kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 30 Nopember 2005

 Nusatenggara


Bentrok Petani Tanak Awu-Aparat Kembali Pecah

Mataram (Suara NTB) -
Bentrok
antarpetani dan aparat Kepolisian di lokasi rencana bandara internasional di Desa Tanak Awu, Penujak, Lombok Tengah, Selasa (29/11) kemarin untuk kedua kalinya kembali pecah. Bentrokan dipicu rencana peletakan batu pertama pembangunan masjid di sekitar bandara, Rabu (30/11) hari ini. Dua menteri direncanakan akan meletakan batu pertama pembangunan masjid yang dibangun PT Angkasa Pura tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun, menyusul rencana peletakan batu pertama pembangunan masjid di sekitar lokasi bandara hari ini, instansi terkait melakukan pengurukan dengan material tanah Selasa (29/11) kemarin. Menggunakan truk, material tanah diangkut ke salah satu sudut areal yang akan dibangun bandara internasional itu.

Pengangkutan material tanah tersebut mengundang reaksi penolakan dari sebagian warga pemilik tanah di lokasi bandara. Sekitar 100 lebih petani yang sejak awal menolak rencana pembangunan bandara menggelar aksi unjuk rasa menolak rencana peletakan batu pertama pembangunan masjid. Karena tak dihiraukan, petani bahkan nekad tidur di bawah truk guna menghadang pengangkutan material untuk rencana peletakan batu pertama pembangunan masjid. Bersamaan dengan pengangkutan material ke lokasi bandara, Polres Loteng sejak dini telah melakukan langkah antisipasi. Penurunan personel secara penuh dilakukan, menyusul adanya isu akan ada reaksi dari petani yang sejak awal menolak rencana pembangunan bandara tersebut.

Menurut Kabid Humas Polda NTB AKB H.M. Basri yang dikonfirmasi Selasa (29/11) malam kemarin, selain menurunkan personel dari Polres Loteng, Polda NTB juga mem-back up pengamanan tersebut. ''Polda NTB telah menurunkan satu peleton personel Sabhara dan satu peleton Brimob lengkap dengan kendaraan taktisnya (rantis) ke Loteng,'' jelasnya.

Saat penurunan tanah dilakukan, warga terus menghadang dan berusaha menghentikan truk-truk pengangkut tanah. Polisi di bawah komando Kapolres Loteng AKBP Drs. Ruslan yang melihat kejadian itu, berusaha membubarkan petani. Upaya pendekatan secara persuasif dilakukan, namun warga tetap bertahan sambil berteriak tidak mau menyingkir. ''Tembak saja kami,'' teriak warga yang sebagian di antaranya ibu-ibu.

 

Diangkut Paksa

 

Karena tetap bertahan, polisi akhirnya menghalau petani dengan menyemprotkan water canon. Semprotan air itu tak membuat mereka goyah dan meninggalkan tempat itu. Petani tetap bertahan, sampai akhirnya beberapa di antaranya terpaksa diangkut secara paksa ke luar dari lokasi rencana peletakan batu pertama pembangunan masjid itu.

Kendati diangkut paksa, petani lainnya masih tetap bertahan di lokasi tersebut. Langkah terakhir yang dilakukan, polisi terpaksa meletupkan tembakan peringatan hingga beberapa kali ke udara untuk mengusir warga agar ke luar dari areal bandara. Suara tembakan membuat situasi makin mencekam. Petani berhamburan lari tunggang langgang meninggalkan lokasi bandara.

Sementara menurut Kabid Humas Polda NTB, situasi keamanan di lokasi rencana pembangunan bandara berangsur-angsur kondusif. Kendati demikian dua peleton personel Brimob dan Shabara yang diterjunkan ke lokasi hingga Selasa malam masih tetap disiagakan. (049)

Klik di Sini 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)