DPRD Bali Minta ''Oleh-oleh'' dari Hanoi
Denpasar (Bali Post) -
Rapat gabungan eksekutif dengan legislatif di DPRD Bali
yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Bali I.B. Suryatmaja,
Rabu (30/11) kemarin dimanfaatkan oleh anggota Dewan
minta ''oleh-oleh''. Kali ini anggota Komisi B, Arina
Saraswati, meminta ''oleh-oleh'' dari rombongan Badjra
Sandhi ke Hanoi, Vietnam. Sebelumnya anggota Komisi A
meminta ''oleh-oleh'' Kadisparda Nurjaya dari
kunjungannya ke Jepang dan Spanyol.
''Kami mohon oleh-oleh. Sepertinya rombongan begitu cuek
saja berangkat ke Vietnam tanpa kabar dan tak ada hasil,''
tanya Arina.
Kadis Perindustrian dan Perdagangan IGN Suteja
menyatakan keberangkatannya ke Hanoi sudah seizin
Gubernur Bali. Ide kunjungan ke Vietnam ini datang dari
Dubes RI di Vietnam yang meminta kesenian Bali dalam
kaitan hari kenegaraan di negeri itu.
Atas dasar itu diproses anggarannya yakni Rp
1.036.100.000. Itupun sinergi Disperindag, Diparda dan
Dinas Kebudayaan. ''Biaya sebesar itu untuk tiket
pesawat dan stan pameran, selebihnya ditanggung kedutaan
besar RI di sana,'' ucapnya.
Dari sejumlah produknya, tekstil Vietnam sudah diekspor
ke Amerika Serikat. Sama dengan garmen Bali yang
diekspor ke negeri Paman Sam. Rombongan kesenian ini
berkekuatan 42 orang dilengkapi 10 pendamping dipimpin
Sekda Bali Nyoman Yasa. Satu hal yang bisa dibanggakan
dari sebuah negara baru ini adalah rasa nasionalisme
yang tinggi. Bahkan, menurut Kadiparda Bali Nurjaya,
Vietnam yang mempunyai satu objek wisata berani
memproklamirkan sebagai objek teraman.
''Mereka sudah jemu berperang,'' katanya. Sayangnya tak
dijelaskan berapa kunjungan wisatawan Vietnam ke Bali.
Dia juga memaparkan kenapa wisatawan Jepang lebih suka
ke Hawai ketimbang Bali. Hanya satu yang menyebabkan
mereka tertarik Bali karena murah dan budayanya. Suteja
menambahkan anggaran perjalanan dinas tahun 2006 hanya
Rp 807,5 juta, sedangkan tahun 2005 Rp 1,7 milyar.
Menanggapi pertanyaan Ketua Komisi B Usdek Maharipa
mengenai bukti keberhasilan promosi pariwisata ke luar
negeri, Nurjaya mengakui hasil promosi tak bisa dipetik
seketika dan sulit dicari buktinya. Untuk itu, mesti
jelas tolok ukur indikator keberhasilan promosi tersebut.
Menanggapi fasilitas penunjang objek pariwisata yang
memprihatinkan seperti WC di Goa Gajah dan palemahan
Pura Besakih tak dirawat, Nurjaya mengakui pihaknya
sering menerima keluhan. Namun, pihaknya sependapat
perlu dibenahi infrastruktur tersebut karena penataan
prasarananya belum maksimal. Soal bapak angkat dari
kalangan hotel untuk membenahi WC di objek wisata,
disebutkan baru 13 hotel yang berpartisipasi.
(029)