Kebijakan
tak
Tepat Sasaran,Berpeluang
Timbulkan
Masalah
Jakarta (Bali Post) -
Pada
era reformasi,
sudah
sewajarnya aspirasi
masyarakat
menjadi
masukan maupun
umpan
balik dalam
setiap
proses perumusan
kebijakan
publik.
Untuk itu,
sebelum
suatu kebijakan
ditetapkan,
pemerintah
perlu
melakukan komunikasi
interaktif
kepada
masyarakat. Dengan
demikian
produk
kebijakan yang dihasilkan
benar-benar
lahir
dari suatu
proses yang
demokratis,
aspiratif,
dan
komprehensif, sehingga
masyarakat
tidak
merasa teralienasi
dalam
proses politik yang
tengah
berlangsung.
Demikian
antara lain
disampaikan
Bupati
Badung Anak
Agung
Gde Agung, S.H.
dalam
makalahnya yang bertema
''Interaksi
Pusat-Daerah
pada
Pertemuan Tingkat
Tinggi
Penyiapan Kebijakan
Strategis
di Indonesia'',
Rabu (30/11)
kemarin.
Lebih
lanjut
Gde Agung
mengatakan,
pihaknya
mengakui
bahwa
selama ini
proses
pembuatan kebijakan
publik
belum mampu
melibatkan
peran
serta seluruh
stakeholder pembangunan
secara optimal. Hal
tersebut
menimbulkan
peluang
kebijakan tidak
tepat
sasaran, sehingga
menimbulkan
permasalahan
antara
eksekutif dan
legislatif.
Meski
demikian,
proses
demokratisasi tersebut
tetap
dilakukan secara
elegan
dalam semangat
tatanan
masyarakat Indonesia yang
beradab, sehingga
tidak
menimbulkan biaya-biaya
sosial yang
merugikan. ''Ke
depan,
ruang-ruang publik
harus
mendapatkan tempat
dalam
setiap proses
perumusan
kebijakan.
Selain
itu, untuk
meningkatkan
partisipasi
publik
dalam proses
perumusan
kebijakan
tentunya
perlu
dilakukan capacity building,
baik pada
jajaran
birokrasi maupun
masyarakat,''
papar
Gde Agung
di
hadapan sejumlah
menteri
Kabinet Indonesia Bersatu,
para
pakar ekonomi
dan
lingkungan, serta
duta-duta
besar
negara sahabat.
Sejumlah
pembicara
dari
berbagai instansi
pusat
dan daerah
tampak
serius mengikuti
acara
tersebut. Tampilnya
pembicara
dari
berbagai latar
belakang
diharapkan
mampu
memberikan gambaran
mengenai
langkah-langkah yang
harus
dilakukan pemerintah,
baik di
pusat
maupun daerah,
dalam
penyiapan
kebijakan-kebijakan
strategisnya.
Tampil
sebagai
pembicara pada
sesi yang
sama
adalah Ketua DPR-RI
Agung
Laksono. Bupati
Gde
Agung merupakan
satu-satunya
bupati yang
ditunjuk
menjadi
pembicara pada
pertemuan yang
dibuka
Presiden Susilo
Bambang
Yudhoyono tersebut.
(*)