saya memang menciptakan patung-patung akar dengan berbagai aliran dan ukuran untuk memberikan alternatif pilihan yang beragam kepada konsumen. Tidak semua konsumen suka patung yang bernuansa realis, tetapi banyak juga yang fanatik dengan karya-karya surealisme bahkan abstrak. Sebagai seorang pekerja seni yang ingin karyanya dinikmati banyak orang, saya ingin memuaskan konsumen dari berbagai kalangan tersebut. Dalam berkarya, saya sangat menghargai selera konsumen tanpa mengesampingkan idealisme yang saya miliki," papar bapak dua orang putra dan dua orang putri ini kepada Bali Post, Rabu (30/11) kemarin.

Menurut Budiasa yang masih menjabat Kepala Desa Peliatan, Ubud ini, sampai saat ini eksistensi patung sebagai elemen penghias ruangan tetap tidak tergoyahkan. Tidak lekang di makan zaman. Namun, sifatnya yang evergreen itu tidak bisa dijadikan dalih pembenar bagi seorang pematung untuk stagnan dalam berkreativitas. Eksplorasi dan inovasi-inovasi baru dalam berkreativitas wajib ditumbuh-kembangkan jika tidak ingin eksistensi patung tergilas.

Keharusan itu juga berlaku untuk patung-patung akar. Ketika masyarakat punya kecenderungan membangun rumah di atas lahan yang luasnya terbatas karena terganjal harga tanah yang tinggi, maka kreator patung akar juga wajib mengikuti kecenderungan itu dengan menciptakan karya-karya yang berukuran minimalis. Dengan begitu, patung-patung akar itu tetap matching dipajang di dalam ruangan yang sempit. "Dalam berkarya, saya tidak saklek dengan size yang besar saja. Patung-patung akar minimalis tetap bisa memiliki kewibawaan dan karakter yang kuat jika ditempatkan di ruangan yang sesuai," tegasnya.

* w. sumatika

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)