Binaan
KKB yang Sudah Menangguk Untung --
Jualan Bakso, Selamatkan Empat Anaknya
Semarapura (Bali Post) -
Kredit sebesar Rp 1 juta benar-benar memiliki arti
tersendiri bagi kehidupan rumah tangga pasangan
suami-istri (pasutri), Wayan Swastika (39) dan Ketut
Marni (37). Paling tidak, kredit yang diperoleh dari
Koperasi Krama Bali (KKB) itu sedikit demi sedikit mampu
menopang kehidupan keluarga empat anak itu (satu anak
angkat).
Kredit yang diperoleh sekitar dua bulan lalu itu pula
telah menyelamatkan keempat anaknya. Pertama,
terselamatkan dari penampungan di panti asuhan dan kedua
terselamatkan dari kenyataan putus sekolah.
Ketika ditemui di rumahnya di sebuah kompleks BTN di
Dawan sebelum berkeliling menjajakan bakso babi olahan
sendiri, Selasa (29/11) lalu, Swastika dan Marni berkali-kali
mengaku beruntung diberi kredit senilai Rp 1 juta oleh
KKB. Kredit tersebut awalnya dimanfaatkan untuk membeli
rombong bakso dan modal operasional. Harga rombong Rp
700 ribu. Sisanya, untuk peralatan membuat bakso dan
modal pembelian bahan.
Dalam sehari, sedikitnya Rp 150 ribu biaya yang
dikeluarkan. Biaya itu, untuk upah penggilingan dan
pengadukan bahan bakso. Bahan utama yang digunakan ada
tiga macam. Beras untuk lontong, daging babi, dan tepung.
Untuk sekali jalan, masing-masing dari campuran tersebut
menggunakan bahan sebanyak 1,5 kilogram. Ditambah sayur,
mi, dan kerupuk.
Minat masyarakat ternyata sangat tinggi untuk makan
bakso babi. ''Makanya, dagangan saya selalu habis.
Keuntungan bersih yang saya dapatkan sekitar Rp 50 ribu
setiap hari,'' kata Swastika yang aslinya dari Desa
Pikat, Dawan itu.
Setiap hari, Swastika mulai berkeling pukul 08.00 wita.
Pulang sekitar pukul 18.00 wita. Daerah mangkalnya, di
sekitar penyeberangan Tri Bhuwana, Kusamba, dan
Pesinggahan. Kadang-kadang sampai ke Pikat.
Masalah harga, pria yang sebelumnya bekerja sebagai
tukang sampah di sekitar BTN dengan upah Rp 75.000/bulan
itu mengatakan tidak mau mematok harga tinggi. ''Untuk
satu porsi saya menjualnya Rp 2.000 sampai Rp 2.500.
Tetapi kalau ada yang membeli dengan harga Rp 1.000,
saya juga dengan senang hati melayaninya.''
Dengan keuntungan itu, pasutri yang sudah menikah selama
16 tahun itu mengatakan hal yang pertama dilakukan
adalah menarik anak pertamanya, Putu Anita (15) dari
panti asuhan Darma Jati yang sejak enam bulan lalu
menampungnya. Selain bisa berkumpul kembali dengan
keluarga, keberadaan putrinya yang saat ini duduk di
kelas I SMA Negeri Dawan itu, bisa diajak untuk membantu
usaha jualan bakso mereka. Apalagi, dalam waktu dekat,
Marni juga akan mengikuti jejak suaminya berjualan bakso
babi di Pasar Kusamba.
Diakui, kredit itu merupakan awal perubahan kehidupannya.
Kalau tidak, tiga anak saya (kelas VI dan kelas III SD,
dan satu lagi berusia 2 tahun) rencananya akan
dititipkan di panti. ''Kalau tidak dititipkan di panti,
mereka pasti putus sekolah,'' jelas alumnus PGA Denpasar
itu. (kmb20)