kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 1 Desember 2005

 Bali


DPRD Bali Minta ''Oleh-oleh'' dari Hanoi

Denpasar (Bali Post) -
Rapat gabungan eksekutif dengan legislatif di DPRD Bali yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Bali I.B. Suryatmaja, Rabu (30/11) kemarin dimanfaatkan oleh anggota Dewan minta ''oleh-oleh''. Kali ini anggota Komisi B, Arina Saraswati, meminta ''oleh-oleh'' dari rombongan Badjra Sandhi ke Hanoi, Vietnam. Sebelumnya anggota Komisi A meminta ''oleh-oleh'' Kadisparda Nurjaya dari kunjungannya ke Jepang dan Spanyol.

''Kami mohon oleh-oleh. Sepertinya rombongan begitu cuek saja berangkat ke Vietnam tanpa kabar dan tak ada hasil,'' tanya Arina.

Kadis Perindustrian dan Perdagangan IGN Suteja menyatakan keberangkatannya ke Hanoi sudah seizin Gubernur Bali. Ide kunjungan ke Vietnam ini datang dari Dubes RI di Vietnam yang meminta kesenian Bali dalam kaitan hari kenegaraan di negeri itu.

Atas dasar itu diproses anggarannya yakni Rp 1.036.100.000. Itupun sinergi Disperindag, Diparda dan Dinas Kebudayaan. ''Biaya sebesar itu untuk tiket pesawat dan stan pameran, selebihnya ditanggung kedutaan besar RI di sana,'' ucapnya.

Dari sejumlah produknya, tekstil Vietnam sudah diekspor ke Amerika Serikat. Sama dengan garmen Bali yang diekspor ke negeri Paman Sam. Rombongan kesenian ini berkekuatan 42 orang dilengkapi 10 pendamping dipimpin Sekda Bali Nyoman Yasa. Satu hal yang bisa dibanggakan dari sebuah negara baru ini adalah rasa nasionalisme yang tinggi. Bahkan, menurut Kadiparda Bali Nurjaya, Vietnam yang mempunyai satu objek wisata berani memproklamirkan sebagai objek teraman.

''Mereka sudah jemu berperang,'' katanya. Sayangnya tak dijelaskan berapa kunjungan wisatawan Vietnam ke Bali. Dia juga memaparkan kenapa wisatawan Jepang lebih suka ke Hawai ketimbang Bali. Hanya satu yang menyebabkan mereka tertarik Bali karena murah dan budayanya. Suteja menambahkan anggaran perjalanan dinas tahun 2006 hanya Rp 807,5 juta, sedangkan tahun 2005 Rp 1,7 milyar.

Menanggapi pertanyaan Ketua Komisi B Usdek Maharipa mengenai bukti keberhasilan promosi pariwisata ke luar negeri, Nurjaya mengakui hasil promosi tak bisa dipetik seketika dan sulit dicari buktinya. Untuk itu, mesti jelas tolok ukur indikator keberhasilan promosi tersebut.

Menanggapi fasilitas penunjang objek pariwisata yang memprihatinkan seperti WC di Goa Gajah dan palemahan Pura Besakih tak dirawat, Nurjaya mengakui pihaknya sering menerima keluhan. Namun, pihaknya sependapat perlu dibenahi infrastruktur tersebut karena penataan prasarananya belum maksimal. Soal bapak angkat dari kalangan hotel untuk membenahi WC di objek wisata, disebutkan baru 13 hotel yang berpartisipasi. (029)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)