kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 1 Desember 2005

 Pariwisata


Ekowisata
Sambangan.....
Libatkan
Petani, Kembangkan Pertanian Organik

Keunggulan pariwisata Buleleng yang spesifik, mengandalkan harmoni dengan alam rupanya sangat disadari para pelaku pariwisata di Bali Utara ini. Tak ayal, pengembangan pariwisata kian gencar dilakukan Pemkab Buleleng dan masyarakat. Pariwisata Buleleng tidak hanya berkutat di kawasan Lovina, tapi mulai dikembangkan di wilayah barat dan timur sehingga terjadi keseimbangan dalam pengelolaannya. Komponen pariwisata Bumi Panji Sakti ini sangat tahu daerahnya memiliki potensi di bidang kelautan, pantai yang indah, perkebunan serta pertanian.

Kini, wilayah di Buleleng yang mulai dilirik untuk dikembangkan dengan konsep ekowisata (ecotourism) adalah Kecamatan Sukasada. Kawasan ini memiliki banyak potensi alam yang indah. Didukung udara segar, membuat betah para wisatawan untuk menyandarkan kepenatan. Sebelumnya air terjun Gitgit menjadi salah satu obyek wisata yang sudah berkembang di Sukasada, disusul Sambangan. Saat ini mulai ada pemikiran melakukan penataan obyek pariwisata yang lebih terpadu di 6 desa  yang ada di wilayah berhawa sejuk itu, masing-masing Desa Sambangan, Gitgit, Wanagiri, Ambengan, Panji dan Sangket.

Satu konsep yang digulirkan, melibatkan peran masyarakat petani secara lebih besar untuk pengembangan pariwisata. Seperti diungkapkan Made Teja, anggota Komisi C DPRD Buleleng yang juga pelaku pariwisata di kawasan Sukasada. Menurutnya ke-enam desa potensial itu dikemas dalam Buleleng Tours Attraction dengan sentral tracking di Desa Sambangan yang memiliki 7 air terjun bertingkat. Tanpa mengabaikan keserasian dengan lingkungan di sekitarnya, program yang disajikan bagi para wisatawan ini dilengkapi juga adanya secret garden. Isinya, tanaman langka atau yang tidak umum dijumpai. Terutama, tanaman yang berfungsi sebagai obat. Wisatawan dapat menikmati minuman yang menyegarkan badan atau yang berfungsi sebagai obat dari kekayaan tanaman obat di sana.

Teja menambahkan, pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan seperti yang telah diterapkan di Sambangan  memerlukan dukungan semua pihak. "Jangan sampai keberadaan obyek pariwisata dan sarana penunjangnya merusak ekosistem alam. Untuk itu gerakan pemeliharaan alam dan penghijauan harus terus diadakan," ujarnya.

Dia berpendapat, masyarakat bisa memanfaatkan tanah yang belum dikelola untuk pertanian. Misalnya dengan menanam tanaman tumpangsari. Mengenai pembangunan sarana penunjang dan akomodasi, dia berharap pemerintah bisa memberi perhatian serius. Misalnya membuat fasilitas toilet dan penataan vila atau penginapan bagi para wisatawan dengan tetap mempertahankan konsep rumah tradisional setempat.

Kepala Desa Sambangan Ketut Asta Darmadi mengatakan perlunya mengembangkan pariwisata berbasis pertanian seperti yang telah berjalan di wilayah Desa Sambangan, Sukasada, Buleleng. Sejak pengembangan Sambangan sebagai obyek pariwisata sekitar dua tahun lalu, pihaknya menerapkan pertanian organik di desa setempat dan sudah melakukan panen sebanyak 2 kali pada 2004 lalu. Untuk pertanian organik itu, dia bersama masyarakat setempat mencoba menanam padi. Hasilnya, jauh lebih bagus dari sistem pertanian sebelumnya yang menggunakan pupuk dari bahan kimia. Luas lahan pertanian di Sambangan yang sudah ditanami padi lokal Bali dengan sistem organik itu 1,6 hektar.

Menurutnya, banyak manfaat diperoleh dari pengembangan pertanian organik ini. Selain biaya produksi bisa lebih rendah, hasil penjualan padi juga lebih tinggi. Untuk mengimbangi padi, pihaknya juga melakukan penanaman palawija seperti kedelai dan kacang hijau. "Bila program ini efektif terus, kami akan bekerjasama dengan subak," ujarnya.

Ia menambahkan, pariwisata yang melibatkan peran petani dalam program pertanian organik ---sebagai obyek pariwisata--- bisa memberi nilai tambah bagi petani itu sendiri. Tujuannya juga agar petani tetap memelihara tradisi bertani dan tidak meninggalkannya. Juga memberi pengalaman baru kepada para wisatawan. Wisatawan bisa berwisata sambil melihat secara langsung cara bertani, memlihara kehidupan dan tradisi agraris. Hanya saja, program pertanian organik ini tersangkut kendala ketersediaan pupuk. Selama ini pihaknya mempergunakan kotoran sapi sebagai pupuk. Tapi pihaknya baru memiliki 4 sapi yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan akan pupuk tersebut. Untuk itu masyarakat desa setempat mulai mengintensifkan pemeliharaan ternak.

Menurutnya, saat ini untuk mengatasi permasalahan modal, pihaknya melakukan kerjasama dengan wisatawan asing asal Israel dan Amerika untuk mengembangkan pertanian di Sambangan. Itupun kalau para petani setempat berminat meningkatkan kapasitas lahan pertanian. "Pokoknya, kami akan terus berupaya melibatkan secara penuh peran petani agar bersama-sama dapat menikmati hasil pariwisata," tandasnya. (ari)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)