kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 1 Desember 2005

 Nusatenggara


Menhub
Hatta Rajasa:
Pembangunan
Bandara merupakan Keharusan

Praya (Suara NTB)-
Menteri
Perhubungan (Menhub) Republik Indonesia, Ir. Hatta Rajasa mengemukakan, pembangunan bandara internasional merupakan keharusan. Ini dilihat dari tingginya mobilitas warga menggunakan jasa angkutan penerbangan. Itu dikemukakan Menhub dalam acara ground breaking pembangunan bandara internasional Lombok di lokasi pembangunan bandara, Tanak Awu Lombok Tengah, Rabu (30/11) kemarin.

Dikatakan, sejak 2001 masyarakat yang menggunakan jasa angkutan udara 9,6 juta. Tahun 2002, jumlahnya bertambah menjadi 12 juta, tahun 2004 menjadi 24 juta. Bahkan, hingga akhir 2005, jumlah penumpang yang menggunakan angkutan udara mendekati 30 juta lebih.

Terlebih Bandara Internasional Soekarno Hatta sekarang ini dikenal sebagai bandara terpadat tercepat pertumbuhannya nomor dua di dunia. Belum lagi bandara-bandara lain di Indonesia, telah mengalami pertumbuhan cepat dan arus lalu lintasnya cukup padat.

Mengatasi tingginya pertumbuhan penumpang tiap tahunnya, ungkap mantan Menristek ini, dengan membangun bandara-bandara baru yang bisa menjadi alternatif pengalihan penerbangan. Sasarannya, kenyamanan bepergian menggunakan jasa angkutan udara tetap dijaga. Pun, adanya obstacle atau faktor lain yang menghambat manuver pesawat di bandara menjadi pertimbangan pihak pemerintah untuk mencari tempat lain yang lebih layak sebagai bandara.

''Seperti Bandara Selaparang. Pengembangannya sulit kita lakukan, karena terbatasnya lahan, kemudian adanya obstacle atau menghalangi manuver pesawat khususnya berbadan lebar. Tidak hanya itu, pertumbuhan penumpangnya yang meningkat 900 ribu penumpang/tahun harus dicari lokasi pembangunan bandara baru,'' ungkapnya. ''Jika tidak segera diantisipasi sejak awal, nanti Menteri Perhubungan yang disalahkan, karena tidak memberikan izin pembangunan lokasi baru,'' tambahnya.

Alasan inilah yang menyebabkan pemerintah atau PT Angkasa Pura ingin segera merealisasikan pembangunan bandara bertaraf internasional di Lombok Tengah, karena pemerintah telah memperhitungkan berbagai kemungkinan yang muncul kemudian -- baik yang sifatnya teknis atau non teknis. ''Secara teknis, bandara yang didarati 20 kali lebih pesawat per hari memerlukan antisipasi pembangunan bandara lain yang lebih refresentatif lagi. Jika tidak segera diantisipasi akan mengalami kendala teknis,'' ucapnya.

Menyinggung masalah pembiayaan pembangunan bandara bertaraf internasional, kata Hatta, sepenuhnya urusan dari pihak PT Angkasa Pura I. Di mana dalam Summit Metting yang khusus membahas masalah pembangunan infrastruktur di Indonesia, sistem pembangunan bandara di Indonesia, khususnya di Lombok-NTB dan Makassar (Sulawesi Selatan) bersifat private partnership. Dalam arti, pihak Angkasa Pura bisa mengembangkan hal tersebut, entah dengan cara meruislag bandara lama atau mengundang investor sebagai sumber pembiayaan pembangunan bandara. ''Kalau dana dari APBN bersifat akses, atau ada alokasi dana yang dipergunakan untuk membangun sarana jalan, apakah itu jalan tol atau lainnya,'' demikian Hatta.

Sementara, Dirut PT Angkasa Pura I, Bambang Darwoto menjelaskan, sumber dana yang akan dipergunakan pihaknya dalam membangun bandara internasional di Loteng berasal dari sistem ruilslag bandara lama terhadap investor. Apalagi, Bandara Selaparang terletak di jantung Kota Mataram, setidaknya harga tanahnya cukup tinggi. Paling tidak, jumlah dana yang bisa diraih kurang lebih Rp 500 milyar dari total biaya pembangunan Rp 625 milyar. ''Sisanya bisa melalui proses tender terhadap investor yang berminat menanamkan investasinya di bandara,'' ungkapnya, seraya mengakui ada beberapa investor asal Malaysia dan Singapura yang berminat ikut tender, tetapi tidak bersedia mengungkap nama perusahaan bersangkutan.

Gubernur NTB, Drs. H. L. Serinata dalam kesempatan tersebut menjelaskan pembangunan bandara internasional di Loteng memberikan manfaat besar bagi perkembangan daerah NTB ke depan. Yang jelas, keberadaan bandara internasional akan mampu menghidupkan sektor dan bidang lain seperti, pariwisata, industri kerajinan kecil dan lainnya. ''Jadi, seluruh masyarakat NTB harus mendukung terwujudnya pembangunan bandara internasional ini,'' ujarnya penuh harap.

Setelah membuka ground breaking di lokasi pembangunan bandara, sekitar 150 meter dari lokasi peresmian, Menteri Perhubungan bersama Sekretaris Meneng BUMN, Said Didu, meletakkan batu pertama Masjid Nurul Ibad. Kemudian menteri bersama rombongan langsung menuju pendopo Bupati Lombok Tengah untuk mendengar penjelasan langsung dari Dirut Angkasa Pura I, Bambang Darwoto mengenai master plan pembangunan bandara internasional Lombok Tengah. (ham)

Klik di Sini 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)