Menhub
Hatta
Rajasa:
Pembangunan
Bandara
merupakan Keharusan
Praya
(Suara NTB)-
Menteri
Perhubungan (Menhub)
Republik Indonesia, Ir.
Hatta
Rajasa mengemukakan,
pembangunan
bandara
internasional merupakan
keharusan.
Ini
dilihat
dari tingginya
mobilitas
warga
menggunakan jasa
angkutan
penerbangan.
Itu
dikemukakan Menhub
dalam
acara ground breaking
pembangunan bandara
internasional
Lombok
di
lokasi pembangunan
bandara,
Tanak
Awu Lombok
Tengah,
Rabu (30/11) kemarin.
Dikatakan,
sejak 2001
masyarakat yang
menggunakan
jasa
angkutan udara 9,6
juta.
Tahun 2002, jumlahnya
bertambah
menjadi 12
juta,
tahun 2004 menjadi 24
juta.
Bahkan,
hingga
akhir 2005, jumlah
penumpang yang
menggunakan
angkutan
udara
mendekati 30 juta
lebih.
Terlebih
Bandara
Internasional Soekarno
Hatta
sekarang ini
dikenal
sebagai bandara
terpadat
tercepat
pertumbuhannya
nomor
dua di
dunia.
Belum
lagi bandara-bandara
lain di
Indonesia, telah
mengalami
pertumbuhan
cepat
dan arus
lalu
lintasnya cukup
padat.
Mengatasi
tingginya
pertumbuhan
penumpang
tiap
tahunnya, ungkap
mantan
Menristek ini,
dengan
membangun bandara-bandara
baru yang
bisa
menjadi alternatif
pengalihan
penerbangan.
Sasarannya,
kenyamanan
bepergian
menggunakan
jasa
angkutan udara
tetap
dijaga. Pun, adanya
obstacle atau
faktor lain yang
menghambat
manuver
pesawat di
bandara
menjadi pertimbangan
pihak
pemerintah untuk
mencari
tempat lain yang lebih
layak
sebagai bandara.
''Seperti
Bandara
Selaparang.
Pengembangannya
sulit
kita lakukan,
karena
terbatasnya lahan,
kemudian
adanya obstacle
atau
menghalangi manuver
pesawat
khususnya berbadan
lebar.
Tidak
hanya
itu, pertumbuhan
penumpangnya yang
meningkat 900
ribu
penumpang/tahun harus
dicari
lokasi pembangunan
bandara
baru,'' ungkapnya.
''Jika
tidak
segera diantisipasi
sejak
awal, nanti
Menteri
Perhubungan yang disalahkan,
karena
tidak memberikan
izin
pembangunan lokasi
baru,''
tambahnya.
Alasan
inilah yang
menyebabkan
pemerintah
atau PT
Angkasa Pura
ingin
segera merealisasikan
pembangunan
bandara
bertaraf internasional
di
Lombok Tengah,
karena
pemerintah telah
memperhitungkan
berbagai
kemungkinan yang
muncul
kemudian -- baik yang
sifatnya
teknis
atau non teknis.
''Secara
teknis,
bandara yang didarati
20 kali lebih
pesawat per
hari
memerlukan antisipasi
pembangunan
bandara lain yang
lebih
refresentatif lagi.
Jika
tidak segera
diantisipasi
akan
mengalami
kendala
teknis,'' ucapnya.
Menyinggung
masalah
pembiayaan pembangunan
bandara
bertaraf internasional,
kata
Hatta, sepenuhnya
urusan
dari pihak PT
Angkasa
Pura I. Di
mana
dalam Summit Metting
yang khusus
membahas
masalah
pembangunan infrastruktur
di Indonesia,
sistem
pembangunan bandara
di Indonesia,
khususnya
di
Lombok-NTB dan
Makassar (Sulawesi
Selatan)
bersifat private
partnership. Dalam
arti,
pihak Angkasa
Pura
bisa mengembangkan
hal
tersebut, entah
dengan
cara
meruislag
bandara lama
atau
mengundang investor sebagai
sumber
pembiayaan pembangunan
bandara. ''Kalau
dana
dari APBN
bersifat
akses,
atau ada
alokasi
dana yang dipergunakan
untuk
membangun sarana
jalan,
apakah itu
jalan
tol atau
lainnya,''
demikian
Hatta.
Sementara,
Dirut PT
Angkasa
Pura I, Bambang
Darwoto
menjelaskan, sumber
dana
yang akan
dipergunakan
pihaknya
dalam
membangun bandara
internasional
di
Loteng berasal
dari
sistem ruilslag
bandara lama
terhadap investor.
Apalagi,
Bandara
Selaparang terletak
di
jantung Kota Mataram,
setidaknya
harga
tanahnya cukup
tinggi. Paling
tidak,
jumlah
dana yang bisa
diraih
kurang lebih
Rp 500
milyar dari total
biaya
pembangunan Rp 625
milyar. ''Sisanya
bisa
melalui proses tender
terhadap investor yang
berminat
menanamkan
investasinya
di
bandara,'' ungkapnya,
seraya
mengakui ada
beberapa investor
asal Malaysia
dan
Singapura yang berminat
ikut tender,
tetapi
tidak bersedia
mengungkap
nama
perusahaan
bersangkutan.
Gubernur
NTB, Drs. H. L. Serinata
dalam
kesempatan tersebut
menjelaskan
pembangunan
bandara
internasional di
Loteng
memberikan manfaat
besar
bagi perkembangan
daerah NTB
ke
depan. Yang jelas,
keberadaan
bandara
internasional
akan
mampu
menghidupkan sektor
dan
bidang lain seperti,
pariwisata,
industri
kerajinan
kecil
dan lainnya.
''Jadi,
seluruh
masyarakat NTB harus
mendukung
terwujudnya
pembangunan
bandara
internasional ini,''
ujarnya
penuh harap.
Setelah
membuka ground breaking
di
lokasi pembangunan
bandara,
sekitar 150 meter
dari
lokasi peresmian,
Menteri
Perhubungan bersama
Sekretaris
Meneng BUMN, Said
Didu,
meletakkan batu
pertama
Masjid Nurul
Ibad.
Kemudian
menteri
bersama rombongan
langsung
menuju
pendopo Bupati
Lombok
Tengah untuk
mendengar
penjelasan
langsung
dari
Dirut Angkasa
Pura I,
Bambang Darwoto
mengenai master plan
pembangunan
bandara
internasional Lombok
Tengah.
(ham)
Klik di Sini