Ketika
Onggokan "Sampah"
Itu "Menjerat"
Rasa
Di
mata
orang awam,
onggokan
akar-akar
pohon
boleh jadi
tidak
ada nilainya
sama
sekali.
Makanya,
sah-sah
saja jika organ
penghisap
unsur
hara pada
tumbuhan
ini
dicampakkan begitu
saja ke
tempat
pembuangan sampah.
Namun,
tidak
semua orang "menistakan"
kehadiran
akar-akar
pohon yang
tua,
kering dan
mungkin
nyaris lapuk
itu
sebagai pengganggu
pemandangan,
sehingga
harus
disingkirkan jauh-jauh.
Dengan
kepekaan cipta,
rasa
dan karsa yang
dimilikinya,
seorang
seniman mampu
mengangkat "martabat"
akar-akar
pohon
itu menjadi
karya
seni patung
nan
memukau, artistik,
eksotis
sekaligus eksklusif
dengan
harga selangit.
Tempatnya
pun tak
lagi di
keranjang
sampah,
namun sudah
menjelma
jadi
penghias ruangan
di
rumah-rumah mewah
kaum
berduit, hotel-hotel
berbintang dan
tempat-tempat
bergengsi
lainnya.
=========================================================
Aktivitas
memuliakan "martabat"
akar-akar
pohon
itulah yang ditekuni
dengan
intensif oleh Ir.
I Made Budiasa
(42) sejak
belasan
tahun lampau.
Lewat
sentuhan
tangan
terampil krama
Banjar
Teges Yangloni,
Desa
Peliatan, Ubud
ini,
akar-akar pohon yang
semula
hanya dihargai
setara
kayu bakar
itu
berubah wujud
jadi
patung-patung artistik
dan
berkarakter kuat.
Aliran
yang diusung pun
beragam.
Mulai
dari
patung yang realis,
surealisme
hingga
abstrak.
Juga
teramat banyak
ragam
pilihan size, mulai
yang berukuran mini
atau
panjang dan
tingginya
hanya
belasan sentimeter,
puluhan
sentimeter, satu
meter hingga
ukuran "raksasa"
mencapai
lima
meteran.
Dengan
pilihan yang
beragam
ini, konsumen
diberikan
keleluasaan
untuk
menjatuhkan pilihan.
Tentu
saja,
pilihan konsumen
itu
tetap harus
diselaraskan
dengan
luas ruangan yang
disediakan
untuk
memajang patung
itu,
konsep arsitektur
maupun interior
ruangan.
"Saya
memang
menciptakan patung-patung
akar
dengan berbagai
aliran
dan ukuran
untuk
memberikan alternatif
pilihan yang
beragam
kepada konsumen.
Tidak
semua
konsumen suka
patung yang
bernuansa
realis,
tetapi banyak
juga yang
fanatik
dengan karya-karya
surealisme
bahkan
abstrak.
Sebagai
seorang
pekerja seni yang
ingin
karyanya dinikmati
banyak
orang, saya
ingin
memuaskan konsumen
dari
berbagai kalangan
tersebut.
Dalam
berkarya,
saya
sangat menghargai
selera
konsumen tanpa
mengesampingkan
idealisme yang
saya
miliki," papar
bapak
dua orang
putra
dan dua
orang
putri ini
kepada Bali Post,
Rabu (30/11)
kemarin.
Menurut
Budiasa yang
masih
menjabat Kepala
Desa
Peliatan, Ubud
ini,
sampai saat
ini
eksistensi patung
sebagai
elemen penghias
ruangan
tetap tidak
tergoyahkan.
Tidak
lekang
di makan
zaman.
Namun,
sifatnya yang evergreen
itu
tidak bisa
dijadikan
dalih
pembenar bagi
seorang
pematung untuk
stagnan
dalam berkreativitas.
Eksplorasi
dan
inovasi-inovasi baru
dalam
berkreativitas wajib
ditumbuh-kembangkan
jika
tidak ingin
eksistensi
patung
tergilas.
Keharusan
itu
juga berlaku
untuk
patung-patung akar.
Ketika
masyarakat
punya
kecenderungan membangun
rumah
di atas
lahan yang
luasnya
terbatas karena
terganjal
harga
tanah yang tinggi,
maka
kreator patung
akar
juga wajib
mengikuti
kecenderungan
itu
dengan menciptakan
karya-karya yang
berukuran
minimalis.
Dengan
begitu,
patung-patung akar
itu
tetap matching dipajang
di
dalam ruangan yang
sempit.
"Dalam
berkarya,
saya
tidak saklek
dengan size yang
besar
saja.
Patung-patung
akar
minimalis tetap
bisa
memiliki kewibawaan
dan
karakter yang kuat
jika
ditempatkan di
ruangan yang
sesuai,"
tegasnya.
*
w.
sumatika