Ekowisata
Sambangan.....
Libatkan
Petani,
Kembangkan Pertanian
Organik
Keunggulan
pariwisata
Buleleng yang
spesifik,
mengandalkan
harmoni
dengan alam
rupanya
sangat disadari
para
pelaku pariwisata
di Bali
Utara ini.
Tak
ayal, pengembangan
pariwisata
kian
gencar dilakukan
Pemkab
Buleleng dan
masyarakat.
Pariwisata
Buleleng
tidak
hanya berkutat
di
kawasan Lovina,
tapi
mulai dikembangkan
di
wilayah barat
dan
timur sehingga
terjadi
keseimbangan dalam
pengelolaannya.
Komponen
pariwisata
Bumi
Panji Sakti
ini
sangat tahu
daerahnya
memiliki
potensi
di bidang
kelautan,
pantai yang
indah,
perkebunan serta
pertanian.
Kini,
wilayah
di Buleleng yang
mulai
dilirik untuk
dikembangkan
dengan
konsep ekowisata
(ecotourism) adalah
Kecamatan
Sukasada.
Kawasan
ini memiliki
banyak
potensi alam yang
indah.
Didukung udara
segar,
membuat betah
para
wisatawan untuk
menyandarkan
kepenatan.
Sebelumnya air
terjun
Gitgit menjadi
salah
satu obyek
wisata yang
sudah
berkembang di
Sukasada,
disusul
Sambangan. Saat
ini
mulai ada
pemikiran
melakukan
penataan
obyek
pariwisata yang lebih
terpadu
di 6 desa yang
ada di
wilayah
berhawa sejuk
itu,
masing-masing Desa
Sambangan,
Gitgit,
Wanagiri, Ambengan,
Panji
dan Sangket.
Satu
konsep yang
digulirkan,
melibatkan
peran
masyarakat petani
secara
lebih besar
untuk
pengembangan pariwisata.
Seperti
diungkapkan Made Teja,
anggota
Komisi C DPRD Buleleng
yang juga
pelaku
pariwisata di
kawasan
Sukasada. Menurutnya
ke-enam
desa potensial
itu
dikemas dalam
Buleleng Tours Attraction
dengan
sentral tracking di
Desa
Sambangan yang memiliki
7 air terjun
bertingkat.
Tanpa
mengabaikan keserasian
dengan
lingkungan di
sekitarnya, program yang
disajikan
bagi
para wisatawan
ini
dilengkapi juga
adanya secret garden.
Isinya,
tanaman langka
atau yang
tidak
umum dijumpai.
Terutama,
tanaman yang
berfungsi
sebagai
obat. Wisatawan
dapat
menikmati minuman
yang menyegarkan
badan
atau yang berfungsi
sebagai
obat dari
kekayaan
tanaman
obat di
sana.
Teja
menambahkan,
pengembangan
pariwisata
berwawasan
lingkungan
seperti yang
telah
diterapkan di
Sambangan
memerlukan
dukungan
semua
pihak. "Jangan
sampai
keberadaan obyek
pariwisata
dan
sarana penunjangnya
merusak
ekosistem alam.
Untuk
itu gerakan
pemeliharaan
alam
dan penghijauan
harus
terus diadakan,"
ujarnya.
Dia
berpendapat,
masyarakat
bisa
memanfaatkan tanah
yang belum
dikelola
untuk
pertanian. Misalnya
dengan
menanam tanaman
tumpangsari.
Mengenai
pembangunan
sarana
penunjang dan
akomodasi,
dia
berharap pemerintah
bisa
memberi perhatian
serius.
Misalnya membuat
fasilitas toilet
dan
penataan
vila
atau
penginapan bagi
para
wisatawan dengan
tetap
mempertahankan konsep
rumah
tradisional setempat.
Kepala
Desa
Sambangan Ketut
Asta
Darmadi mengatakan
perlunya
mengembangkan
pariwisata
berbasis
pertanian
seperti yang
telah
berjalan di
wilayah
Desa Sambangan,
Sukasada,
Buleleng.
Sejak
pengembangan Sambangan
sebagai
obyek pariwisata
sekitar
dua tahun
lalu,
pihaknya menerapkan
pertanian
organik
di desa
setempat
dan
sudah melakukan
panen
sebanyak 2 kali pada
2004 lalu.
Untuk
pertanian organik
itu,
dia bersama
masyarakat
setempat
mencoba
menanam padi.
Hasilnya,
jauh
lebih bagus
dari
sistem pertanian
sebelumnya yang
menggunakan
pupuk
dari bahan
kimia.
Luas lahan
pertanian
di
Sambangan yang sudah
ditanami
padi
lokal Bali dengan
sistem
organik itu 1,6
hektar.
Menurutnya,
banyak
manfaat diperoleh
dari
pengembangan pertanian
organik
ini. Selain
biaya
produksi bisa
lebih
rendah, hasil
penjualan
padi
juga lebih
tinggi.
Untuk mengimbangi
padi,
pihaknya juga
melakukan
penanaman
palawija
seperti
kedelai dan
kacang
hijau. "Bila program
ini
efektif terus,
kami
akan bekerjasama
dengan
subak," ujarnya.
Ia
menambahkan,
pariwisata yang
melibatkan
peran
petani dalam program
pertanian
organik ---sebagai
obyek
pariwisata--- bisa
memberi
nilai tambah
bagi
petani itu
sendiri.
Tujuannya
juga agar
petani
tetap memelihara
tradisi
bertani dan
tidak
meninggalkannya. Juga
memberi
pengalaman baru
kepada
para wisatawan.
Wisatawan
bisa
berwisata sambil
melihat
secara langsung
cara
bertani, memlihara
kehidupan
dan
tradisi agraris.
Hanya
saja, program pertanian
organik
ini tersangkut
kendala
ketersediaan pupuk.
Selama
ini pihaknya
mempergunakan
kotoran
sapi sebagai
pupuk.
Tapi pihaknya
baru
memiliki 4 sapi yang
bisa
dimanfaatkan untuk
memenuhi
kebutuhan
akan
pupuk tersebut.
Untuk
itu masyarakat
desa
setempat mulai
mengintensifkan
pemeliharaan
ternak.
Menurutnya,
saat
ini untuk
mengatasi
permasalahan modal,
pihaknya
melakukan
kerjasama
dengan
wisatawan asing
asal Israel
dan
Amerika untuk
mengembangkan
pertanian
di
Sambangan. Itupun
kalau
para petani
setempat
berminat
meningkatkan
kapasitas
lahan
pertanian. "Pokoknya,
kami
akan terus
berupaya
melibatkan
secara
penuh peran
petani agar
bersama-sama
dapat
menikmati hasil
pariwisata,"
tandasnya.
(ari)