kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 1 Desember 2005

 Bali


Binaan KKB yang Sudah Menangguk Untung --
Jualan Bakso, Selamatkan Empat Anaknya

Semarapura (Bali Post) -
Kredit sebesar Rp 1 juta benar-benar memiliki arti tersendiri bagi kehidupan rumah tangga pasangan suami-istri (pasutri), Wayan Swastika (39) dan Ketut Marni (37). Paling tidak, kredit yang diperoleh dari Koperasi Krama Bali (KKB) itu sedikit demi sedikit mampu menopang kehidupan keluarga empat anak itu (satu anak angkat).

Kredit yang diperoleh sekitar dua bulan lalu itu pula telah menyelamatkan keempat anaknya. Pertama, terselamatkan dari penampungan di panti asuhan dan kedua terselamatkan dari kenyataan putus sekolah.

Ketika ditemui di rumahnya di sebuah kompleks BTN di Dawan sebelum berkeliling menjajakan bakso babi olahan sendiri, Selasa (29/11) lalu, Swastika dan Marni berkali-kali mengaku beruntung diberi kredit senilai Rp 1 juta oleh KKB. Kredit tersebut awalnya dimanfaatkan untuk membeli rombong bakso dan modal operasional. Harga rombong Rp 700 ribu. Sisanya, untuk peralatan membuat bakso dan modal pembelian bahan.

Dalam sehari, sedikitnya Rp 150 ribu biaya yang dikeluarkan. Biaya itu, untuk upah penggilingan dan pengadukan bahan bakso. Bahan utama yang digunakan ada tiga macam. Beras untuk lontong, daging babi, dan tepung. Untuk sekali jalan, masing-masing dari campuran tersebut menggunakan bahan sebanyak 1,5 kilogram. Ditambah sayur, mi, dan kerupuk.

Minat masyarakat ternyata sangat tinggi untuk makan bakso babi. ''Makanya, dagangan saya selalu habis. Keuntungan bersih yang saya dapatkan sekitar Rp 50 ribu setiap hari,'' kata Swastika yang aslinya dari Desa Pikat, Dawan itu.

Setiap hari, Swastika mulai berkeling pukul 08.00 wita. Pulang sekitar pukul 18.00 wita. Daerah mangkalnya, di sekitar penyeberangan Tri Bhuwana, Kusamba, dan Pesinggahan. Kadang-kadang sampai ke Pikat.

Masalah harga, pria yang sebelumnya bekerja sebagai tukang sampah di sekitar BTN dengan upah Rp 75.000/bulan itu mengatakan tidak mau mematok harga tinggi. ''Untuk satu porsi saya menjualnya Rp 2.000 sampai Rp 2.500. Tetapi kalau ada yang membeli dengan harga Rp 1.000, saya juga dengan senang hati melayaninya.''

Dengan keuntungan itu, pasutri yang sudah menikah selama 16 tahun itu mengatakan hal yang pertama dilakukan adalah menarik anak pertamanya, Putu Anita (15) dari panti asuhan Darma Jati yang sejak enam bulan lalu menampungnya. Selain bisa berkumpul kembali dengan keluarga, keberadaan putrinya yang saat ini duduk di kelas I SMA Negeri Dawan itu, bisa diajak untuk membantu usaha jualan bakso mereka. Apalagi, dalam waktu dekat, Marni juga akan mengikuti jejak suaminya berjualan bakso babi di Pasar Kusamba.

Diakui, kredit itu merupakan awal perubahan kehidupannya. Kalau tidak, tiga anak saya (kelas VI dan kelas III SD, dan satu lagi berusia 2 tahun) rencananya akan dititipkan di panti. ''Kalau tidak dititipkan di panti, mereka pasti putus sekolah,'' jelas alumnus PGA Denpasar itu. (kmb20)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)